Era digital membuat hidup menjadi lebih cepat, praktis, dan terhubung. Namun di sisi lain, ada ruang sosial yang perlahan hilang: anak-anak makin jarang bermain langsung, anak muda makin sering merasa sendiri, dan interaksi banyak berpindah ke layar.

Mojokerto Dolanan hadir di tengah situasi itu. Bukan sebagai gerakan anti-gadget, melainkan sebagai penyeimbang. Kegiatan ini ingin mengajak anak-anak, keluarga, dan anak muda kembali merasakan pengalaman bermain langsung melalui permainan tradisional.

Putri, penanggung jawab acara Mojokerto Dolanan, mengatakan kegiatan ini lahir dari keresahan terhadap kondisi anak muda yang merasa hopeless, tidak punya tujuan, tidak punya semangat, dan tidak punya teman bercerita. Karena itu, Mojokerto Dolanan dibuat sebagai wadah berkumpul, bermain, dan berbagi.

Dalam konteks teknologi, Mojokerto Dolanan menarik karena tidak menolak dunia digital. Panitia justru menggunakan media sosial untuk menarik peserta, membangun komunitas, dan mendokumentasikan kegiatan.

Putri menjelaskan, Mojokerto Dolanan memiliki strategi publikasi digital. Mereka aktif di media sosial dan bekerja sama dengan kreator untuk mendokumentasikan serta mempublikasikan kegiatan. Panitia juga meminta bantuan jejaring pemerintahan untuk membagikan informasi agar Mojokerto Dolanan semakin dikenal.

“Kita aktif di sosial media. Kita juga bekerja sama dengan teman-teman kreator untuk mendokumentasikan atau mempublikasikan secara digital,” kata Putri.

Ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertentangan dengan teknologi. Justru teknologi bisa menjadi alat distribusi, sedangkan pengalaman bermain tetap dijaga di dunia nyata.

Putri menyebut Mojokerto Dolanan ingin menjadi jembatan antara kebudayaan lokal dan permainan masa kini. Menurutnya, keseimbangan itu penting agar anak-anak tidak sepenuhnya terputus dari akar budaya, tetapi juga tidak menolak perkembangan zaman.

“Jadi Mojokerto Dolanan adalah jembatan atau penyeimbang antara kebudayaan lokal dengan permainan masa kini. Tetap seimbang, tetap balance,” ujarnya.

Kegiatan ini juga ingin membuat konten edukasi tentang sejarah permainan tradisional. Menurut Putri, rencana itu sudah ada dan ke depan akan diisi dengan lebih banyak kegiatan berbasis konten.

Sebagai praktisi teknologi, fenomena Mojokerto Dolanan menarik karena memperlihatkan pola baru transformasi sosial. Komunitas lokal tidak hanya memakai media sosial untuk promosi, tetapi untuk menggerakkan warga hadir secara fisik. Dari layar, orang diajak keluar rumah. Dari konten, orang diajak bertemu. Dari nostalgia, lahir ruang sosial baru.

Di era digital, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana membuat anak-anak melek teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan mereka tetap punya kemampuan bersosialisasi, bergerak, berkomunikasi langsung, dan mengenal budaya.

Mojokerto Dolanan menawarkan jawaban sederhana: teknologi tetap dipakai, tetapi kehidupan sosial tidak boleh hilang.