Runtut.com

Surat dari Hutan yang Tak Pernah Sampai ke Meja Kekuasaan

Tentang hutan yang kehilangan suaranya, manusia yang belajar hidup bersama asap, dan harapan yang berkali-kali mengetuk pintu kekuasaan.

7 menit baca
2
Sebuah amplop dan surat-surat bergaya klasik tergeletak di atas bangku kayu di luar ruangan saat musim gugur, dikelilingi
Sebuah amplop dan surat-surat bergaya klasik tergeletak di atas bangku kayu di luar ruangan saat musim gugur, dikelilingi oleh jarum-jarum pinus. — https://www.pexels.com/@rahimegul/

Ada sebuah surat yang ditulis hutan setiap kali musim kemarau tiba.

Surat itu tidak menggunakan tinta. Ia ditulis dengan getah yang mengering di batang pohon, dengan daun-daun yang gugur sebelum waktunya, dengan suara burung yang perlahan menghilang dari dahan-dahan, dan dengan asap yang merayap menuju rumah-rumah manusia.

Sayangnya, hutan tidak mengenal alamat. Ia tidak tahu ke mana surat itu harus dikirim, siapa yang harus membacanya, atau di meja siapa ia mesti diletakkan agar seseorang bersedia berhenti sejenak dan mendengarkan.

Maka, setiap tahun, surat itu kembali ditulis. Dengan cara yang sama, melalui kehilangan yang berulang.

Sebelum Menjadi Abu, Aku Pernah Hidup

Kepada siapa pun yang masih bersedia membaca, Aku adalah hutan.

Dahulu, aku mengenal hujan dari bunyi pertama yang menyentuh dedaunan. Aku mengenal pagi dari embun yang menggantung di ujung rumput. Aku mengenal kehidupan dari langkah-langkah kecil makhluk yang melintasi tanahku tanpa meninggalkan apa pun selain jejak yang akan dihapus waktu.

Aku tidak pernah meminta banyak. Cukup biarkan akar-akarku menembus bumi, biarkan sungai mengalir melewati tubuhku, dan biarkan mereka yang tinggal di dalam diriku tumbuh tanpa harus takut kehilangan rumah.

Namun, belakangan ini, aku semakin sering mengenal sesuatu yang tidak pernah ingin kukenal: api.

Ia datang sebagai titik kecil yang mula-mula tidak dianggap berbahaya. Kemudian menjalar, merambat, memakan apa saja yang dilewatinya. Dalam waktu yang kadang terasa begitu singkat, sesuatu yang tumbuh selama puluhan tahun dapat berubah menjadi abu.

Aku tidak tahu apakah manusia mendengar suara pohon ketika ia terbakar. Barangkali tidak. Barangkali suara itu terlalu pelan untuk mengalahkan deru mesin, percakapan di ruang rapat, atau tepuk tangan yang mengiringi sebuah pidato.

Tetapi aku ingin manusia tahu, bahwa sebelum menjadi abu, aku pernah hidup.

Aku pernah menjadi tempat burung menyimpan telur-telurnya. Aku pernah menjadi naungan bagi orang-orang yang berjalan di bawah matahari. Aku pernah menjaga air tetap berada di tanah, menyimpan karbon dalam tubuh pepohonanku, dan menjadi rumah bagi kehidupan yang tidak pernah meminta namanya disebut.

Kini, sebagian dari diriku hanya tersisa sebagai garis hitam di atas tanah.
Dan anehnya, setelah semuanya terbakar, manusia baru mulai membicarakanku.

Ketika Api Padam, Kehilangan Tak Ikut Pergi

Aku melihat mereka datang membawa selang, kendaraan, helikopter, dan peralatan untuk memadamkan api. Aku melihat orang-orang bekerja di tengah panas yang menyengat, menembus asap yang membuat mata perih dan napas terasa berat.

Aku tidak pernah menyalahkan mereka yang berusaha menyelamatkanku. Justru kepada merekalah aku berutang harapan. Ada manusia yang tetap tinggal ketika yang lain memilih menjauh. Ada tangan-tangan yang berusaha menjaga sisa kehidupan agar tidak ikut dilahap api.

Namun, di antara rasa terima kasih itu, aku menyimpan sebuah pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban.

Mengapa begitu banyak tenaga harus dikerahkan ketika api sudah membesar, sementara mencegahnya sejak awal sering kali terasa jauh lebih sulit?

Mengapa manusia begitu pandai menghitung luas wilayah yang terbakar, tetapi kerap terlambat memahami luas kehilangan yang tidak dapat diukur dengan angka?

Aku tahu, tidak semua kebakaran memiliki penyebab yang sama. Ada keadaan alam yang membuat api mudah menjalar, ada kelalaian, dan ada dugaan tindakan manusia yang harus diselidiki dengan sungguh-sungguh. Aku tidak meminta siapa pun dijatuhi hukuman hanya karena tuduhan. Aku hanya berharap setiap penyebab dicari dengan jujur, setiap pelanggaran dibuktikan, dan setiap pihak yang bertanggung jawab tidak dibiarkan berlindung di balik besarnya nama atau panjangnya jabatan.

Sebab, bagiku, api tidak pernah menjadi persoalan yang selesai hanya karena nyalanya berhasil dipadamkan.

Tanah yang kehilangan tutupan vegetasi masih harus dipulihkan. Satwa yang kehilangan habitat tidak serta-merta menemukan rumah baru. Warga yang menghirup asap tidak langsung terbebas dari akibatnya ketika langit kembali tampak biru.

Ada kehilangan yang tetap tinggal bahkan setelah api tidak lagi terlihat.

Surat untuk Mereka yang Duduk di Balik Meja Kekuasaan

Aku juga ingin menulis kepada mereka yang duduk di balik meja-meja kekuasaan.

Aku tidak tahu bagaimana rupa ruang tempat keputusan dibuat. Barangkali ruang itu sejuk, dengan pendingin udara yang bekerja sepanjang hari. Barangkali ada jendela besar yang menghadap taman, tempat pepohonan tumbuh teratur dan rumput dipangkas agar selalu tampak indah.

Dari sana, mungkin sulit membayangkan bagaimana rasanya menjadi pohon yang terbakar.

Lebih sulit lagi membayangkan bagaimana rasanya menjadi manusia yang rumahnya dikepung asap, anaknya harus tetap bernapas di udara yang buruk, atau penghasilannya terputus karena tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan berubah menjadi hamparan arang.

Aku tidak meminta kekuasaan mencintaiku seperti manusia mencintai sesuatu yang dianggap indah. Aku tidak membutuhkan pujian tentang betapa kayanya alam negeri ini, atau kalimat-kalimat tentang betapa berharganya hutan bagi masa depan bangsa.

Aku hanya ingin kata-kata itu memiliki akibat.

Sebab, kata-kata tentang kelestarian akan terdengar ganjil apabila pepohonan tetap tumbang tanpa pengawasan yang memadai. Janji tentang perlindungan lingkungan akan kehilangan makna apabila penegakan hukum berhenti pada mereka yang paling mudah dijangkau. Dan seruan untuk menjaga alam akan terasa kosong apabila masyarakat yang hidup paling dekat denganku justru dibiarkan menanggung kerugian seorang diri.

Aku tidak sedang meminta manusia memilih antara pembangunan dan hutan. Aku tahu manusia membutuhkan rumah, pekerjaan, pangan, dan kehidupan yang layak. Aku pun tahu bahwa keputusan tentang lingkungan tidak pernah sesederhana memilih satu pihak lalu mengabaikan pihak lainnya.

Tetapi bukankah kemajuan seharusnya membuat kehidupan menjadi lebih baik, bukan memindahkan harga kemajuan itu kepada mereka yang paling sedikit memiliki kuasa untuk menolaknya?

Jika ada keuntungan yang diperoleh dari tanah, siapa yang menikmatinya? Jika ada kerusakan yang ditinggalkan, siapa yang membersihkannya? Dan jika sebuah kawasan terbakar, apakah tanggung jawab akan berhenti pada asap yang menghilang dari pandangan?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak nyaman. Namun, barangkali memang sudah waktunya manusia merasa tidak nyaman terhadap sesuatu yang selama ini terlalu mudah dianggap biasa.

Ketika Kehancuran Menjadi Hal Biasa

Ada satu hal yang paling kutakutkan dari kebakaran yang terus berulang.

Bukan semata-mata kemungkinan bahwa aku akan kehilangan lebih banyak pohon. Bukan pula bahwa suatu hari nanti suara satwa di dalam diriku akan semakin jarang terdengar.

Aku takut manusia mulai terbiasa.

Terbiasa melihat langit berubah kelabu. Terbiasa mengenakan masker ketika asap datang. Terbiasa membaca berita tentang lahan yang terbakar, lalu menggulir layar untuk mencari kabar berikutnya.

Aku takut kehilangan perlahan-lahan berubah menjadi kebiasaan, sementara kebiasaan membuat sesuatu yang seharusnya mengusik hati terasa seperti bagian biasa dari kehidupan.

