Kembali ke Masa Sekarang …
Alkais menutup kisah masa mudanya. Pria itu lalu meneguk segelas kopi untuk membanjiri tenggorokannya yang kering. Minuman hitam ini terasa familiar, pahit—seperti halnya cerita yang baru ia tuntaskan.
Sementara istri Alkais menatapnya iba. Tak disangka, ternyata kisah suaminya begitu kelam. Selama ini, Alkais dikenal sebagai aktivis yang senantiasa memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Berkat aksinya beberapa tahun silam, undang-undang perampasan aset akhirnya disahkan. Sebuah kemenangan besar yang dirayakan seluruh penduduk Astonesia, namun ternyata tak pernah benar-benar ia rayakan sendiri.
“Jadi siapa dalang kerusuhan demo itu?”
Alkais mengendikkan bahu. “Yang jelas bukan sahabatku. Selama aku dipenjara, aku salah paham, Na. Kamu tahu alasan Luka nggak hadir di persidangan? Ternyata dia meninggal setelah kejadian demo itu. Keluarganya bilang, dia juga jadi korban. Bahkan Luka ngabisin sisa hidupnya dengan terbaring koma di rumah sakit. Bertahun-tahun aku nyimpen dendam ke dia dan aku belum sempat minta maaf karena udah ngasih tanggung jawabku ke dia waktu itu.” Suara Alkais melirih.
“Hah?” Sedangkan volume suara istrinya naik satu oktaf. “Jadi bukan dia pengkhianatnya?”
Alkais menggeleng.










