RUNTUT.COM - Di era digital ini, waktu menjelma komoditas yang paling mahal. Kehidupan kontemporer telah menyulap segala sesuatu menjadi lebih instan untuk dinikmati. Bagaimana tidak? Rentang perhatian (attention spam) manusia modern sudah menyusut drastis akibat gempuran video pendek yang berdurasi belasan detik saja.
Di tengah kondisi psikologis masyarakat yang serba cepat ini, sastra turut berevolusi menjadi bacaan yang bisa dilahap dalam sekali kedip, yakni melalui fiksi mini (mikrofiksi). Kehadiran fiksi mini dipengaruhi oleh teknologi modern. Tak ayal jika konten fiksi mini sukses menemukan pasarnya di media sosial, seperti X (Twitter), Facebook, Instagram, hingga TikTok.
Lantas, bagaimana awal kemunculan gejala kesusatraan ini hingga jumlahnya bisa sebanyak sekarang?
Perkembangan Fiksi Mini di Indonesia
Melansir dari penelitian yang dilakukan oleh Liliani dkk (2022), perkembangan fiksi mini di Indonesia berjalan sangat dinamis. Fiksi mini mulai booming sejak tahun 2000-an, tepatnya pada 2011. Dimotori oleh akun Twitter @fiksimini dengan inisiasi dari para sastrawan Indonesia, seperti Agus Noor, Eka Kurniawan, dan Clara Ng.
Panjang tulisannya saat itu berkisar dari 140 - 280 karakter. Pemadatan cerita terjadi karena keterbatasan kolom Twitter. Oleh karena itu, cerita biasanya disajikan tidak utuh dan sengaja membuka imajinasi pembaca akan ending yang disajikan.
Kemudian pada tahun 2018, cerita mengalami pemadatan dengan tema yang kian beragam. Berlanjut ke tahun 2019, fiksi mini mulai menjamur di Instagram. Pada era ini, cerita tak hanya bertumpu pada teks, melainkan ada juga unsur visual yang makin menarik. Alur ceritanya bergerak cepat dengan plot, tokoh, dan setting yang lebih longgar. Gejala ini dapat dilihat dalam akun @instafiksi yang dikelola oleh sastrawan Hasan Asaphani.
Memasuki era pandemi tahun 2020, mulai ada pembukuan fiksi mini. Kumpulan cerita itu diambil dari media sosial seperti unggahan di Instagram, Twitter, Facebook, dan sejenisnya. Cerita yang terpilih akan dihimpun dalam satu plot sehingga tiap fiksi mini menjadi kisah yang terhubung.
Perkembangan fiksi mini lantas tak hanya berhenti sampai situ. Pasca-pandemi, konten-konten mengenai cerita singkat tersebut juga makin ramai digandrungi, terlebih lagi apabila topik tersebut dikemas menarik dan relevan dengan situasi sosial saat ini.
Keunikan Format Fiksi Mini
Meski singkat, bukan berarti fiksi mini sekadar cerita yang dipotong. Justru keterbatasan ruang inilah yang membuat penulis cermat dalam membungkus konten. Setiap kata berperan untuk membangun suasana, penokohan, atau pesan yang terkadung dalam cerita. Tanpa bertele-tele, pembaca akan langsung diseret ke inti peristiwa hingga menghadap penutup cerita yang biasanya ironi atau menggantung.









