RUNTUT.COM – Abdullah Idrus atau yang dikenal dengan Idrus lahir pada tanggal 21 September 1921 di Padang, Sumatera Barat merupakan sastrawan Indonesia Angkatan 45 yang dikenal sebagai pelopor prosa modern Indonesia.
Ia menempuh pendidikan di HIS, MULO, AMS, dan Sekolah Menengah Tinggi, lalu meraih gelar Master of Arts dari Universitas Monash, Australia (1974).
Setelah tamat dari MULO ia melanjutkan pendidikannya di AMS-SMT dan lulus pada tahun 1943. Idrus merupakan pendiri pembaharu prosa yang telah meninggalkan kesan yang besar bagi dunia sastra Indonesia.
Kepenulisan Idrus
Karya-karya Idrus ditulis dengan bahasa sehari-hari yang ringkas, sederhana, dan tanpa hiasan kata-kata. Persoalan yang sering menjadi tema utama karyanya adalah masalah-masalah sosial yang terjadi pada zamannya. Ia membongkar habis keadaan buruk dan kacau pada masa revolusi dan zaman Jepang.
Kekhasan gayanya dalam menulis pada masa itu membuatnya memperoleh tempat terhormat dalam dunia sastra, sebagai Pelopor Angkatan ‘45 di bidang prosa yang dikukuhkan H.B. Jassin dalam bukunya, walaupun Idrus menolak digolongkan ke dalam Angkatan ‘45.
“Surabaya” adalah salah satu cerpen karya Abdullah Idrus yang dimuat dalam kumpulan cerpennya Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1990).
Cerpen tersebut berkisah tentang keadaan saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI dari tentara Sekutu di Surabaya yang juga dikenal dengan Pertempuran 10 November 1945. Chaos. Intinya, keadaan yang digambarkan.
Pelarian-pelarian kehilangan rumah, mengungsi, dan menjadi gila; tentara berbambu runcing melawan tentara bersenjata baja; tentara RI adalah cowboy dan tentara Sekutu adalah bandit; pengeroyokan dan pembunuhan penghianat oleh orang-orang yang sudah sangat geram; dan sebagainya.
Sebagai prosais, Idrus menyampaikan “kegelisahannya” akan imperialisme lewat karya-karyanya dengan ungkapan kasar. Namun, itu tidak menandai bahwa Idrus adalah seorang yang kontrarevolusi. Caranya yang demikian justru menunjukkan seberapa bencinya Idrus terhadap imperialisme.
Seperti kutipan yang dijadikan judul tulisan ini “Ya! Imperialisme dan penyakit sipilis! Hancurkan!” (Idrus, 1990: 151), imperialisme disetarakan dengan penyakit sipilis; keduanya harus dihancurkan.








