Runtut.com

5 Kerajaan Besar di Kalimantan dan Raja-Raja yang Berpengaruh

Mengenal lima kerajaan di Kalimantan beserta raja-raja yang berperan dalam perkembangan pemerintahan, perdagangan, dan penyebaran Islam.

7 menit baca
Kerajaan Kutai Martapura (Kalimantan Timur)
Kerajaan Kutai Martapura (Kalimantan Timur) — foto: Kumparan.com

4. Kesultanan Pontianak (Kalimantan Barat)

Kesultanan Pontianak (Kalimantan Barat)
Kesultanan Pontianak (Kalimantan Barat) — foto: Indonesia.travel

Adalah kerajaan Islam yang terletak di Kalimantan Barat dan menjadi cikal bakal Kota Pontianak. 

  • Syarif Abdurrahman Al-Qadrie (1771–1808): Pendiri dan sultan pertama Pontianak yang membuka wilayah hutan di persimpangan Sungai Landak dan Sungai Kapuas sebagai pusat perdagangan.

    Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan pendiri Kota Pontianak sekaligus sultan pertama Kesultanan Pontianak.

    Kota Pontianak didirikan pada 23 Oktober 1771 di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar yang strategis untuk perdagangan dan pelayaran.

    Pada 1778, Syarif Abdurrahman resmi dikukuhkan sebagai sultan pertama. Pada masa pemerintahannya, ia membangun Istana Kadriah sebagai pusat pemerintahan dan Masjid Jami Pontianak sebagai pusat kegiatan keagamaan.

    Ia wafat pada 1808 dan dimakamkan di Batu Layang, Pontianak. Peninggalannya hingga kini menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas Kota Pontianak.

5. Kerajaan Kotawaringin / Kesultanan Kutaringin (Kalimantan Tengah)

Kerajaan Kotawaringin / Kesultanan Kutaringin (Kalimantan Tengah)
Kerajaan Kotawaringin / Kesultanan Kutaringin (Kalimantan Tengah) — FOTO: Kumparan.com

adalah satu-satunya kerajaan Islam yang pernah berdiri di wilayah Kalimantan Tengah 

  • Pangeran Adipati Antakusuma (Abad ke-17): Putra dari Sultan Banjar (Mustain Billah) yang diutus mendirikan kerajaan pecahan Banjar di wilayah barat Kalimantan. 

    Pangeran Adipati Antakusuma merupakan putra dari Sultan Mustain Billah (Sultan Banjar IV yang memerintah tahun 1595–1642). Saat pertama kali dinobatkan sebagai Raja Muda Kotawaringin, ia menggunakan gelar Pangeran Dipati Anta-Kasuma.

    Di masa tuanya, ia sempat kembali ke Banjarmasin untuk menjabat sebagai mangkubumi (perdana menteri) Kesultanan Banjar dan dianugerahi gelar Ratu Bagawan

    Ia mendirikan ibu kota pertama kerajaan di Kotawaringin Lama dengan membangun Istana/Astana Alnusari. Ratusan tahun kemudian (sekitar tahun 1814), pusat pemerintahan kerajaan ini dipindahkan ke Pangkalan Bun.

    Hubungan dengan Suku Dayak: Dalam proses membangun kerajaan, Pangeran Antakusuma melakukan diplomasi dan membuat kesepakatan damai dengan kepala suku Dayak setempaT.

    Yang bersedia menerimanya sebagai raja dengan syarat memperlakukan masyarakat lokal sebagai saudara dan mitra utama, bukan hamba. 

    Dalam menjalankan roda pemerintahan awal, ia dibantu oleh Kyai Gede, seorang tokoh berpengaruh yang diangkat menjadi Perdana Menteri (Mangkubumi) pertama Kotawaringin. 

    Kerajaan Kotawaringin berdiri sebagai kesultanan pecahan atau kepangeranan otonom yang berstatus sebagai vazal (negara bawahan) Kesultanan Banjar.

    Oleh karena itu, jika sang raja berkunjung atau dipanggil kembali ke pusat Kesultanan Banjar di Banjarmasin, sebutan gelarnya kembali menjadi Pangeran 


Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua