Naik dengan Kupu-kupu, Jatuh di Meja Kuasa: Ketika Kritik Berbalut Bahasa Cinta
Belakangan ini, anak muda lebih suka mengawinkan diksi-diksi cinta dengan kebijakan rezim yang makin di luar nalar. Simak trend satire politik masa kini!
Cara kritik elegan ala anak muda — Sumber: pexels.com
RUNTUT.COM — Ada cara baru bagi generasi muda untuk meluapkan kritik dan keresahannya mengenai situasi politik saat ini. Belakangan mereka lebih suka mengawinkan diksi-diksi cinta dengan absurditas negara demokratis.
Tulisan-tulisan itu menjadi anotasi yang makin menjamur di platform Substack. Biasanya dibuka dengan hook retoris dan kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tebak. Lebih Dulu Aku Jadi Pacarmu apa duluan ia 2 periode?
Tulis Giggs dalam unggahan berjudul Rezim Bangsat, Koruptor Anjing Sisanya Tahi Kucing Kalau Kamu Kapan jadi Pacarku?
Tulisan Substack yang tengah ramai diperbincangkan — Sumber: Giggs
Cinta tak lagi disimbolkan dengan bunga atau frasa romantis, melainkan disandingkan dengan kenyataan getir bagaimana kekuasaan bekerja dalam ruang domestik. Pada tulisan tersebut, penulis menyatukan dua realita kontras dalam satu benturan makna sehingga mampu menggugah emosi pembaca.
Ntik.. maaf ya, kita harus berpacaran sambil lari-larian dulu. Nanti kalo sudah aman di ujung sana, aku jadikan kamu pacarku dengan seikat es teh cekek yang aku beli pakai uangKU bukan hasil donasi.
Dalam kacamata sastra, pola kontras semacam ini disebut bathos, yakni topik emosional yang tiba-tiba beralih menjadi hal konyol sehingga menciptakan efek menggelitik. Setiap paragraf mengandung pola naik turun yang sama. Diawali dengan kalimat gombal, lalu dibenturkan pada realitas politik yang dialami penulis.
Sementara itu, kecenderungan yang sama juga dituangkan 085.ZAR dalam tulisannya yang bertajuk Sayang, Bolehkah Aku Mencintaimu Seperti Negeri yang Disetir Rezim Sialan?
Tulisan yang diunggah di Substack — Sumber: 085.ZAR
Tulisan tersebut mengunakan pendekatan yang lebih struktural dengan menjadikan kata 'bak' sebagai motor penggerak narasinya.
Sayangku, kan kucintai kau serampangan bak negeri yang dipaksa telanjang—dilucuti antek-antek yang kian menggasak pundi praja yang dibuatnya lintang-pukang.
Kutipan ini menunjukkan bahwa formula tulisan menggunakan majas simile sebagai bentuk perbandingan langsung. Berbeda dengan esai sebelumnya yang bermain dengan antiklimaks.
Pembaca diajak untuk melihat dua kenyataan berbeda yang berjalan seiringan. Sebuah ironi ketika penulis menyatakan ingin mencintai kekasihnya secara serampangan sama halnya negara yang ditelajangi antek-antek. Ungkapan yang menyiratkan bahwa obsesi telah membutakan penguasa untuk menguras kekayaan tanah air.
Kendati demikian, tulisan-tulisan Substack tersebut bermuara pada satu keresahan yang sama, yakni menolak tunduk pada pembungkaman.
Baik menggunakan majas simile atau bathos, keduanya sama-sama berhasil meruntuhkan sekat antara ruang privat dan kebijakan publik.
Melalui pendekatan satire romantis ini, carut marut kebijakan rezim tidak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang jauh, melainkan telah menjadi bagian yang dekat dan terasa nyata merusak hingga ke kehidupan paling intim.