Runtut.com

Trilogi Surya dalam Lajur Semesta

Sebab yang terbiasa memberi, boleh pula lelah menadah sunyi.

2 menit baca
Jelang senja menadah nestapa dan menuntunnya ke pelukan fana, biarlah sajak ini lahir menjadi serpih cahaya yang sempat
Jelang senja menadah nestapa dan menuntunnya ke pelukan fana, biarlah sajak ini lahir menjadi serpih cahaya yang sempat singgah di antara hidup dan senyap. Bersama kita yang padam, bahkan sebelum semesta sempat berduka. — pexels.com

Episode 2: Deret Utama

Kini, Surya berkelana di lajur semesta: menimang sistem sol dengan pijar yang dipunya; mengalun fotosfernya bersenandung lirih; menyuar bahasa kasih yang luput dari telinga si fana.

Nyala dari jantungnya... menautkan diri menjadi helium, memancarkan gelora, menembus hampa tuk' menyulam kehidupan.

Ia kira... cinta tertinggi berarti kilau yang rela dibagi,

atas pengorbanannya;

bumi bersemi subur, anak-anaknya belajar menamai musim, menulis syair di bawah kasihnya.

Dan mereka tak pernah tahu, setiap pagi lahir dari katai kuning yang perlahan matang oleh waktu.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua