Di tengah gejolak politik Astonesia, seorang aktivis mempertaruhkan kebebasannya demi perubahan. Sayang kenyataan tak selalu berbanding lurus dengan harapan.
Ilustrasi percakapan dua orang di kafe — pexels.com
Alkais bergegas kembali menuju area gedung parlemen. Namun, pemandangan yang ia lihat sudah jauh dari kata kondusif. Gerombolan massa telah merobohkan pagar gedung. Entah atas perintah siapa, sebagian mulai menjarah toko-toko di sekitar gedung. Sementara itu, demonstran lain membakar lebih banyak ban mobil sebagai upaya barikade. Lalu dari sayap kiri gedung, kembang api mulai dinyalakan.
DUAR!
DUAR!
DUAR!
Ilustrasi demonstrasi — pexels.com
Aparat yang menganggap tindakan itu sebagai sebuah serangan, kontan melemparkan gas air mata untuk membubarkan massa. Kombinasi asap itu menciptakan sensasi perih dan jarak pandang yang sangat terbatas. Situasi makin menyiksa karena suhu udara dingin yang ekstrim. Dalam hitungan detik, para warga langsung berdesakan dan melarikan diri. Keadaan makin diperburuk oleh kondisi jalanan yang licin. Banyak warga terpeleset dan berakhir terinjak-injak oleh massa yang lain.
“MUNDUR!”
Aparat menyalakan sirine dan memberikan pengumuman lewat pengeras suara.
Di saat orang berlari ke luar, Alkais justru nekat maju ke area gerbang. Di sela-sela kerumunan, ia menemukan HT yang dititipkan pada Luka terjatuh. Buru-buru pria itu memungutnya.
Lalu tanpa disadari, dua orang anggota aparat yang sedang menyamar langsung membekuk lengannya dari belakang. Sementara itu, polisi anti huru-hara merangsek maju membawa tameng besar. Dalam sekejap, Alkais tak berkutik, kedua tangannya diborgol, dan ia diseret ke dalam rantis.
Mobil tersebut melaju kencang, membelah jalanan kota menuju markas kepolisian. Sesampainya di markas, seluruh barang pribadi Alkais disita, termasuk pisau kecil yang selalu ia kantongi di sakunya. Pria itu sontak bersikap defensif saat polisi melakukan interogasi.
“Sejauh ini total korban jiwa mencapai puluhan orang. Para warga sipil terinjak-injak dan sebagian tewas di lapangan. Dari pemantauan kami, Anda yang memegang kendali penuh untuk mengkoordinir gerombolan massa di sayap kiri.”
“Saya Korlap bukan provokator, Pak! Bahkan saya juga nggak ada di sana waktu massa menjebol gerbang karena saya sempat mundur menolong pacar saya yang kena hipotermia. HT itu dibawa teman saya, Luka. Kalau ada arahan yang mengarah ke vandalisme, dia yang bertanggung jawab,” jelas Alkais kesekian kalinya.
“Tapi semua barang bukti sejauh ini mengarah ke Anda.”
Alkais berdecak kesal. “Saya berani sumpah atas nama Raja Eden, saya bukan orang yang memprovokasi mereka untuk mendobrak gerbang parlemen apalagi bakar kembang api. Saya juga korban di sini, Pak!”
Alkais menghela napas. Situasi konyol macam apa ini? Polisi itu menganggap penjelasannya seperti angin lalu. Seolah tiap kesaksiannya hanyalah karangan fiktif.
Setelah melalui perdebatan alot, pada akhirnya Alkais tetap dilegalkan sebagai tahanan sementara. Ia dikirim ke penjara tua super ketat di Kota Jatavia, ditempatkan dalam sel isolasi khusus dan dilarang menemui siapapun termasuk pengacara selama satu Minggu pertama.
Di Astonesia, sistem penahanan pelaku terduga provokator demo yang menyebabkan korban jiwa memang terkenal tegas. Walau masih dugaan, hukumannya bisa saja jauh lebih berat dibanding koruptor. Bahkan akses kunjungan teman atau keluarga pun dibatasi ketat. Situasi ini sangat merugikan bagi masyarakat ekonomi kelas bawah seperti Alkais, apalagi ia seorang yatim piatu yang merantau dari kota seberang.
***
Beberapa bulan berlalu, tibalah hari persidangan. Dinding belakang tempat duduk hakim dihiasi oleh lambang kerajaan Astonesia, menjadi penanda bahwa pengadilan ini memegang otoritas hukum dari raja.
Alkais menelan ludah. Jemari tangannya saling bertautan. Beberapa kali ia menoleh ke arah Anna yang duduk di barisan galeri publik. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya untuk memberi semangat.
Sementara Luka betulan tidak datang di hari persidangan. Sahabatnya itu—ah, Alkais bersumpah akan memukul dan meludahi wajah laki-laki itu jika mereka bertemu suatu saat nanti.
Jaksa dan pengacara terlibat adu argumen sengit. Rekaman video demonstrasi juga diputar berulang-ulang untuk membedah aksi provokasi berdarah tersebut. Namun seperti halnya keanehan penangkapan hari pertama, persidangan pun tak lepas kejanggalan.
Setiap kali video diputar dari sudut pandang yang berbeda, yang memperlihatkan sosok pria bertopi hitam, hakim tiba-tiba berdeham dan menggunakan otoritasnya untuk mengetok palu dengan tegas. “Bagian ini tidak relevan. Skip, putar saja bagian yang lain.”
Tak cukup di situ, 12 juri warga sipil yang seharusnya menyimak objektif justru tampak bersikap tak acuh, bahkan beberapa dari mereka mengabaikan layar. Seolah hasil persidangan pagi ini sudah ditentukan dari jauh-jauh hari.
Alkais menatapnya nanar. Hukum di negeri ini sudah seperti pasar malam. Pasal-pasal seolah bisa diperjualbelikan dan keadilan bisa dibawa pulang oleh pembeli yang menawar dengan harga tinggi.
Di bawah lambang suci kerajaan tersebut, hakim membacakan putusan final. Alkais dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara atas dakwaan penghasutan.
Alkais menoleh pada gadisnya. Pertahanannya runtuh saat melihat Anna yang sudah terisak dan tertunduk lemas.
Palu sidang itu telah mengoyak hidupnya. Sudah lama Alkais menabung amarah atas sistem pemerintahan yang borok. Belum sempat reda, kini hatinya bertambah keruh karena dendam yang terpumpun untuk mantan rekan seperjuangannya, Luka.