Musim dingin kembali menyelimuti Astonesia pada penghujung Desember. Negara ini sedang dilanda krisis pangan akibat kerusakan lumbung nasional. Puluhan ton gandum di tempat itu rusak dan membusuk, sebagai dampak efisiensi anggaran perawatan mesin pengatur suhu gudang yang dipangkas besar-besaran oleh menteri pertanian. Akibatnya, pasokan pangan di pasaran kini berkurang drastis dan masyarakat harus membayar makanan pokok dengan harga yang sangat tinggi.
Aktor di balik kekacauan ini ialah Yova Leno atau kerap disapa YL, Menteri Pertanian aktif Astonesia. Leno memotong anggaran perawatan mesin pengatur suhu gudang dan menggelembungkan dana pengadaan sistem pemanas lumbung pangan nasional. Dana tersebut ia alihkan untuk membeli aset pribadi keluarganya. Keadaan menjadi makin ricuh karena Leno yang berstatus sebagai buronan korupsi telah melarikan diri ke luar negeri dan keberadaannya belum terlacak sama sekali.
Amarah masyarakat seketika mencuat karena Leno sengaja kabur untuk menghindari penyidikan. Sebagai bentuk protes, hari ini puluhan ribu warga berbondong-bondong melakukan aksi di jalanan.
Mereka juga mengepung gedung parlemen pusat yang terletak di tepi utara sungai Jatavia. Sebagai negara dengan sistem pemerintahan monarki konstitusional, aksi unjuk rasa di Astonesia memang nyaris tak pernah tertuju pada istana kerajaan. Gedung parlemen sering kali menjadi sasaran aksi massa karena seluruh pembuatan undang-undang dan pengesahan kebijakan tergantung pada dewan rakyat.
Massa mendesak agar harga roti gandum diturunkan dan parlemen segera mengesahkan rancangan undang-undang perampasan aset yang macet sejak dua tahun silam.
“TURUNKAN HARGA PANGAN!”
“SAHKAN RUU PERAMPASAN ASET!”
“PENJARAKAN LENO SEUMUR HIDUP!”
Seruan massa kompak menggema di area gedung parlemen. Ratusan spanduk berisi harapan dan makian pun turut mewarnai aksi.
Di antara barisan demonstran, seorang laki-laki sibuk mengamati keadaan sekitar. Tubuhnya tegap tinggi berselimut jaket puff hitam. Wajah sawo matangnya sebagian tertutup syal yang dikalungkan dari leher, sedangkan rambutnya yang coklat gelap terkatup beanie. Tak lupa, tangan kanannya menggenggam HT sebagai alat komunikasi. Dia Alkais, koordinator lapangan sayap kiri pada aksi demonstrasi hari ini.
“Hey! Kita udah satu jam lebih di sini, tapi mereka masih pura-pura tuli.” Anna mendengus kesal.
Alkais menjauhkan HT nya. “Sabar, An. Sebentar lagi mereka pasti bukain pagar buat kita.”
“Lama! Apa orang-orang itu nggak mikirin kondisi kesehatan kita? Lihat, hidung mereka pada ngeluarin ingus!” Luka menimpali sembari menunjuk orang-orang di belakangnya yang mulai kewalahan menghadapi dingin. “Lihat! Mataku juga udah berderai air mata,” tambahnya makin dramatis.
“Ah, pasti mereka sengaja, Al! Pejabat kita ‘kan begitu, semangatnya pas joget doang, giliran diajak dialog sama warga sipil langsung ngilang!” sarkas Anna sambil menyilangkan kedua tangannya.









