Runtut.com

[Cerpen] Tubuh Pinjaman Rezim

Di tengah gejolak politik Astonesia, seorang aktivis mempertaruhkan kebebasannya demi perubahan. Sayang kenyataan tak selalu berbanding lurus dengan harapan.

10 menit baca
Ilustrasi percakapan dua orang di kafe
Ilustrasi percakapan dua orang di kafe — pexels.com

Malam ini, Kota Jatavia tampak bernyawa seperti biasanya. Sebagai ibu kota negara Astonesia, megapolitan tersebut seolah tak mengenal kata tidur. Di sekitar bundaran kota, restoran cepat saji dan kedai kopi beroperasi 24 jam dengan sistem sift. Di jalan raya, deru kendaraan senantiasa mengudara. Sementara di pusat bisnis, LED terus berpijar menemani warga sipil yang lembur kerja.

“Ah, ayolah. Apa berita baik ilegal hukumnya disiarkan di negeri ini?” keluh wanita berambut gelombang. Pandangannya tertuju pada televisi kafe yang berada tak jauh dari tempat duduknya. Media massa Astonesia baru saja menyiarkan kabar terbaru mengenai kasus pejabat publik yang terlibat korupsi pengadaan mesin di gudang nasional.

“Sial.” Alkais refleks meletakkan cangkirnya ke meja dengan hentakan kasar, seketika percikan kopi itu terkipas ke tangan lawan bicaranya.

“Aw, panas! Kamu kenapa sih?!” sungut sang wanita sembari melempar tatapan sinis.

Alkais buru-buru menyeka tangan wanita itu. “Maaf, Na.”

“Ada apa?”

“Aku emosi aja liat berita hari ini.”

“Bukannya kabar buruk udah jadi makanan sehari-sehari di negara kita? Biasanya kamu nggak semarah ini.”

Alkais mendengus. Peristiwa ganjil malam ini mengingatkannya akan sesuatu.

14 tahun yang lalu …

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua