Runtut.com

[Cerpen] Tubuh Pinjaman Rezim

Di tengah gejolak politik Astonesia, seorang aktivis mempertaruhkan kebebasannya demi perubahan. Sayang kenyataan tak selalu berbanding lurus dengan harapan.

10 menit baca
1
Ilustrasi percakapan dua orang di kafe
Ilustrasi percakapan dua orang di kafe — pexels.com

Berhubung di Astonesia tidak menggunakan sistem remisi instan, tahanan seperti Alkais diwajibkan menjalani minimal tiga perempat dari masa hukuman. Di tahun ketujuh ini, Alkais bisa bebas bersyarat, sisa hukumannya dijalani dengan pengawasan ketat di luar penjara. Hanya tinggal menunggu hitungan minggu dan ia bisa kembali menghirup udara segar lagi.

“Susah merobohkan tembok benteng itu dari luar, Al. Kita harus masuk, jadi bagian dari bata-batanya, lalu merontokkannya dari dalam.”

“Apa maksud kamu, An? Kamu mau jadi bagian dari mereka?” Alkais mengernyit dari balik telepon. Gadis itu jarang sekali berkunjung sejak Alkais mendekam di balik jeruji besi. Lalu hari itu, tiba-tiba ia datang dengan wajah berseri, membawa kabar baik katanya.

“Kita bisa berjuang dari dalam, Al. Aku nggak sabar nunggu kamu bebas, pasti seru!” ujar Anna tersimpul.

“Mungkinkah seseorang bisa memperbaiki sistem dari dalam? Kalau seluruh komponennya aja udah cacat struktural.”

Anna terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian warna suaranya berubah drastis.

“Terima kasih ya, Al. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku nggak bakal sampai di titik ini. Kamu udah banyak bantu karierku.”

Gadis itu tiba-tiba memutus telpon sepihak meski jam kunjungan masih tersisa banyak. Sementara di balik jeruji, kepala Alkais dipenuhi tanya. “Apa maksudnya membantu karir? Bukankah selama ini dia mendekam di penjara? Bagaimana mungkin?”

***

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua