Runtut.com

[Cerpen] Tubuh Pinjaman Rezim

Di tengah gejolak politik Astonesia, seorang aktivis mempertaruhkan kebebasannya demi perubahan. Sayang kenyataan tak selalu berbanding lurus dengan harapan.

10 menit baca
Ilustrasi percakapan dua orang di kafe
Ilustrasi percakapan dua orang di kafe — pexels.com

Musim dingin kembali menyelimuti Astonesia pada penghujung Desember. Negara ini sedang dilanda krisis pangan akibat kerusakan lumbung nasional. Puluhan ton gandum di tempat itu rusak dan membusuk, sebagai dampak efisiensi anggaran perawatan mesin pengatur suhu gudang yang dipangkas besar-besaran oleh menteri pertanian. Akibatnya, pasokan pangan di pasaran kini berkurang drastis dan masyarakat harus membayar makanan pokok dengan harga yang sangat tinggi.

Aktor di balik kekacauan ini ialah Yova Leno atau kerap disapa YL, Menteri Pertanian aktif Astonesia. Leno memotong anggaran perawatan mesin pengatur suhu gudang dan menggelembungkan dana pengadaan sistem pemanas lumbung pangan nasional. Dana tersebut ia alihkan untuk membeli aset pribadi keluarganya. Keadaan menjadi makin ricuh karena Leno yang berstatus sebagai buronan korupsi telah melarikan diri ke luar negeri dan  keberadaannya belum terlacak sama sekali.

Amarah masyarakat seketika mencuat karena Leno sengaja kabur untuk menghindari penyidikan. Sebagai bentuk protes, hari ini puluhan ribu warga berbondong-bondong melakukan aksi di jalanan.

Mereka juga mengepung gedung parlemen pusat yang terletak di tepi utara sungai Jatavia. Sebagai negara dengan sistem pemerintahan monarki konstitusional, aksi unjuk rasa di Astonesia memang nyaris tak pernah tertuju pada istana kerajaan. Gedung parlemen sering kali menjadi sasaran aksi massa karena seluruh pembuatan undang-undang dan pengesahan kebijakan tergantung pada dewan rakyat.

Massa mendesak agar harga roti gandum diturunkan dan parlemen segera mengesahkan rancangan undang-undang perampasan aset yang macet sejak dua tahun silam.

“TURUNKAN HARGA PANGAN!”

“SAHKAN RUU PERAMPASAN ASET!”

“PENJARAKAN LENO SEUMUR HIDUP!”

Seruan massa kompak menggema di area gedung parlemen. Ratusan spanduk berisi harapan dan makian pun turut mewarnai aksi.

Di antara barisan demonstran, seorang laki-laki sibuk mengamati keadaan sekitar. Tubuhnya tegap tinggi berselimut jaket puff hitam. Wajah  sawo matangnya sebagian tertutup syal yang dikalungkan dari leher, sedangkan rambutnya yang coklat gelap terkatup beanie. Tak lupa, tangan kanannya menggenggam HT sebagai alat komunikasi. Dia Alkais, koordinator lapangan sayap kiri pada aksi demonstrasi hari ini.

“Hey! Kita udah satu jam lebih di sini, tapi mereka masih pura-pura tuli.” Anna mendengus kesal. 

Alkais menjauhkan HT nya. “Sabar, An. Sebentar lagi mereka pasti bukain pagar buat kita.”

“Lama! Apa orang-orang itu nggak mikirin kondisi kesehatan kita? Lihat, hidung mereka pada ngeluarin ingus!” Luka menimpali sembari menunjuk orang-orang di belakangnya yang mulai kewalahan menghadapi dingin. “Lihat! Mataku juga udah berderai air mata,” tambahnya makin dramatis.

“Ah, pasti mereka sengaja, Al! Pejabat kita ‘kan begitu, semangatnya pas joget doang, giliran diajak dialog sama warga sipil langsung ngilang!” sarkas Anna sambil menyilangkan kedua tangannya.

“Iya lagi!” sahut Luka.

“Emang biadab mereka biarin kita luntang lantung begini! Kalau aku jadi mereka, udah kubuka pintu itu lebar-lebar dari tadi!”

“Sabar, An. Kalau nanti nggak kuat jangan dipaksain, ya. Kamu bisa langsung narik bajuku.”

Di tengah kerumunan demo, Alkais masih sempat memberikan perhatian untuk kekasihnya. Memang aksi kali ini cukup berisiko. Meskipun Kota Jatavia berada di dataran rendah dan jarang ditutupi salju alami, tetap saja mereka juga harus bertahan di tengah suhu ekstrim 5° celcius.

“Apa kita jebol saja?” ceplos seorang pria paruh baya bermasker, diamini oleh pendemo lainnya.

“Jangan anarkis, Pak. Saya nggak mau sampai ada korban jiwa di sini.” Alkais buru-buru menenangkan. Sebagai koordinator lapangan, ia harus memastikan rombongannya kondusif. Jangan sampai ada perpecahan atau provokasi yang berujung merugikan  masyarakat.

“Ya, terus? Kamu mau kita mati kedinginan di sini, anak muda?”

Alkais menggeleng. Waktu telah berlalu dan belum ada tanda-tanda gerbang akan dibuka. Kondisi fisik sebagian pendemo juga kian menurun.

“Aduh! Tanganku mulai kaku, Al.” Suara Anna bergetar, wajahnya pias.

“Luk, titip! Pastikan jangan sampai mereka ngerusak fasilitas umum!” Alkais secara impulsif menitipkan HT kepada Luka sebelum ia menarik Anna mundur dari kerumunan.

Anna dibawa ke tenda medis darurat agar gejala hipotermia gadis itu tidak makin parah. Alkais melepas pakaian terluar Anna. Pria itu juga meminjam handuk kering dan meminta petugas kesehatan untuk mengawasi Anna sementara waktu.

Cukup lama Alkais duduk menemani kekasihnya. Dengan gemetar, Anna menggegam erat lenggannya lebih kuat dari biasanya membuat pria itu urung untuk beranjak. Namun, makin lama telinganya mulai menangkap suara ganjil dari titik demo.

“Sayang, maaf aku harus pergi.” Alkais perlahan melepaskan gandengannya. “Coklat panasnya dihabiskan, ya. Aku mau balik ke sana dulu, takutnya nanti mereka makin nggak terkontrol.” Alkais mengusap rambut Anna.

Gadis itu tersenyum cemas sembari melambaikan tangan. “Hati-hati, semoga tetep berjalan sesuai rencana, ya.”

***

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua