Runtut.com

Mengeja Negeri Waktu Dini Hari

Mengarungi sunyi dan remah cemas yang tumpah pada keheningan jam 1 pagi. Kumpulan puisi 'Mengeja Negeri Waktu Dini Hari' karya Nurul Hidayah.

2 menit baca
1
Menenun bayang di ruang kedap, merawat cemas yang lahir dini hari.
Menenun bayang di ruang kedap, merawat cemas yang lahir dini hari. — Sumber: pexels.com

Puisi yang Kutulis saat Kita Masih WNI di Jam Satu Pagi

/pukul satu pagi/

selimut mengajakku berdamai,

bantal merayuku tuk berkunjung ke negeri tanpa berita buruk

tapi layar kecil ini;

masih menyimpan harapan

barangkali bangun tidur nanti

aku tak perlu malu mengaku WNI

/pukul dua pagi/

mungkin kabar baik tengah diadili di meja-meja rapat

atau mungkin ia sedang mampir ke warteg?

menghitung berapa harga paru

sebab mereka tak mampu membayar alat pemadam

/pukul tiga pagi/

aku menyegarkan layar

entah sekali dua kali

atau berapa ratus kali

makin tahu, makin tahi

prestasi itu-itu lagi:

korupsi, inflasi, dan si si lainnya

/pukul empat pagi/

terus kunanti

walau mata makin sayu

dan pipi kian sendu.

'kan kubuktikan pada angin

'kan kutunjukkan pada antek-antek asing

dan kupamerkan pada sepasang bantal tidur

bahwa masih ada alasan

agar aku tak perlu malu mengaku WNI

/dan pukul lima pagi/

mataku masih melek

meratapi akal sehat yang makin pendek

astaga!

bibirku merutuk

tutur segala sumpah terkutuk.

barangkali sedari awal memang bantal itu lebih waras dariku

bisiknya,

"tidurlah, berita baik sudah raib di sini,

hangus bersama jutaan hektare yang terbakar."

Magelang, 2026

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua