Ada hal-hal yang aneh dalam cara manusia mengingat. Kita bisa lupa di mana meletakkan kunci rumah, lupa nama orang yang pernah menyapa di perjalanan, bahkan lupa detail tentang hari-hari yang dahulu terasa penting.

Namun, ada satu hal yang sering kali menolak untuk benar-benar hilang: seseorang yang pernah membuat kita merasa bahwa dunia adalah tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali.

Mungkin karena itu manusia sering kesulitan berdamai dengan kehilangan. Yang dirindukan terkadang bukan lagi orangnya, melainkan diri sendiri ketika masih bersamanya.

Kita merindukan seseorang yang dulu begitu mudah tertawa, seseorang yang percaya bahwa esok akan baik-baik saja, seseorang yang merasa memiliki tempat untuk pulang. Sebab ketika sebuah hubungan berakhir, yang pergi sering kali membawa sebagian kecil dari diri kita.

Perasaan semacam itulah yang berulang kali muncul ketika membaca Garis Waktu karya Fiersa Besari. Buku ini seperti membuka kembali lemari lama yang penuh dengan surat, foto, dan benda-benda kecil yang pernah kita simpan karena memiliki kenangan.

Ia tidak sekadar berkisah tentang cinta yang kandas, melainkan tentang manusia yang berusaha memahami mengapa sesuatu yang pernah begitu dekat akhirnya berubah menjadi sesuatu yang hanya bisa dikenang.

Tokoh utama dalam buku ini menjalani cinta sebagaimana kebanyakan manusia menjalaninya dengan harapan yang tumbuh perlahan, dengan keyakinan yang kadang terlalu besar, dan dengan keberanian yang bercampur ketakutan.

Pada awalnya, cinta terasa seperti sebuah rumah. Ada percakapan sederhana yang membuat hari terasa lebih ringan, ada kehadiran seseorang yang membuat kesunyian tidak lagi menakutkan, dan ada bayangan masa depan yang diam-diam mulai disusun.

Namun, manusia sering lupa bahwa rumah pun bisa kehilangan penghuninya. Sesuatu yang kita kira akan menetap ternyata memiliki waktu untuk pergi. Hubungan yang dahulu menjadi tempat berbagi cerita perlahan berubah menjadi ruang penuh pertanyaan.

Mengapa seseorang yang pernah begitu dekat bisa menjadi asing? Mengapa seseorang yang pernah berjanji untuk bertahan akhirnya memilih meninggalkan?

Pertanyaan semacam itu sering kali tidak memiliki jawaban yang benar-benar mampu memuaskan hati. Sebab kehilangan bukan perkara logika. Ia datang seperti hujan yang turun ketika seseorang lupa membawa payung. Kita tidak dapat menghentikannya, kita hanya dapat memilih untuk tetap berjalan atau terus berdiri menunggu langit kembali cerah.

Di titik inilah Garis Waktu berbicara lebih jauh tentang makna cinta. Fiersa Besari seperti ingin mengatakan bahwa cinta tidak selalu hadir untuk dimiliki. Ada orang-orang yang datang membawa kebahagiaan, lalu pergi meninggalkan pelajaran. Mereka mungkin tidak tinggal selama yang kita harapkan, tetapi kehadiran mereka pernah mengubah cara kita melihat dunia.

Perjalanan tokoh utama tersebut dapat dibaca melalui pemikiran Jean-Paul Sartre mengenai bad faith atau penipuan diri. Dalam pandangan Sartre, manusia terkadang bersembunyi dari kebebasannya sendiri dengan berpura-pura bahwa dirinya tidak memiliki pilihan. Manusia menciptakan alasan agar tidak perlu berhadapan dengan tanggung jawab atas keputusan yang harus diambil.

Dalam konteks cinta, bad faith sering muncul ketika seseorang terlalu lama hidup dalam bayangan yang ia ciptakan sendiri. Ia mempertahankan sesuatu yang sudah berubah karena takut menghadapi kenyataan.

Ia meyakinkan dirinya bahwa seseorang masih akan kembali, bahwa sebuah hubungan masih bisa diselamatkan, atau bahwa kebahagiaan hanya mungkin ditemukan bersama orang yang sama. Padahal, terkadang yang perlu diselamatkan bukan hubungan itu, melainkan dirinya sendiri.

Tokoh utama dalam Garis Waktu perlahan belajar keluar dari ruang semacam itu. Ia memahami bahwa mencintai seseorang bukan berarti menyerahkan seluruh makna hidup kepada orang tersebut. Ada kebebasan yang harus diterima, ada kehilangan yang harus dipeluk, dan ada kenyataan yang harus dihadapi meski terasa pahit.

Pada akhirnya, buku ini terasa seperti percakapan panjang pada sebuah malam ketika seseorang sedang belajar menerima kenyataan. Ia tidak menawarkan cara cepat untuk menyembuhkan patah hati. Ia hanya menemani pembaca memahami bahwa beberapa luka memang membutuhkan waktu, bukan untuk dilupakan, melainkan untuk diterima.

Karena itu, Garis Waktu menjadi bacaan yang tepat bagi mereka yang sedang berjalan melewati fase kehilangan, patah hati, atau masih mencari alasan mengapa seseorang harus pergi.

Buku ini mungkin tidak mampu mengembalikan seseorang yang telah hilang, tetapi ia dapat mengingatkan bahwa setiap pertemuan memiliki makna dan setiap perpisahan memiliki pelajaran. Sebab pada akhirnya, manusia tetap harus melanjutkan garis waktunya sendiri.