Barangkali itulah cara paling sunyi sebuah bencana memenangkan pertarungannya: ketika manusia tidak lagi terkejut melihat kehancuran.

Padahal, di balik setiap berita tentang kebakaran, ada kehidupan yang tidak pernah masuk seluruhnya ke dalam judul. Ada orang-orang yang harus menunda pekerjaannya, ada keluarga yang mengkhawatirkan kesehatan anak-anak mereka, ada satwa yang kehilangan tempat berlindung, dan ada tanah yang membutuhkan waktu panjang untuk memulihkan dirinya.

Tidak semua kehilangan dapat dijadikan angka. Tidak semua penderitaan mampu diselesaikan dalam satu konferensi pers. Tidak semua kerusakan selesai ketika perhatian publik berpindah kepada persoalan lain.

Aku berharap manusia tidak menjadikan ingatan sebagai sesuatu yang semurah itu.

Ingatlah aku ketika api telah padam. Ingatlah aku ketika hujan kembali turun dan daun-daun muda mulai tumbuh. Ingatlah aku ketika udara terasa bersih, sehingga kalian lupa bahwa pernah ada hari-hari ketika bernapas saja menjadi sebuah kecemasan.

Sebab, menjaga hutan bukan hanya pekerjaan ketika bencana sedang berlangsung. Ia adalah kesediaan untuk mencegah, mengawasi, menindak pelanggaran, memulihkan kerusakan, dan memastikan bahwa kehidupan tidak terus-menerus menjadi korban dari kesalahan yang sama.

Kepada Siapa Pun yang Kelak Menemukan Surat Ini

Kepada siapa pun yang kelak menemukan surat ini,

Aku tidak tahu apakah suratku akan sampai ke meja kekuasaan. Mungkin ia berhenti di tengah perjalanan, tertimbun laporan, terselip di antara dokumen, atau terlupakan setelah perhatian orang-orang beralih.

Namun, jika suatu hari seseorang menemukannya, aku ingin ia memahami satu hal: Aku tidak terbakar sendirian.

Bersamaku, ada rumah bagi kehidupan yang tidak dapat berbicara di ruang sidang. Ada udara yang seharusnya dihirup tanpa rasa takut. Ada air yang bergantung pada tanah yang sehat. Ada masa depan anak-anak yang belum mengerti mengapa langit tempat mereka tumbuh kadang harus dipenuhi asap.

Dan ada manusia yang mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di dalam hutan, tetapi tetap bergantung pada keberadaannya.

Barangkali selama ini manusia mengira bahwa aku membutuhkan mereka untuk bertahan hidup. Dalam banyak hal, itu benar. Aku membutuhkan tangan yang bersedia menanam kembali, mata yang mengawasi, hukum yang ditegakkan, dan keputusan yang tidak mengorbankan kehidupan demi keuntungan sesaat.

Tetapi manusia pun membutuhkan sesuatu dariku.

Mereka membutuhkan udara yang layak dihirup, air yang cukup untuk kehidupan, tanah yang tetap mampu menopang masa depan, dan dunia yang tidak terus-menerus mewariskan kerusakan kepada generasi berikutnya.

Maka, jangan tunggu sampai aku benar-benar kehilangan suara untuk mulai mendengarkanku.

Jangan tunggu sampai pohon terakhir tumbang untuk bertanya apa yang sebenarnya telah hilang. Jangan tunggu sampai asap memenuhi rumah-rumah untuk mengingat bahwa menjaga alam tidak pernah cukup dilakukan melalui kata-kata.

Aku masih di sini.

Di antara batang-batang yang tersisa, di atas tanah yang menghitam, di dalam akar yang berusaha bertahan, aku masih menyimpan kemungkinan untuk tumbuh kembali.

Tetapi harapan pun memiliki batas ketika terus-menerus diminta bertahan tanpa perlindungan.

Jika surat ini akhirnya sampai kepadamu, jangan biarkan ia hanya dibaca. Jangan biarkan ia menjadi kalimat indah yang dipuji karena bahasanya, lalu dilupakan ketika halaman berikutnya dibuka.

Sebab, aku tidak menulis surat ini agar manusia merasa sedih sesaat.

Aku menulisnya karena aku masih ingin hidup.

Dan jika suatu hari nanti aku benar-benar tak lagi mampu mengirimkan surat, aku berharap manusia tidak baru menyadari kehilangan setelah tak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan.

Dari hutan yang masih berharap,
yang mungkin tak pernah sampai ke meja kekuasaan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua