Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru dan Jejaknya dalam Sastra Indonesia
Mengenal Amir Hamzah, pangeran Melayu dan sastrawan Pujangga Baru. Simak kisah hidup, karya abadi, serta pengabdian sang Pahlawan Nasional untuk Indonesia.
Tokoh sastrawan Indonesia Amir Hamzah — foto: arsipmanusia.com
Runtut.com – Amir Hamzah, merupakan seoarang sastrawan Indonesia yang terkenal sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru” lahir di Binjai, Langkat, Sumatra Utara, 28 Februari 1911. Ia terlahir dari kalangan feodal yaitu keluarga bangsawan Melayu dan merupakan cicit Sultan Musa, Sultan Kerajaan Langkat.
Pada tahun 1916, ia mulai belajar di Hollandsch Inlandsche School (HIS, setingkat SD) di Tanjung Pura, kota tempat kelahirannya. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke MULO (SMP) di Medan tahun 1924 kemudian pindah ke Jakarta.
Setelah menamatkan pelajarannya di MULO, ia masuk Algemeene Middlebare School (SMA) A1 yaitu jurusan Sastra Timur di Solo.
Ia kembali lagi ke Jakarta untuk mengikuti Rechtooge School (Sekolah Hakim Tinggi) sampai menjadi kandidat Sarjana Muda Hukum.
Selama belajar di Pulau Jawa ia memasuki dunia pergerakan kemerdekaan dengan aktif di organisasi Indonesia Muda dan bersahabat dengan tokoh-tokoh pergerakan, seperti Mr. Raden Pandji Singgih dan K.R.T Wedyodi.
Di Tahun 1933, bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane, ia mendirikan majalah Pujangga Baru, majalah sastra yang mendobrak kekakuan sastra di zaman itu.
Ia pernah menyalin Bhagavad Gita dan dimuat bersambung mulai tahun 1933 hingga 1935 di majalah Pujangga Baru.
Selain sastra berbahasa Melayu, ia juga tertarik dengan sastra asing terutama sastra Asia dan juga menerjemahkan karya sastra berbahasa India, Persia, dan Tiongkok yang kemudian berada dalam Setanggi Timur pada tahun 1939.
Kegemaran Amir Hamzah
Kegemaran dan kepiawian menulis saja itu berlanjut hingga saat ia melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta.
Dalam kumpulan sajak Buah Rindu yang ditulis antara tahun 1928 dan t1935, tapak perubahan lirik pantun dan syair Melayunya menjadi sajak yang lebih modern.
Tahun 1931, ia telah memimpin Kongres Indonesia Muda di Solo. Pergaulannya dengan para tokoh pergerakan nasional itu telah mewarnai dunia kesusasteraannya.
Sebagai sastrawan dan melalui karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Amir telah memberikan sumbangan besar dalam proses perkembangan dan pematangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia.
Dalam suratnya kepada Armijn Pane pada bulan November 1932, ia menyebut bahasa Melayu adalah bahasa yang molek.
Bagi Amir, Bahasa Indonesia adalah simbol dari kemelayuan, kepahlawanan dan keislaman. Hal ini tercermin dari syair-syair Amir yang merupakan refleksi dari relijiusitas, dan kecintaannya pada ibu pertiwi serta kegelisahan sebagai seorang pemuda Melayu.
Secara keseluruhan ada sekitar 160 karya Amir yang berhasil dicatat. Di antaranya 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli dan 1 prosa terjemahan.
Karya-karyanya tercatat dalam kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur dan terjemah Baghawat Gita.
Dalam dunia kesusastraan Amir Hamzah adalah seorang sastrawan yang sangat penting. Dari tangannya telah lahir puisi-puisi yang indah dan menarik. Dia berhasil menciptakan puisi-puisi dengan rangkaian kata yang khas Melayu.
Bukunya yang sudah terbit adalah Nyanyi Sunyi (1937), Buah Rindu (1941), Sastra Melayu Lama dengan Tokoh-Tokohnya (1941), dan Esai dan Prosa (1982).
Terjemahannya: Bhagawad Gita (dimuat dalam Poedjangga Baroe, 1933—1934), dan Setanggi Timur (terjemahan puisi Jepang, Arab, Inia, Persia, dll., 1939).
Berbagai karangan Amir Hamzah yang tersebar dihimpun oleh H.B. Jassin dalam Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (1963).
Sejumlah puisi Amir Hamzah terdapat dalam antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963, ed. H.B. Jassin).