Runtut.com

5 Kerajaan Besar di Kalimantan dan Raja-Raja yang Berpengaruh

Mengenal lima kerajaan di Kalimantan beserta raja-raja yang berperan dalam perkembangan pemerintahan, perdagangan, dan penyebaran Islam.

7 menit baca
1
Kerajaan Kutai Martapura (Kalimantan Timur)
Kerajaan Kutai Martapura (Kalimantan Timur) — foto: Kumparan.com

RUNTUT.COM – Sebelum Indonesia merdeka pada 1945, Kalimantan menjadi wilayah berdirinya sejumlah kerajaan dan kesultanan yang berpengaruh dalam sejarah politik, perdagangan, dan kebudayaan Nusantara. Berikut lima kerajaan dan kesultanan di Kalimantan yang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia.

1. Kerajaan Kutai Martapura (Kalimantan Timur)

Kerajaan Kutai yang terkenal sebagai kerajaan hindu tertua di Indonesia merupakan kerajaan yang memiliki sejarah panjang sebagai cikal bakal lahirnya kerajaan-kerajaan lainnya di Indonesia.

Nama Kutai sendiri diketahui oleh para ahli mitologi saat setelah ditemukannya sebuah prasasti, yaitu Yupa. Prasasti Yupa diidentifikasi sebagai peninggalan asli dari pengaruh agama hindu dan budha yang menggunakan bahasa sansekerta dengan huruf pallawa.

Dari prasasti inilah kemudian ditemukan nama Raja Kudungga sebagai pendiri Kerajaan Kutai.  

  • Kudungga (Abad ke-4 M): Dianggap sebagai penguasa pertama dan pendiri struktur awal kerajaan berdasarkan bukti prasasti Yupa.

Sebelum pengaruh Hindu masuk, Kudungga merupakan kepala suku atau pemimpin komunitas lokal Dayak, bukan seorang raja dengan sistem pemerintahan yang teratur.

Nama Kudungga bercorak lokal asli Indonesia dan belum menggunakan unsur nama dari India.

Dalam prasasti Yupa, yang disebut sebagai wangsakarta (pendiri keluarga raja atau dinasti) adalah putranya sendiri, yaitu Aswawarman, karena Aswawarman mulai menggunakan gelar bercorak Hindu. Kudungga adalah ayah dari Aswawarman, dan kakek dari Mulawarman.   

  • Aswawarman: Anak dari Kudungga yang mulai memasukkan pengaruh Hindu dan bergelar Wangsakerta (pembentuk keluarga raja).

    Berbeda dengan ayahnya yang masih menggunakan nama asli Nusantara, nama “Aswawarman” menunjukkan bahwa beliau adalah raja pertama Kutai yang menggunakan nama bercorak India dan mulai mengadopsi pengaruh agama Hindu. 

    Beliau mendapatkan gelar Wangsakerta yang berarti pembentuk silsilah keluarga raja (dinasti).

    Gelar ini tertulis jelas dalam prasasti Yupa. Beliau dianggap sebagai pendiri dinasti karena pada masa pemerintahannya sistem pemerintahan kerajaan yang teratur mulai berjalan formal. 

  • Mulawarman: Raja terbesar Kutai Martapura yang terkenal menyumbangkan 20,000 ekor sapi kepada para brahmana serta membawa kerajaan ke puncak kejayaan.

    Mulawarman adalah salah satu dari tiga anak Raja Aswawarman dan menjadi penerus pemegang lampuk pemerintahan. Di masa pemerintahan Raja Mulawarman, kerajaan ini mencapai masa kejayaan.

    Raja Mulawarman dikenal sebagai seorang yang bijaksana dan royal dalam hal-hal yang religius. Beliau memberikan hadiah emas, tanah, dan ternak kepada para brahmana secara adil.

    Rakyat sangat menghormati raja mereka dengan menyelenggarakan kenduri demi keselamatan raja. Kebesaran Raja Mulawarman terlihat dalam tulisan-tulisan pada prasasti Yupa.

2. Kesultanan Banjar (Kalimantan Selatan)

Kesultanan Banjar (Kalimantan Selatan)
Kesultanan Banjar (Kalimantan Selatan) — foto: Indonesia.travel

Kesultanan Banjar adalah kerajaan bercorak Islam pertama di Kalimantan Selatan yang berdiri pada tahun 1562 dengan pusat pemerintahan awal di Kuin, Banjarmasin. 

  • Sultan Suriansyah (Raden Samudera, 1526–1540): Raja pertama Kesultanan Banjar yang memeluk Islam dan memindahkan pusat pemerintahan ke Bandarmasih.

    Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Sewaktu kecil namanya adalah Raden Samudera.

    Setelah memeluk Islam namanya menjadi Sultan Suriansyah. Ia merupakan Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak dialah agama Islam berkembang resmi dan pesat di Kalimantan Selatan. 

     Nama lahirnya adalah Raden Samudera kemudian ketika diangkat menjadi raja di Banjarmasin oleh para patih (kepala kampung) di hilir sungai Barito, ia memakai gelar yang lebih tinggi yaitu Pangeran Samudera atau Pangeran Jaya Samudera.

    Ia lebih terkenal dengan gelar Sultan Suriansyah, dari kata surya (matahari) dan syah (raja) yang disesuaikan dengan gelar dari Raden Putra (Rahadyan Putra) yaitu Suryanata (nata = raja) seorang pendiri dinasti pada zaman kerajaan Hindu sebelumnya. 

  • Sultan Mustain Billah (Abad ke-17): Raja yang membawa Banjar ke masa keemasan perdagangan lada dan meluaskan pengaruh wilayah kekuasaan.

  • Pada masa kekuasaan 1595-1642 (bergelar asli Raden Senapati atau Gusti Kacil, juga dikenal sebagai Marhum Panembahan).

    Banjar menjadi pusat dan eksportir utama lada hitam, serta komoditas lain seperti intan, emas, rotan, dan madu. Perdagangan internasional terjalin dengan Tiongkok, VOC, Inggris, dan Makassar. 

    Kemudian, Sultan Mustain Billah memindahkan pusat kekuasaan dan mendirikan kota Martapura. Kekuasaan Banjar meluas ke berbagai daerah di Kalimantan, termasuk Sambas, Lawai, Sukadana, Kotawaringin, Sintang, Kutai, hingga wilayah pedalaman dan pesisir. 

    Pada tahun 1683 Ia konflik dengan VOC, terjadi perlawanan anti-VOC di mana pasukan Banjar menyerang dan membakar loji VOC serta menewaskan puluhan orang Belanda dan Jepang. 

  • Sultan Muhammad Seman (1862–1905): Sultan terakhir yang meneruskan perlawanan sengit melawan kolonial Belanda hingga gugur dalam Perang Banjar.

    Pada masa kepemimpinannya menjabat sebagai pemimpin Pagustian/Kesultanan Banjar di Pedalaman (Wilayah hulu Sungai Barito seperti Murung Raya dan Muara Teweh) dari tahun 1862 hingga 1905. 

    Sultan Muhammad Seman gugur dalam pertempuran mempertahankan benteng baras kuning (Menawing, Puruk Cahu) pada 24 Januari 1905 akibat gempuran pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Christofel.

    Gugurnya Sultan Muhammad Senam menandai berakhirnya Perang Banjar yang telah berlangsung sejak 1859 sekaligus runtuhnya Kesultanan Banjar.  

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Malam Apresiasi Katadata 2026: Habibie, Gus Dur, dan William Soeryadjaya Raih Lifetime Achievement Award
Tokoh

Malam Apresiasi Katadata 2026: Habibie, Gus Dur, dan William Soeryadjaya Raih Lifetime Achievement Award

Katadata menganugerahkan Lifetime Achievement Award 2026 kepada B.J. Habibie, Gus Dur, dan William Soeryadjaya atas kontribusi besar mereka.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu
Garda Terdepan Kemanusiaan: Dedikasi Aktivis dan Pejuang Lingkungan Lokal Merespons Bencana Alam
Tokoh

Garda Terdepan Kemanusiaan: Dedikasi Aktivis dan Pejuang Lingkungan Lokal Merespons Bencana Alam

Dari evakuasi mandiri hingga advokasi kerusakan alam, simak bagaimana komunitas lokal dan aktivis lingkungan menjadi pilar utama pemulihan pascabencana.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu
Ketulusan Tanpa Batas: Kiprah Guru Inspiratif dan Pahlawan Literasi Menyalakan Asa di Pelosok Negeri
Tokoh

Ketulusan Tanpa Batas: Kiprah Guru Inspiratif dan Pahlawan Literasi Menyalakan Asa di Pelosok Negeri

Mengenal lebih dekat dedikasi Koko Triantoro, Ibu Een Sukaesih, hingga pejuang perahu pustaka yang mendedikasikan hidupnya demi meratakan kualitas pendidikan.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie: Anak Harus Dipandang Setara dengan Orang Dewasa
Tokoh

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie: Anak Harus Dipandang Setara dengan Orang Dewasa

“Sebagai orang dewasa, kita perlu memandang tubuh anak-anak dengan kesetaraan, tidak dinilai kualitasnya berdasarkan usia, atau dituntut memenuhi standar lain,”

Andini Putri Lestari· 1 minggu lalu
Kejayaan 5 Kesultanan Islam di Sumatera Sebelum Kemerdekaan
Tokoh

Kejayaan 5 Kesultanan Islam di Sumatera Sebelum Kemerdekaan

Jejak Peradaban Kesultanan Sumatera Mengubah Wajah Nusantara. Intip profil singkat 5 kesultanan Islam legendaris di Pulau Sumatera dan peninggalan sejarahnya.

Lusianti Dwi Cahyani· 2 minggu lalu
Dr. (H.C.) Martha Tilaar Wafat, Dimakamkan di San Diego Hills
Tokoh

Dr. (H.C.) Martha Tilaar Wafat, Dimakamkan di San Diego Hills

Tokoh kecantikan Indonesia Dr. (H.C.) Martha Tilaar wafat di usia 89 tahun. Almarhumah dimakamkan di San Diego Hills berdampingan dengan sang suami.

Mila Nabilah· 2 minggu lalu