Ada sebuah surat yang ditulis hutan setiap kali musim kemarau tiba.
Surat itu tidak menggunakan tinta. Ia ditulis dengan getah yang mengering di batang pohon, dengan daun-daun yang gugur sebelum waktunya, dengan suara burung yang perlahan menghilang dari dahan-dahan, dan dengan asap yang merayap menuju rumah-rumah manusia.
Sayangnya, hutan tidak mengenal alamat. Ia tidak tahu ke mana surat itu harus dikirim, siapa yang harus membacanya, atau di meja siapa ia mesti diletakkan agar seseorang bersedia berhenti sejenak dan mendengarkan.
Maka, setiap tahun, surat itu kembali ditulis. Dengan cara yang sama, melalui kehilangan yang berulang.
Sebelum Menjadi Abu, Aku Pernah Hidup
Kepada siapa pun yang masih bersedia membaca, Aku adalah hutan.
Dahulu, aku mengenal hujan dari bunyi pertama yang menyentuh dedaunan. Aku mengenal pagi dari embun yang menggantung di ujung rumput. Aku mengenal kehidupan dari langkah-langkah kecil makhluk yang melintasi tanahku tanpa meninggalkan apa pun selain jejak yang akan dihapus waktu.
Aku tidak pernah meminta banyak. Cukup biarkan akar-akarku menembus bumi, biarkan sungai mengalir melewati tubuhku, dan biarkan mereka yang tinggal di dalam diriku tumbuh tanpa harus takut kehilangan rumah.
Namun, belakangan ini, aku semakin sering mengenal sesuatu yang tidak pernah ingin kukenal: api.
Ia datang sebagai titik kecil yang mula-mula tidak dianggap berbahaya. Kemudian menjalar, merambat, memakan apa saja yang dilewatinya. Dalam waktu yang kadang terasa begitu singkat, sesuatu yang tumbuh selama puluhan tahun dapat berubah menjadi abu.
Aku tidak tahu apakah manusia mendengar suara pohon ketika ia terbakar. Barangkali tidak. Barangkali suara itu terlalu pelan untuk mengalahkan deru mesin, percakapan di ruang rapat, atau tepuk tangan yang mengiringi sebuah pidato.
Tetapi aku ingin manusia tahu, bahwa sebelum menjadi abu, aku pernah hidup.
Aku pernah menjadi tempat burung menyimpan telur-telurnya. Aku pernah menjadi naungan bagi orang-orang yang berjalan di bawah matahari. Aku pernah menjaga air tetap berada di tanah, menyimpan karbon dalam tubuh pepohonanku, dan menjadi rumah bagi kehidupan yang tidak pernah meminta namanya disebut.
Kini, sebagian dari diriku hanya tersisa sebagai garis hitam di atas tanah.
Dan anehnya, setelah semuanya terbakar, manusia baru mulai membicarakanku.
Ketika Api Padam, Kehilangan Tak Ikut Pergi
Aku melihat mereka datang membawa selang, kendaraan, helikopter, dan peralatan untuk memadamkan api. Aku melihat orang-orang bekerja di tengah panas yang menyengat, menembus asap yang membuat mata perih dan napas terasa berat.
Aku tidak pernah menyalahkan mereka yang berusaha menyelamatkanku. Justru kepada merekalah aku berutang harapan. Ada manusia yang tetap tinggal ketika yang lain memilih menjauh. Ada tangan-tangan yang berusaha menjaga sisa kehidupan agar tidak ikut dilahap api.
Namun, di antara rasa terima kasih itu, aku menyimpan sebuah pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban.
Mengapa begitu banyak tenaga harus dikerahkan ketika api sudah membesar, sementara mencegahnya sejak awal sering kali terasa jauh lebih sulit?
Mengapa manusia begitu pandai menghitung luas wilayah yang terbakar, tetapi kerap terlambat memahami luas kehilangan yang tidak dapat diukur dengan angka?
Aku tahu, tidak semua kebakaran memiliki penyebab yang sama. Ada keadaan alam yang membuat api mudah menjalar, ada kelalaian, dan ada dugaan tindakan manusia yang harus diselidiki dengan sungguh-sungguh. Aku tidak meminta siapa pun dijatuhi hukuman hanya karena tuduhan. Aku hanya berharap setiap penyebab dicari dengan jujur, setiap pelanggaran dibuktikan, dan setiap pihak yang bertanggung jawab tidak dibiarkan berlindung di balik besarnya nama atau panjangnya jabatan.
Sebab, bagiku, api tidak pernah menjadi persoalan yang selesai hanya karena nyalanya berhasil dipadamkan.
Tanah yang kehilangan tutupan vegetasi masih harus dipulihkan. Satwa yang kehilangan habitat tidak serta-merta menemukan rumah baru. Warga yang menghirup asap tidak langsung terbebas dari akibatnya ketika langit kembali tampak biru.
Ada kehilangan yang tetap tinggal bahkan setelah api tidak lagi terlihat.
Surat untuk Mereka yang Duduk di Balik Meja Kekuasaan
Aku juga ingin menulis kepada mereka yang duduk di balik meja-meja kekuasaan.
Aku tidak tahu bagaimana rupa ruang tempat keputusan dibuat. Barangkali ruang itu sejuk, dengan pendingin udara yang bekerja sepanjang hari. Barangkali ada jendela besar yang menghadap taman, tempat pepohonan tumbuh teratur dan rumput dipangkas agar selalu tampak indah.
Dari sana, mungkin sulit membayangkan bagaimana rasanya menjadi pohon yang terbakar.
Lebih sulit lagi membayangkan bagaimana rasanya menjadi manusia yang rumahnya dikepung asap, anaknya harus tetap bernapas di udara yang buruk, atau penghasilannya terputus karena tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan berubah menjadi hamparan arang.
Aku tidak meminta kekuasaan mencintaiku seperti manusia mencintai sesuatu yang dianggap indah. Aku tidak membutuhkan pujian tentang betapa kayanya alam negeri ini, atau kalimat-kalimat tentang betapa berharganya hutan bagi masa depan bangsa.
Aku hanya ingin kata-kata itu memiliki akibat.
Sebab, kata-kata tentang kelestarian akan terdengar ganjil apabila pepohonan tetap tumbang tanpa pengawasan yang memadai. Janji tentang perlindungan lingkungan akan kehilangan makna apabila penegakan hukum berhenti pada mereka yang paling mudah dijangkau. Dan seruan untuk menjaga alam akan terasa kosong apabila masyarakat yang hidup paling dekat denganku justru dibiarkan menanggung kerugian seorang diri.
Aku tidak sedang meminta manusia memilih antara pembangunan dan hutan. Aku tahu manusia membutuhkan rumah, pekerjaan, pangan, dan kehidupan yang layak. Aku pun tahu bahwa keputusan tentang lingkungan tidak pernah sesederhana memilih satu pihak lalu mengabaikan pihak lainnya.
Tetapi bukankah kemajuan seharusnya membuat kehidupan menjadi lebih baik, bukan memindahkan harga kemajuan itu kepada mereka yang paling sedikit memiliki kuasa untuk menolaknya?


