Runtut.com

Fiksi Mini Temukan Ladang Subur di Era Scrolling

Sastra kilat di era serba cepat. Mengapa fiksi mini jadi gejala kesusastraan yang berkembang pesat di media sosial? Kenali sejarah hingga formula uniknya!

4 menit baca
Fiksi mini makin menjamur di tengah budaya scrolling
Fiksi mini makin menjamur di tengah budaya scrolling — Sumber: pexels

RUNTUT.COM - Di era digital ini, waktu menjelma komoditas yang paling mahal. Kehidupan kontemporer telah menyulap segala sesuatu menjadi lebih instan untuk dinikmati. Bagaimana tidak? Rentang perhatian (attention spam) manusia modern sudah menyusut drastis akibat gempuran video pendek yang berdurasi belasan detik saja.

Di tengah kondisi psikologis masyarakat yang serba cepat ini, sastra turut berevolusi menjadi bacaan yang bisa dilahap dalam sekali kedip, yakni melalui fiksi mini (mikrofiksi). Kehadiran fiksi mini dipengaruhi oleh teknologi modern. Tak ayal jika konten fiksi mini sukses menemukan pasarnya di media sosial, seperti X (Twitter), Facebook, Instagram, hingga TikTok.

Lantas, bagaimana awal kemunculan gejala kesusatraan ini hingga jumlahnya bisa sebanyak sekarang?

Perkembangan Fiksi Mini di Indonesia

Melansir dari penelitian yang dilakukan oleh Liliani dkk (2022), perkembangan fiksi mini di Indonesia berjalan sangat dinamis. Fiksi mini mulai booming sejak tahun 2000-an, tepatnya pada 2011. Dimotori oleh akun Twitter @fiksimini dengan inisiasi dari para sastrawan Indonesia, seperti Agus Noor, Eka Kurniawan, dan Clara Ng.

Panjang tulisannya saat itu berkisar dari 140 - 280 karakter. Pemadatan cerita terjadi karena keterbatasan kolom Twitter. Oleh karena itu, cerita biasanya disajikan tidak utuh dan sengaja membuka imajinasi pembaca akan ending yang disajikan.

Kemudian pada tahun 2018, cerita mengalami pemadatan dengan tema yang kian beragam. Berlanjut ke tahun 2019, fiksi mini mulai menjamur di Instagram. Pada era ini, cerita tak hanya bertumpu pada teks, melainkan ada juga unsur visual yang makin menarik. Alur ceritanya bergerak cepat dengan plot, tokoh, dan setting yang lebih longgar. Gejala ini dapat dilihat dalam akun @instafiksi yang dikelola oleh sastrawan Hasan Asaphani.

Memasuki era pandemi tahun 2020, mulai ada pembukuan fiksi mini. Kumpulan cerita itu diambil dari media sosial seperti unggahan di Instagram, Twitter, Facebook, dan sejenisnya. Cerita yang terpilih akan dihimpun dalam satu plot sehingga tiap fiksi mini menjadi kisah yang terhubung.

Perkembangan fiksi mini lantas tak hanya berhenti sampai situ. Pasca-pandemi, konten-konten mengenai cerita singkat tersebut juga makin ramai digandrungi, terlebih lagi apabila topik tersebut dikemas menarik dan relevan dengan situasi sosial saat ini.

Keunikan Format Fiksi Mini

Meski singkat, bukan berarti fiksi mini sekadar cerita yang dipotong. Justru keterbatasan ruang inilah yang membuat penulis cermat dalam membungkus konten. Setiap kata berperan untuk membangun suasana, penokohan, atau pesan yang terkadung dalam cerita. Tanpa bertele-tele, pembaca akan langsung diseret ke inti peristiwa hingga menghadap penutup cerita yang biasanya ironi atau menggantung.

Keunikan inilah yang membedakan fiksi mini dengan bentuk sastra lainnya. Pada cerita pendek misalnya, penulis masih diberi ruang untuk mengurai alur dan konflik secara detail. Namun, dalam fiksi mini urusan tersebut sebagian justru bergantung pada interpretasi pembaca. Dengan begitu, pembaca tak hanya menjadi penikmat pasif, melainkan turut mengisi celah untuk membayangkan bagaimana kelanjutan peristiwa.

Media Sosial sebagai Ruang Hidup Sastra

Selain keunikan formatnya, media sosial juga turut berperan sebagai ruang hidup fiksi mini. Di platform X, Facebook, Instagram, TikTok dll, karya sastra bisa terbit tanpa melalui proses redaksi atau reviu yang ketat. Siapa saja bisa membagikan ide mereka melalui akun pribadi masing-masing. Kecepatan teknologi dan informasi juga memungkinkan penulis untuk mendapatkan umpan balik dalam hitungan detik. Acapkali kolom komentar menjadi ruang diskusi yang cair. Demonstrasi inilah yang membuat sastra terasa lebih dekat dan tidak lagi berjarak.

Di ruang ini pula fiksi mini terus menyesuaikan diri dengan beragam platform. Di X, biasanya fiksi mini hadir dalam bentuk teks padat dengan kejutan di akhir cerita. Di Instagram, ia hadir dengan paduan teks dan visual pemanis untuk menguatkan cerita. Sementara di TikTok, ia diiringi oleh musik latar sebagai penghidup suasana.

Kemampuan beradaptasi tersebut menjadikan fiksi mini mudah menjangkau pembaca. Sebab pada dasarnya, bentuk sastra ini juga berperan sebagai cermin zaman. Tema-temanya sering merekam kegelisahan yang dekat dengan keseharian, misalnya tekanan hidup masyarakat urban, dinamika politik, atau isu lainnya.

Pada akhirnya, kehadiran fiksi mini di era digital bukan sekadar bentuk sastra kilat. Melainkan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat modern. Ia hidup dalam kebiasaan scrolling, dibagikan lewat internet, dan ditafsirkan bersama di kolom komentar. Dari situ, fiksi mini tumbuh lebih dari sekadar tren menjadi ruang bersama tempat orang bercerita, mewakili perasaan, dan menemukan sastra di tengah kesibukannya.

Referensi:

Liliani, E., Kusmarwanti., & Budiyanto, D. (2022). Perkembangan fiksimini Indonesia 2010 – kini. LITERA, 21(2), 227-239. DOI :https://doi.org/10.21831/ltr.v21i1.45039

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua