Runtut.com

Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Angkatan ’45 dan Karya-Karyanya

bdullah Idrus menjadi salah satu nama penting dalam sastra Indonesia. Simak perjalanan hidup, karya, dan kiprahnya sebagai sastrawan Angkatan ’45.

3 menit baca
1
Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Angkatan ’45 dan Karya-Karyanya
Sastrawan Abdullah Idrus — foto: Wikipedia

RUNTUT.COM – Abdullah Idrus atau yang dikenal dengan Idrus lahir pada tanggal 21 September 1921 di Padang, Sumatera Barat merupakan sastrawan Indonesia Angkatan 45 yang dikenal sebagai pelopor prosa modern Indonesia.

Ia menempuh pendidikan di HIS, MULO, AMS, dan Sekolah Menengah Tinggi, lalu meraih gelar Master of Arts dari Universitas Monash, Australia (1974). 

Setelah tamat dari MULO ia melanjutkan pendidikannya di AMS-SMT  dan lulus pada tahun 1943. Idrus merupakan pendiri pembaharu prosa yang telah meninggalkan kesan yang besar bagi dunia sastra Indonesia. 

Kepenulisan Idrus

Karya-karya Idrus ditulis dengan bahasa sehari-hari yang ringkas, sederhana, dan tanpa hiasan kata-kata. Persoalan yang sering menjadi tema utama karyanya adalah masalah-masalah sosial yang terjadi pada zamannya. Ia membongkar habis keadaan buruk dan kacau pada masa revolusi dan zaman Jepang. 

Kekhasan gayanya dalam menulis pada masa itu membuatnya memperoleh tempat terhormat dalam dunia sastra, sebagai Pelopor Angkatan ‘45 di bidang prosa yang dikukuhkan H.B. Jassin dalam bukunya, walaupun Idrus menolak digolongkan ke dalam Angkatan ‘45. 

“Surabaya” adalah salah satu cerpen karya Abdullah Idrus yang dimuat dalam kumpulan cerpennya Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1990).

Karya-karya Terbaik Bapak Pelopor Prosa Angkatan '45 - Semilir
Karya-karya Terbaik Bapak Pelopor Prosa Angkatan '45 - Semilir — Sumber: Semilir

Cerpen tersebut berkisah tentang keadaan saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI dari tentara Sekutu di Surabaya yang juga dikenal dengan Pertempuran 10 November 1945. Chaos. Intinya, keadaan yang digambarkan. 

Pelarian-pelarian kehilangan rumah, mengungsi, dan menjadi gila; tentara berbambu runcing melawan tentara bersenjata baja; tentara RI adalah cowboy dan tentara Sekutu adalah bandit; pengeroyokan dan pembunuhan penghianat oleh orang-orang yang sudah sangat geram; dan sebagainya.

Sebagai prosais, Idrus menyampaikan “kegelisahannya” akan imperialisme lewat karya-karyanya dengan ungkapan kasar. Namun, itu tidak menandai bahwa Idrus adalah seorang yang kontrarevolusi. Caranya yang demikian justru menunjukkan seberapa bencinya Idrus terhadap imperialisme.

Seperti kutipan yang dijadikan judul tulisan ini “Ya! Imperialisme dan penyakit sipilis! Hancurkan!” (Idrus, 1990: 151), imperialisme disetarakan dengan penyakit sipilis; keduanya harus dihancurkan.

Karya-karya Idrus

Mengupas Tema dan Pesan Pada Novel “Aki” Karya Idrus Analisis Unsur Intrinsik | kumparan.com
Mengupas Tema dan Pesan Pada Novel “Aki” Karya Idrus Analisis Unsur Intrinsik | kumparan.com — Sumber: kumparan.com

Novel

  1. Aki (1949)

  2. Perempuan dan Kebangsaan (1949)

  3. Hati Nurani Manusia (1963)

  4. Hikayat Petualang Lima

  5. Hikayat Putri Penelope (1973)

Kumpulan cerita pendek

  1. Anak Buta

  2. Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948)

