RUNTUT.COM - Bayangkan sebuah benda langit berdiameter beberapa kilometer melaju menuju Bumi dengan kecepatan puluhan ribu kilometer per jam. Ia tidak perlu menyentuh permukaan untuk mulai menimbulkan bencana. Dalam hitungan detik setelah memasuki atmosfer, energi yang dibawanya dapat dilepaskan dalam skala yang jauh melampaui senjata manusia.
Skenario seperti itu bukan sekadar cerita fiksi ilmiah. Bumi memang pernah dihantam asteroid, bahkan berkali-kali sepanjang sejarah geologisnya.
Salah satu yang paling terkenal terjadi sekitar 66 juta tahun lalu, ketika sebuah asteroid berukuran kira-kira 10 kilometer menghantam wilayah yang sekarang menjadi Semenanjung Yucatán, Meksiko. Tumbukan itu membentuk Kawah Chicxulub dan menjadi salah satu faktor utama yang berkaitan dengan kepunahan massal yang mengakhiri zaman dinosaurus non-unggas.
Pertanyaannya sekarang: jika asteroid sebesar itu kembali menuju Bumi, apakah manusia hanya bisa pasrah?
Apa sebenarnya asteroid itu?
Asteroid adalah benda batuan atau logam yang tersisa dari proses pembentukan Tata Surya sekitar 4,6 miliar tahun lalu.
Sebagian besar asteroid berada di wilayah antara orbit Mars dan Jupiter yang dikenal sebagai sabuk asteroid utama. Namun, gangguan gravitasi planet, terutama Jupiter serta interaksi dengan benda langit lain dapat mengubah orbit sebagian asteroid.
Ada pula asteroid yang orbitnya melintasi atau mendekati orbit Bumi. Benda-benda seperti ini disebut Near-Earth Objects (NEO). Tidak semua NEO berbahaya.
Sebuah asteroid dapat berada relatif dekat dengan orbit Bumi tetapi tidak pernah benar-benar berada di jalur tumbukan. Astronom menghitung orbitnya dan memperkirakan posisinya selama bertahun-tahun atau bahkan berabad-abad ke depan.
Mengapa asteroid bisa menabrak Bumi?
Tata Surya bukanlah tempat yang sepenuhnya tenang. Planet, asteroid, komet, dan benda langit lainnya terus bergerak di bawah pengaruh gravitasi. Orbit benda-benda tersebut juga dapat berubah perlahan.
Dalam keadaan tertentu, sebuah asteroid dapat mengalami perubahan orbit sehingga jalurnya mendekati orbit Bumi.
Jika pada suatu waktu Bumi dan asteroid berada di tempat yang sama pada waktu yang sama, terjadilah tumbukan.
Namun, kemungkinan tersebut sangat sulit dihitung hanya dengan melihat posisi asteroid saat ini.
Astronom harus memperhitungkan banyak hal, termasuk:
- kecepatan asteroid;
- arah geraknya;
- bentuk dan ukuran orbit;
- pengaruh gravitasi Matahari;
- pengaruh planet lain;
- efek termal yang dapat mengubah orbit asteroid secara perlahan;
- serta ketidakpastian dalam hasil pengamatan.

Karena itu, asteroid yang semula terlihat mengkhawatirkan bisa saja kemudian dinyatakan tidak berbahaya setelah orbitnya diketahui dengan lebih baik.
Apa yang terjadi ketika asteroid memasuki atmosfer?
Atmosfer Bumi merupakan penghalang pertama. Benda kecil biasanya tidak pernah mencapai permukaan. Gesekan dan tekanan atmosfer dapat membuatnya memanas, pecah, lalu terbakar. Inilah yang kita lihat sebagai meteor atau “bintang jatuh”.
Jika benda tersebut cukup besar, sebagian materialnya dapat mencapai permukaan. Batu yang berhasil sampai ke tanah disebut meteorit. Tetapi semakin besar objeknya, semakin ekstrem peristiwanya.
Asteroid berukuran puluhan meter dapat menghasilkan ledakan atmosfer yang sangat kuat. Salah satu contoh modern adalah peristiwa Chelyabinsk di Rusia pada 2013.
Objek yang diperkirakan berdiameter sekitar 20 meter meledak di atmosfer dan menghasilkan gelombang kejut yang merusak bangunan serta menyebabkan banyak orang terluka, terutama akibat pecahan kaca.
Ini menunjukkan bahwa asteroid tidak harus mencapai permukaan untuk menimbulkan kerusakan.
Bagaimana jika asteroid berukuran kilometer? Di sinilah ancamannya berubah menjadi bencana global.
Energi tumbukan tidak hanya bergantung pada ukuran, tetapi juga pada massa dan terutama kecepatan.
Sebuah asteroid besar dapat menghantam Bumi dengan energi yang sangat besar.
Pada saat tumbukan:
1. asteroid mengalami kehancuran dan penguapan sebagian;
2. batuan permukaan Bumi ikut meleleh atau menguap;
3. material terlontar ke atmosfer;
4. terbentuk kawah raksasa;
5. gelombang kejut menyebar dari titik tumbukan;
6. gempa besar dapat terjadi;
7. jika terjadi di laut, tsunami dapat terbentuk;
8. debu dan material aerosol dapat menyebar ke atmosfer.
Dampaknya kemudian tidak berhenti pada lokasi tumbukan.
Chicxulub: ketika asteroid mengubah sejarah kehidupan
Sekitar 66 juta tahun lalu, sebuah asteroid dengan diameter kira-kira 10 kilometer menghantam wilayah dekat pantai yang sekarang berada di Yucatán, Meksiko.
Tumbukan tersebut membentuk Kawah Chicxulub, struktur raksasa berdiameter sekitar 180 kilometer yang sebagian berada di daratan dan sebagian berada di bawah Teluk Meksiko. Energi tumbukannya luar biasa.
Material dari tumbukan terlontar ke atmosfer dan menyebar sangat luas. Debu serta aerosol kemudian memengaruhi iklim Bumi.
Cahaya Matahari yang mencapai permukaan berkurang. Temperatur global mengalami perubahan. Ekosistem terganggu. Rantai makanan kemudian ikut terdampak.

Organisme yang bergantung pada produktivitas tumbuhan dan fitoplankton menghadapi tekanan besar. Hewan-hewan di berbagai ekosistem kemudian mengalami keruntuhan populasi.
Hasil akhirnya adalah salah satu kepunahan massal terbesar dalam sejarah Bumi. Sekitar 75 persen spesies diperkirakan hilang dalam peristiwa kepunahan Kapur–Paleogen.
Dan ada satu konsekuensi yang sangat penting bagi sejarah manusia. Dinosaurus non-unggas lenyap.
Dengan hilangnya banyak kelompok dominan pada masa itu, evolusi mamalia mendapatkan peluang baru. Puluhan juta tahun kemudian, salah satu cabang mamalia tersebut akhirnya menghasilkan manusia.
Dengan kata lain, sebuah asteroid yang menghantam Bumi 66 juta tahun lalu ikut membentuk dunia tempat kita hidup sekarang.
Apakah tumbukan asteroid pernah terjadi sebelum Chicxulub? Ya.
Bumi memiliki sejarah tumbukan yang sangat panjang. Salah satu struktur tumbukan terbesar yang diketahui adalah Vredefort di Afrika Selatan, yang terbentuk sekitar 2 miliar tahun lalu.
Ada pula Sudbury Basin di Kanada, yang terbentuk sekitar 1,85 miliar tahun lalu. Banyak kawah lainnya jauh lebih muda, seperti Meteor Crater di Arizona, yang terbentuk sekitar 50.000 tahun lalu akibat tumbukan asteroid berukuran puluhan meter.
Masalahnya, sebagian besar permukaan Bumi terus berubah. Erosi, aktivitas vulkanik, pergerakan lempeng tektonik, sedimentasi, dan perubahan permukaan laut dapat menghapus atau menyamarkan bukti tumbukan.
Karena itu, jumlah tumbukan yang pernah terjadi sebenarnya jauh lebih banyak daripada jumlah kawah yang dapat kita lihat sekarang.
Seberapa sering Bumi ditabrak asteroid?
Asteroid kecil sebenarnya memasuki atmosfer Bumi secara relatif sering.
Namun, semakin besar objeknya, semakin jarang peristiwanya. Objek berukuran meter dapat memasuki atmosfer tanpa menjadi berita besar. Objek puluhan meter jauh lebih jarang.
Asteroid berukuran sekitar satu kilometer atau lebih jarang lagi. Sedangkan tumbukan seperti Chicxulub dengan objek sekitar 10 kilometer merupakan peristiwa yang sangat langka dalam skala waktu manusia.
Jadi manusia tidak perlu hidup dalam ketakutan bahwa asteroid raksasa akan menghantam Bumi setiap beberapa tahun.
Namun, karena konsekuensinya sangat besar, bahkan probabilitas yang kecil tetap layak dipantau.
Bagaimana manusia mengetahui ada asteroid yang menuju Bumi?
Inilah salah satu perubahan terbesar dalam sejarah manusia. Dulu, kita hanya bisa menunggu. Sekarang kita dapat melakukan planetary defense.
Astronom menggunakan teleskop untuk menemukan benda-benda yang bergerak melintasi langit. Pengamatan berulang memungkinkan mereka menentukan orbit benda tersebut. Data kemudian dibandingkan dengan posisi Bumi pada masa depan.
Jika sebuah asteroid memiliki kemungkinan mendekati Bumi, orbitnya dihitung ulang secara terus-menerus.
Semakin banyak observasi yang diperoleh, semakin kecil ketidakpastian orbitnya.
Sistem pemantauan seperti yang dilakukan NASA dan lembaga astronomi lainnya memungkinkan manusia mengetahui banyak asteroid jauh sebelum mereka mendekati Bumi. Dan ini menghasilkan satu keuntungan yang sangat penting: waktu.







