Berjalanlah, tak perlu tergesa-gesa untuk berlari. Sebab cinta selalu ada bagi hati yang berhati-hati.
Dalam rasa syukur, aku tak ingin lagi tersungkur. Kepada cinta yang tak ingin ku sangkal, sebab ia nyata dan bukan khayal.
Tentang sebuah nama yang membuatku betah memeriksa layar ponsel lebih sering dari biasanya. Bukan karena ada hal yang begitu penting. Hanya saja, barangkali ada pesan singkat atau sekedar emoji dan stiker lucu yang bisa membuat pagi jadi lebih ceria, siang menjelma teduh, sore berubah hangat, dan malam menjadi nyenyak sebelum do'a-do'a menjelang tidur dilangitkan.
Kepadanya, sebuah nama lain dari jenis pepohonan Cypress...
Aku merindukan kita yang saling berkicau berisik manakala motor menembus kabut polusi dari mobil listrik, tentang kemana kita akan makan malam atau sekedar saling menyandarkan bahu dan punggung di atas gelaran terpal angkringan di sepanjang hulu sungai.
Kepadanya, sebuah nama lain dari jenis buah Zaitun...
Aku terkadang tersenyum mengingat gurauan kita yang sesekali dihadang oleh macetnya jalanan Karah menjelang jam pulang kerja. Tentang pendengaranmu yang padahal aku sudah berteriak keras namun tak dapat kau dengar dengan jelas, mungkinkah helm itu terbuat dari batu bata? Pun sesekali kaki mungilmu ku pijat ringan agar tak bosan dirimu duduk di atas jok motor yang hampir menipis.
Kepadanya, yang caranya berhijab mirip olahan Tamago...
Aku ingin mengelilingi sudut yang katanya Kota Pahlawan ini bersamamu, menghabiskan lebih banyak waktu akhir pekan dengan bahagia (mungkin dengan sedikit cemberut darimu). Banyak sekali tempat tersembunyi yang belum kita jamahi dan kita abadikan. Namun, kadang kala kita saling berseteru bukan karena tempatnya jelek atau mahal, lebih sering karena aku membangunkanmu terlalu pagi atau tumpukan baju kotormu tak lekas tercuci.
Tak jarang sembari menunggu engkau terbangun dari waktu tidur pagimu, aku berkeliling komplek yang rimbun di pertengahan kota agar nampak bugar saat menjemputmu.
Dan kepadanya—berarti juga perihal cara dia tersenyum saat dimsum mentai favoritnya masih menguap, tentang raut kesalnya tiap ajakan makan seblak ku tolak demi kesehatan lambungnya, tentang gaya centilnya setiap berfoto, tentang cerianya saat strawberry cokelat memenuhi mulutnya, tentang wajah tengilnya yang jadi andalan ketika kalah berdebat, tentang sambatnya pegal saban malam, tentang wajah tanpa make-upnya di tiap panggilan daring, tentang kebiasaannya kembali terlelap padahal jam bangun tidur sudah terlewat—serta bahagia dengan segala repot yang ia libatkan aku di dalamnya.
Caramu memanggil namaku, caramu menenangkanku yang dirundung gejolak, caramu yang mengingatkanku untuk tampil bersih, caramu yang mengingatkanku cara berhemat, dan segalanya, aku masih menyimpan setiap hal kecil tentangmu yang bagiku itu sangat berharga.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab