RUNTUT.COM — Fenomenaadaptasi novel menjadi film tentu bukan hal asing yang kita jumpai sekarang. Tren ini menunjukkan bahwa adaptasi tidak hanya menjadi cara untuk menghadirkan cerita kepada khalayak yang lebih luas. Akan tetapi, juga bagian dari proses kreatif yang memungkinkan sebuah karya sastra diinterpretasikan kembali melalui medium sinema.
Sepanjang tahun 2026 saja, industri sinema Indonesia diguyur dengan novel-novel best seller. Salah satu yang paling menyita perhatian ialah film Laut Bercerita dengan sutradara Yosep Anggi Noen yang diangkat dari novel sejarah fenomenal milik Leila S. Chudori. Selain itu, adapula Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, 3726 MDPL karya Nurwina Sari, hingga novel anak Na Willa yang ditulis oleh Reda Gaudiamo.
Alih wahana karya sastra menjadi film dikenal dengan istilah ekranisasi, yakni transformasi bentuk seperti novel, cerita pendek, atau naskah drama ke media audiovisual.
Lantas, mengapa ekranisasi masih terus eksis hingga sekarang? Kecenderungan itu bukan hanya sekadar pemindahan format tekstual menjadi audiovisual, namun ada juga unsur komersial yang menyertainya.
Ekranisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kebutuhan ekonomi, selera pasar, dan perbedaan karakteristik media.
Seperti yang kita tahu, novel best seller dengan cetakan ribuan eksemplar telah memiliki banyak pembaca. Popularitas inilah yang dapat menjadi modal awal bagi industri film untuk menggaet banyak penonton.
Novel yang sudah dikenal publik juga memberikan gambaran awal mengenai selera atau minat pasar. Di Indonesia, novel dengan genre romance menjadi kategori yang digandrungi oleh audiens. Adapun genre horor, komedi, dan aksi yang tidak kalah eksis. Maka dari itu, tak heran jika film-film adaptasi novel ke layar lebar Indonesia didominasi oleh cerita tersebut.
Perbedaan cara penyampaian juga menjadi salah satu poin penting. Dalam novel, pembaca bebas membayangkan seperti apa visualisasi tokoh hingga latar kejadian dalam cerita. Sementaranya itu, film membuat semuanya menjadi lebih konkret lewat pilihan aktor, sinematografi, tata artistik, dan backsound. Namun, tidak jarang pula ekranasi ini justru mengundang kekecewaan penonton terutama bagi mereka yang telah lebih dulu menamatkan novelnya.
Komentar penonton mengenai salah satu novel best seller yang telah diadaptasi menjadi film — Sumber: @netflixid
Komentar-komentar semacam itu acap kali muncul ketika adanya kesenjangan antara imajinasi pribadi saat membaca novel dengan visualisasi sutradara di layar lebar. Misalnya dari segi pemilihan aktor, kualitas akting, hingga pengemasan cerita yang berbeda dengan sumber aslinya.
Komentar salah satu pembaca mengenai trailer film adaptasi novel best seller dari Wattpad — Sumber: @rapifilm
Novel mempunyai ratusan halaman untuk membangun plot secara detail sedangkan durasi film sangat terbatas, biasanya hanya berkisar 1 – 2 jam saja. Hal itulah yang kadang membuat film tidak punya waktu untuk memperlihatkan proses perkembangan karakter secara bertahap seperti halnya di novel.
Pentingnya Menghargai Film Adaptasi sebagai Karya Seni yang Mandiri
Memandang film adaptasi sebagai sebuah karya seni yang mandiri sangat penting dilakukan, mengingat sastra dan sinema memiliki medium estetika yang berbeda. Karya sastra seperti novel condong mengandalkan kekuatan diksi, imajinasi, dan eksplorasi pengembangan karakter tokoh secara bertahap dan mendalam. Sementara itu, film menggunakan bahasa visual, audio, akting, sinematografi untuk mendukung alur cerita.
Pada akhirnya, adaptasi bukan hanya sekadar proses fotocopy, melainkan ada interpretasi kreatif oleh sutradara dan penulis skenario. Oleh karena itu, menonton film adaptasi dengan sudut pandang terbuka menjadi kunci utama agar kita dapat menikmati film tersebut sebagai karya seni utuh tanpa dibebani kekecewaan oleh hilangnya detail-detail kecil dalam novel.