  3. Dua Episode Masa Kecil (1952)

  4. Dengan Mata Terbuka (1961)

Drama

  1. Dokter Bisma (1945)

  2. Jibaku Aceh (1945)

  3. Kejahatan Membalas Dendam (1945)

  4. Keluarga Surono (1948)

Karya terjemahan

  1. Acoka, drama G. Gonggrijp (1948)

  2. Ibu yang Kukenang

  3. Keju, novel Willem Elschot (1948)

  4. Kereta Api Baja 1496, novel Vsevold Ivanov (1948)

  5. Perkenalan, kumpulan cerita pendek Anton Chekov, Guy de Maupassant, Jaroslav Hasek, dan Luigi Pirandello (1949)

  6. Roti Kita Sehari-hari

Cerita anak

  1. Cerita Wanita Termulia (1952)

  2. Gorda (1951)

  3. Pesawat Terbang (1951)

Sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan prosa modern Indonesia, Idrus meninggalkan jejak melalui karya-karyanya yang merekam realitas sosial, pergolakan zaman, dan semangat perjuangan bangsa. Gaya penulisannya yang lugas serta keberaniannya mengangkat persoalan kemanusiaan menjadikan karya Idrus tetap relevan untuk dipelajari hingga kini.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Mengenal Chairil Anwar, Sang Penyair Angkatan ’45
Tokoh

Mengenal Chairil Anwar, Sang Penyair Angkatan ’45

Nama Chairil Anwar sudah tidak asing dalam dunia sastra Indonesia. Kenali lebih dekat sosok, perjalanan hidup, dan karya sang penyair Angkatan ’45.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 jam lalu
Johnny Salim: Ketika Baju Bekas Menjadi Harapan
Tokoh

Johnny Salim: Ketika Baju Bekas Menjadi Harapan

Kisah Johnny Salim membangun gerakan sosial yang mengubah baju bekas menjadi donasi untuk membantu anak-anak pasien kanker dan keluarga kurang mampu.

Mila Nabilah· 30 Juni 2026
Kisah Inspiratif Perempuan 23 Tahun yang Berani Bangun Kemandirian Lewat Jalan Wirausaha
Tokoh

Kisah Inspiratif Perempuan 23 Tahun yang Berani Bangun Kemandirian Lewat Jalan Wirausaha

Mengenal Meli Maria, pengusaha muda 23 tahun di balik Seblak Prasmanan Teh Meli. Simak kisah inspiratifnya mematahkan keraguan dan membangun kemandirian.

Tegar Herlambang· 26 Juni 2026
Misi Besar dr Agustiawan Membumikan Literasi Pencegahan Medis dan Menepis Hoaks Digital
Tokoh

Misi Besar dr Agustiawan Membumikan Literasi Pencegahan Medis dan Menepis Hoaks Digital

Menghadapi gempuran misinformasi kesehatan di media sosial, dr. Agustiawan menyuarakan pentingnya kolaborasi dan paradigma preventif di masyarakat.

Tegar Herlambang· 17 Juni 2026
Menelisik Nafas Pengabdian dr Agustiawan dan Filosofi Mendengar Cerita Hidup Pasien
Tokoh

Menelisik Nafas Pengabdian dr Agustiawan dan Filosofi Mendengar Cerita Hidup Pasien

Berakar dari pengalaman mendampingi sang ibu, dr. Agustiawan mendedikasikan hidupnya untuk merawat pasien dengan pendekatan holistik dan penuh empati.

Tegar Herlambang· 17 Juni 2026
Visi Besar H. Musaffa Safril Menjawab Stigma Banser dan Membawa Ansor Ramah Generasi Z
Tokoh

Visi Besar H. Musaffa Safril Menjawab Stigma Banser dan Membawa Ansor Ramah Generasi Z

Ketua PW GP Ansor Jatim, H. Musaffa Safril, angkat bicara soal stigma politik Banser dan visinya menjadikan Ansor ruang bertumbuh bagi Generasi Z.

Tegar Herlambang· 17 Juni 2026