Kapan terakhir kali kita tertidur dengan benar-benar tenang?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi manusia modern, ia seperti pertanyaan yang membutuhkan keberanian untuk dijawab. Sebab tidur kini bukan lagi sekadar perkara memejamkan mata. Ada pekerjaan yang ikut berbaring di samping kepala, ada kecemasan tentang hari esok yang diam-diam menjadi teman paling setia.
Tubuh mungkin telah sampai di rumah, tetapi pikiran masih tertinggal di gedung tempat kita menghabiskan sebagian besar umur.
Besok ada rapat. Besok ada revisi. Besok ada target. Besok ada tuntutan baru yang datang dengan wajah berbeda, tetapi membawa beban yang sama.
Manusia bangun, mandi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulang semuanya kembali.
Sebuah lingkaran yang tampak biasa, tetapi menyimpan pertanyaan paling tua dalam sejarah manusia yakni untuk apa semua ini dilakukan?
Di antara lorong panjang kehidupan yang semakin bising itu, lagu-lagu Hindia hadir seperti catatan kecil yang ditulis seseorang di sudut meja kerja. Ia tidak datang sebagai jawaban besar, melainkan sebagai suara yang menemani manusia ketika dirinya mulai kehilangan arah.
Dalam "Secukupnya", Hindia berbicara kepada mereka yang terlalu lama berpura-pura kuat. Mereka yang tersenyum ketika bertemu orang lain, tetapi diam-diam membawa tubuh yang sudah kelelahan. Mereka yang mengejar keberhasilan sampai lupa bertanya apakah dirinya masih bahagia.
Lagu itu seperti mengetuk bahu manusia yang sibuk berlari, lalu berkata bahwa berhenti sebentar bukan sebuah kegagalan.
Sebab terkadang yang paling menguras tenaga bukan pekerjaan, melainkan perasaan bahwa diri sendiri selalu kurang.
Dari sana, Hindia membawa pendengarnya menuju ruang yang lebih gelap melalui "Janji Palsu". Dunia modern sering menawarkan kesuksesan seperti sebuah janji suci. Seolah manusia akan menemukan kebahagiaan setelah memiliki jabatan, uang, pengakuan, dan pencapaian.
Namun, ada kalanya manusia sampai di puncak yang ia impikan dan menemukan bahwa tempat itu ternyata tidak menyediakan apa-apa selain ruang kosong.
Kesuksesan mungkin pernah datang, tetapi ia tidak selalu menetap.

Manusia yang awalnya mengejar dunia, perlahan menyadari bahwa dirinya hanya menjadi tamu dalam rumah bernama kehidupan.
Kekosongan itu kemudian berubah menjadi "Dehidrasi". Bukan kekeringan pada tubuh, melainkan kekeringan dalam diri. Manusia kehilangan sumber air yang membuatnya merasa hidup karena terlalu lama berada dalam lingkungan yang menyerap seluruh tenaganya.
Pesan yang tidak berhenti masuk. Tuntutan yang tidak pernah selesai. Harapan orang lain yang harus terus dipenuhi.
Semuanya seperti racun kecil yang diminum setiap hari hingga manusia lupa bahwa dirinya sedang perlahan kehilangan diri sendiri.
Bahkan, di zaman ketika manusia dapat merasa lelah hanya dengan membuka layar telepon, "Forgot Password" menjadi gambaran tentang hubungan manusia dengan dunia maya. Ruang digital yang awalnya dianggap sebagai jembatan perlahan berubah menjadi lorong penuh kebisingan.
Manusia melihat kehidupan orang lain, membandingkan dirinya, mengejar pengakuan, lalu kehilangan kemampuan untuk mendengar suara dari dalam dirinya sendiri.
Barangkali manusia modern bukan kehilangan arah.
Ia hanya terlalu lama berjalan mengikuti arah yang dibuat orang lain.
Maka lahirlah keinginan untuk melakukan "Evakuasi".
Ada masa ketika manusia ingin menjauh dari segala hal. Bukan karena membenci kehidupan, tetapi karena terlalu lama menjadi tempat singgah bagi masalah orang lain. Ia ingin pergi sebentar dari notifikasi, pertemuan, tuntutan, dan pandangan manusia yang merasa paling tahu dirinya.








