Runtut.com

Manusia yang Selalu Online dan Tuhan yang Tak Pernah Dihubungi

Makin banyak yang disapa, kian jauh yang dilupa. Membaca ironi manusia modern dalam puisi “Doa Orang yang Sibuk 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya."

2 menit baca
1
Ilustrasi manusia modern yang terhubung dengan duniawi, tetapi perlahan terasing dari dirinya sendiri.
Ilustrasi manusia modern yang terhubung dengan duniawi, tetapi perlahan terasing dari dirinya sendiri. — Sumber: Rumaysho.com

RUNTUT.COM — Ada yang ganjil dari kehidupan manusia hari ini. Kita makin mudah terhubung dengan siapa saja, namun interaksi hanya sebatas angka. Ponsel mendekatkan yang berjauhan, menghadirkan koneksi tanpa batasan, dan membuat dunia seolah dalam genggaman.

Akan tetapi, di tengah kesibukan duniawi itu, ada kedekatan yang justru perlahan kehilangan tempat yakni hubungan manusia dengan Tuhannya.

Melalui puisi "Doa Orang yang Sibuk 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya,” Joko Pinurbo memotret realitas pahit tersebut. Lewat diksi sederhana nan sirat akan makna, penulis menggambarkan kehidupan manusia modern yang terlalu sibuk terhubung dengan maya hingga lupa ke mana seharusnya ia pulang.

Puisi "Doa Orang yang Sibuk 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya"

Tuhan, ponsel saya

rusak dibanting gempa.

Nomor kontak saya hilang semua.

Satu-satunya yang tersisa

ialah nomor-Mu.

Tuhan berkata:

Dan itulah satu-satunya nomor

yang tak pernah kau sapa. 

Kekuatan utama puisi ini justru terletak pada kesederhanaannya. Dalam mengkritik kebiasaan manusia modern, penulis menggunakan simbolisme yang sangat dekat dengan keseharian kita, yakni ponsel dan nomor kontak yang kemudian dibawa ke dalam ranah spiritual. Baitnya singkat dan padat, menjadi cerminan kesibukan orang-orang modern yang tidak punya banyak waktu untuk merenung.

Larik pertama menyuguhkan bahasa metaforis, karena secara harfiah gempa tidak membanting ponsel. Kalimat Tuhan, ponsel saya rusak dibanting gempa. Menjadi perwakilan dari guncangan masalah yang terjadi pada manusia sehingga membuatnya sadar telah kehilangan koneksi dengan hal-hal yang esensial.

Ketika ponsel rusak dan seluruh nomor kontak menghilang, segala bentuk jaringan duniawi mendadak terputus, yang tersisa hanya “nomor-Mu.”

Larik tersebut menjadi sebuah ironi. Pernyataan Satu-satunya yang tersisa ialah nomor-Mu tentu bukan nomor dalam pengertian literal. Tuhan tidak memiliki nomor fisik, melainkan hanya dapat dihubungi melalui ibadah 5 waktu dan doa.

Mirisnya, manusia begitu akrab dengan logika “menghubungi” dan “terhubung”, tetapi kedekatan dengan Tuhan justru tidak hadir dalam rutinitas kesehariannya. Nomor Tuhan yang tersisa bukan karena sulit ditemukan, melainkan karena memang sengaja tidak disapa.

Dalam situasi semacam itu, alienasi spiritual kian tumbuh dapat disadari. Bukan karena manusia tidak membutuhkan Tuhan, tetapi perhatian manusia terus menerus direngut oleh notifikasi, validasi, perkerjaan, hiburan, dan berbagai urusan duniawi lainnya. Sehingga pada akhirnya, manusia makin sulit menyediakan ruang untuk merenung pada Sang Pencipta.

Puisi ini sangat relevan dengan kondisi manusia sekarang. Di mana ponsel dan teknologi digital lainnya telah mendominasi kehidupan sehari-hari, menciptakan jarak paling jauh antara manusia dengan Tuhannya.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua