Runtut.com

Putin Ambil Alih Infrastruktur Strategis Rusia di Tengah Gelombang Serangan Ukraina

Putin izinkan pemerintah Rusia mengambil alih sementara infrastruktur strategis setelah serangan Ukraina mengancam fasilitas penting negara.

3 menit baca
8
Runtut.com
Presiden Rusia Vladimir Putin menetapkan kebijakan pengambilalihan sementara infrastruktur kritis untuk menghadapi ancaman serangan Ukraina. — Getty Images/@Yekaterina Shtukina

RUSIA - Presiden Rusia Vladimir Putin menerbitkan dekret yang memberi kewenangan kepada pemerintah untuk mengambil alih sementara pengelolaan infrastruktur strategis milik swasta jika dinilai gagal menjaga fasilitas tersebut dari ancaman serangan Ukraina.

Kebijakan tersebut berlaku sejak Senin dan muncul ketika Rusia serta Ukraina meningkatkan serangan udara ke wilayah masing-masing. Serangan Ukraina yang menyasar fasilitas di dalam wilayah Rusia disebut telah berdampak pada sejumlah sektor, termasuk gangguan pasokan bahan bakar dan aktivitas logistik.

Dekret tersebut mengatur bahwa pemerintah Rusia dapat menerapkan administrasi sementara terhadap fasilitas yang masuk kategori infrastruktur kritis, apabila pemiliknya tidak mengambil langkah keamanan yang memadai atau gagal memulihkan operasional setelah terjadi serangan.

Infrastruktur yang tercakup dalam aturan itu meliputi sektor energi, bahan bakar, komunikasi, transportasi, logistik, serta fasilitas lain yang dianggap memiliki peran penting bagi keamanan nasional Rusia.

Melalui mekanisme tersebut, negara dapat mengambil kendali sementara atas aset, hak kepemilikan, hingga saham perusahaan terkait. Namun, pemerintah Rusia belum menyebutkan perusahaan mana saja yang berpotensi terkena kebijakan tersebut.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan langkah itu diperlukan karena sejumlah pemilik fasilitas dinilai belum memberikan perhatian cukup terhadap perlindungan keamanan, termasuk sistem pertahanan terhadap serangan drone.

“Sering kali pemilik perusahaan tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap langkah-langkah untuk memastikan keamanan, termasuk keamanan antidrone,” kata Peskov kepada wartawan pada Selasa (25/8/2026).

Menurut Peskov, pemerintah akan melakukan analisis melalui lembaga terkait untuk menentukan fasilitas yang membutuhkan intervensi negara. Ia menyebut usulan pengambilalihan sementara akan diajukan apabila ditemukan sektor penting yang belum memiliki perlindungan memadai.

Kebijakan tersebut berkaitan dengan meningkatnya serangan Ukraina terhadap wilayah Rusia dalam beberapa waktu terakhir. Kyiv diketahui memperluas operasi drone dan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas yang dianggap berkaitan dengan kemampuan ekonomi serta logistik Rusia.

Salah satu sasaran yang mendapat perhatian adalah pusat logistik perusahaan perdagangan elektronik Ozon di Rusia. Serangan terhadap fasilitas tersebut disebut sebagai bagian dari upaya Ukraina menekan ekonomi Rusia yang semakin diarahkan untuk mendukung kebutuhan perang.

Di sisi lain, Rusia juga terus melancarkan serangan udara terhadap wilayah Ukraina. Angkatan Udara Ukraina melaporkan Rusia meluncurkan dua rudal dan sekitar 150 drone dalam satu serangan malam menuju wilayah Ukraina. Dari jumlah tersebut, 124 drone diklaim berhasil ditembak jatuh.

Serangan rudal Rusia terjadi ketika Ukraina menghadapi keterbatasan persediaan pencegat rudal Patriot buatan Amerika Serikat yang selama ini menjadi salah satu sistem utama pertahanan udara Kyiv.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan negaranya telah menerima sejumlah kecil rudal Patriot dari mitra internasional, tetapi jumlah tersebut belum mencukupi kebutuhan pertahanan udara Ukraina.

“Jumlahnya hanya sedikit. Kami membutuhkan lebih banyak,” ujar Zelensky dalam pertemuan dengan Presiden Estonia, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Ukraina Ukrinform.

Perkembangan terbaru menunjukkan perang Rusia-Ukraina tidak hanya berlangsung melalui pertempuran di garis depan, tetapi juga melalui perebutan kendali atas infrastruktur, energi, dan sistem ekonomi yang menopang kedua negara.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan Memicu Gelombang ProtesBreaking
Internasional

Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan Memicu Gelombang Protes

Pemerintah Azerbaijan memperketat aturan seragam sekolah berbasis sekularisme. Pelanggar terancam sanksi tegas hingga pemecatan.

Lusianti Dwi Cahyani· 12 jam lalu
"Pripun Kabare?" Begini Isi Pidato Bahasa Jawa Anggota Parlemen Malaysia Soal Asap Karhutla
Internasional

"Pripun Kabare?" Begini Isi Pidato Bahasa Jawa Anggota Parlemen Malaysia Soal Asap Karhutla

"Pripun kabare?" momen ketika Kalam Salan mendadak berganti bahasa Jawa dalam sidang Dewan Rakyat Malaysia, desak soal penanganan asap karhutla Indonesia.

Nurul Hidayah· 1 hari lalu
Anggota Parlemen Malaysia Desak Prabowo Atasi Karhutla dengan Serius
Internasional

Anggota Parlemen Malaysia Desak Prabowo Atasi Karhutla dengan Serius

Anggota Parlemen Malaysia, Kalam Salan meminta penanganan serius masalah asap karhutla Indonesia yang sudah lintas batas ke Malaysia.

Nurul Hidayah· 1 hari lalu
Manchester United Sedang Terpuruk, Como Punya Peluang Ciptakan Kejutan di Liga Champions
Internasional

Manchester United Sedang Terpuruk, Como Punya Peluang Ciptakan Kejutan di Liga Champions

Como menjamu Manchester United di Liga Champions 2026/2027. Bermodal kemenangan atas Fiorentina, tim Cesc Fàbregas berpeluang menciptakan kejutan.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu
PSG Tekuk Barcelona 4-2 di UEFA Champions League, Rekor Sempurna Blaugrana Terhenti
Internasional

PSG Tekuk Barcelona 4-2 di UEFA Champions League, Rekor Sempurna Blaugrana Terhenti

PSG mengalahkan Barcelona 4-2 di Liga Champions 2026/2027. Gol Vitinha dan Fabián Ruiz memastikan kemenangan sekaligus menghentikan rekor sempurna Blaugrana.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu
Prancis Mencekam! Kerusuhan di Paris, 1.200 Orang Ditangkap
Internasional

Prancis Mencekam! Kerusuhan di Paris, 1.200 Orang Ditangkap

Aksi demonstrasi pada 17-18 Oktober 2026 berubah menjadi peristiwa kelam bagi Prancis. Ratusan aparat terluka, gedung-gedung pemerintahan diserbu.

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu