Runtut.com

Trilogi Surya dalam Lajur Semesta

Sebab yang terbiasa memberi, boleh pula lelah menadah sunyi.

2 menit baca
Jelang senja menadah nestapa dan menuntunnya ke pelukan fana, biarlah sajak ini lahir menjadi serpih cahaya yang sempat
Jelang senja menadah nestapa dan menuntunnya ke pelukan fana, biarlah sajak ini lahir menjadi serpih cahaya yang sempat singgah di antara hidup dan senyap. Bersama kita yang padam, bahkan sebelum semesta sempat berduka. — pexels.com

Episode 3: Raksasa Merah

Di ambang napasnya, waktu mencekak dengan keji. Sisa hidrogen lesap, menyusut lalu merekah; menggembung dalam nestapa.

Sang Surya yang konon penyayang, perlahan menjulang sebagai raksasa merah berkilau murka. Lapis demi lapis cahayanya menggerus orbit, mulutnya menganga, melumat penghuni inti tata surya.

Buah dan kasihnya remuk dalam sekali kata, sementara samudra mendidih tanpa doa.

Tak ada waktu tuk ucapkan selamat tinggal, hanya gemuruh kosmik yang tertanam dalam jiwa, bersama elegi yang tersisa ruang hampa.

Penjuru fajar membuncah, menjadi perapian yang membakar lintasan.

Ia... tak lagi sama?

"Kasih kadang beralih rupa, sebab tangan yang memberi boleh pula lelah menadah sunyi."

Magelang, Oktober 2026 — oleh Nurul H.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua