UKRAINA - Serangan rudal balistik Rusia menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis dini hari, 20 Agustus 2026. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tiga orang, melukai 20 warga lainnya, serta menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan gangguan listrik di beberapa wilayah kota.

Ledakan terjadi setelah pasukan Rusia melancarkan serangan terhadap sejumlah titik di Kyiv. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko menyebut kebakaran besar muncul setelah rudal mengenai lantai atas sebuah gedung apartemen sembilan lantai.

Melalui aplikasi pesan Telegram, ia melaporkan terdapat warga yang terjebak di beberapa lokasi akibat dampak serangan tersebut.

“Orang-orang terjebak di tempat lain saat Moskow menghantam fasilitas nonperumahan dan apartemen, gudang, serta rumah sakit anak-anak,” kata Klitschko dalam keterangannya.

Sejumlah saksi mata mengaku mendengar lebih dari selusin ledakan yang mengguncang wilayah Kyiv. Selain korban di ibu kota, pejabat wilayah sekitar Kyiv juga melaporkan adanya satu korban meninggal dunia akibat serangan yang berlangsung secara luas tersebut.

Serangan terbaru ini kembali memperpanjang konflik antara Rusia dan Ukraina yang berlangsung sejak Moskow melancarkan invasi skala penuh pada Februari 2022. Selama lebih dari empat tahun, kedua negara masih terlibat dalam pertukaran serangan meskipun berbagai upaya diplomasi telah dilakukan oleh sejumlah pihak, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Upaya mencapai kesepakatan penghentian perang hingga kini belum menghasilkan gencatan senjata yang berkelanjutan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebelumnya menyatakan bahwa Kyiv telah menyerahkan proposal perdamaian kepada negosiator Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Namun, proses pembahasan proposal tersebut belum menunjukkan perkembangan signifikan. Witkoff dan Kushner diketahui terakhir kali berada di Moskow pada Januari lalu dan belum melakukan kunjungan ke Kyiv untuk membahas rencana penyelesaian konflik secara langsung.

Dari pihak Rusia, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan Moskow belum menerima proposal khusus terkait kemungkinan pertemuan lanjutan dengan negosiator Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan kepada surat kabar Izvestia.

Meski demikian, Zakharova menyebut Rusia tetap terbuka untuk mengatur pertemuan dalam waktu singkat apabila terdapat agenda yang jelas. Pernyataan itu disampaikan di tengah situasi perang yang masih berlangsung dan meningkatnya tekanan internasional agar kedua pihak kembali membuka jalur dialog.

Serangan terhadap Kyiv menjadi pengingat bahwa dinamika konflik Rusia-Ukraina masih jauh dari penyelesaian. Di tengah proses diplomasi yang belum menemukan titik temu, warga sipil tetap menjadi kelompok yang terdampak langsung dari rangkaian serangan militer kedua pihak.