Apa Arti Level III atau Siaga?
Mengutip informasi Magma ESDM, aktivitas gunung api Indonesia terbagi menjadi empat tingkat.
Level I: Normal
Hasil pengamatan visual dan instrumental menunjukkan kondisi yang masih fluktuatif, tetapi belum terdapat peningkatan aktivitas yang signifikan.
Level II: Waspada
Hasil pengamatan mulai menunjukkan adanya peningkatan aktivitas. Pada beberapa gunung dengan status ini, erupsi masih mungkin terjadi.
Level III: Siaga
Aktivitas vulkanik menunjukkan peningkatan yang semakin nyata berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental. Pada kondisi ini, gunung api dapat mengalami erupsi sehingga masyarakat harus memperhatikan rekomendasi keselamatan dari pihak berwenang.
Level IV: Awas
Menunjukkan peningkatan aktivitas yang semakin nyata atau gunung api sedang mengalami erupsi.
Status tersebut dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan hasil evaluasi dan pemantauan terbaru.
Lima Gunung Level III dan Kondisinya
1. Anak Krakatau
Anak Krakatau berada di Kabupaten Lampung Selatan dengan ketinggian sekitar 157 mdpl.
Pada pengamatan pagi 6 September, erupsi menerus berhenti pukul 00.04 WIB, tetapi aktivitas kegempaan masih tercatat. Masyarakat dilarang mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
2. Lewotobi Laki-laki
Gunung Lewotobi Laki-laki berada di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dengan ketinggian 1.584 mdpl.
Pada pengamatan 00.00–06.00 Wita, asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis teramati setinggi sekitar 50–100 meter dari puncak.
Kegempaan yang tercatat antara lain dua kali gempa embusan, dua kali tremor non-harmonik, dua kali gempa frekuensi rendah dan 15 kali gempa tektonik jauh. Masyarakat dan wisatawan direkomendasikan tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Potensi banjir lahar hujan juga perlu diwaspadai, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
3. Merapi
Gunung Merapi berada di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten dengan ketinggian 2.968 mdpl.
Pada periode pengamatan 00.00–06.00 WIB, asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang teramati sekitar 10 meter dari puncak.
Dua guguran lava juga teramati menuju sektor barat daya. Guguran menuju hulu Kali Krasak mencapai jarak maksimum 1.600 meter, sementara guguran menuju hulu Kali Sat/Putih mencapai 1.500 meter. Bahaya Merapi terutama berupa guguran lava dan awan panas di sejumlah sektor.
Di sektor selatan-barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong hingga 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Masyarakat juga harus mewaspadai lahar, khususnya ketika hujan turun di sekitar Merapi.
4. Semeru
Semeru menjadi satu-satunya gunung api di Jawa Timur yang tercatat berstatus Level III dalam daftar tersebut. Aktivitas erupsi masih terpantau melalui 24 kali gempa letusan pada periode pengamatan 00.00–06.00 WIB.
Potensi bahaya meliputi awan panas, guguran lava, lontaran batu pijar dan lahar.
Besuk Kobokan menjadi salah satu kawasan yang mendapat pembatasan aktivitas paling luas karena potensi perluasan awan panas dan lahar.
5. Sinabung
Gunung Sinabung berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dengan ketinggian 2.460 mdpl.
Pada pengamatan pagi 6 September, gunung tertutup kabut dengan tingkat kabut 0-I hingga 0-III. Asap kawah tidak teramati. Tercatat satu kali tremor menerus dengan amplitudo 2 mm.
Masyarakat dan pengunjung tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di desa-desa yang telah direlokasi maupun dalam radius 3 kilometer dari puncak Sinabung. Pembatasan juga berlaku pada sektor selatan-tenggara hingga radius 6 kilometer.
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai berhulu di Sinabung diminta tetap mewaspadai potensi lahar.
Benarkah Ada Pipa Magma yang Menghubungkan Gunung-gunung Ini Jawabannya tidak.








