Konten baca tarot di TikTok kian digemari generasi muda — Sumber: pexels.com
RUNTUT.COM — Aktivitas membacatarotdi platform TikTok kini ramai digandrungi Gen Z. Praktik ini hadir sebagai ruang digital baru bagi generasi muda untuk mencari ketenangan dan mengurai kecemasan di tengah ketidakpastian hidup.
Secara antropologis, fenomena ini menandakan adanya desakralisasi, di mana tarot yang identik dengan mistisisme mulai dikemas menjadi konten digital yang terbuka dan interaktif.
Asal usul tarot
Mengenal asal usul tarot — Sumber: pexels.com
Tarot yang kini dikenal sebagai media ramalan, pada awalnya merupakan permainan kartu yang berkembang di Eropa pada abad ke-15. Kartu ini memiliki ragam variasi, tetapi umumnya terdiri atas kartu dengan empat jenis simbol dan 21 kartu khusus.
Penggunaan tarot sebagai sarana ramalan baru dikenal pada tahun 1781 melalui Antoine Court de Gebelin. Ia merupakan seorang berkebangsaan Prancis yang percaya bahwa gambar pada kartu tarot menyimpan pengetahuan mistik dari Mesir Kuno.
Kepercayaan mengenai asal-usul dan fungsi tarot terus berkembang sejak saat itu. Pada era modern, tarot kembali populer khususnya di kalangan anak muda.
Pembaca tarot di TikTok yang kini ramai digandrungi anak muda — Sumber: TikTok @Nyi Sekar
Seiring perkembangan zaman, tarot tak lagi terbatas pada praktik ramalan konvensional. Di media sosial seperti TikTok, YouTube, dan Instagram, pembacaan tarot dikemas dalam video singkat, live streaming, hingga jasa konsultasi berbayar.
Dalam perspektif antropologi, fenomena ini menjadi representasi bahwa tarot digital telah berevolusi sebagai hiburan, sarana ekspresi diri, sekaligus ruang untuk mencari ketenangan emosional. Perubahan ini memperlihatkan bagaimana praktik yang sebelumnya bersifat mistis dapat mengalami penyesuaian dengan kebiasaan masyarakat modern.
Validasi di tengah dinamika hidup
Faktor yang mendorong ketertarikan generasi mudah terhadap pembacaan tarot adalah kebutuhan untuk memperoleh kepastian di tengah dinamika hidup. Persoalan hubungan asmara, pilihan karir, pendidikan, hingga masa depan menjadi alasan pendorong seseorang mencari alternatif instan untuk memahami situasi tersebut.
Berdasarkan literatur yang berkembang, tarot digambarkan sebagai sarana yang bisa membantu individu untuk merefleksikan perasaan dan pengalaman pribadinya. Simbol-simbol pada kartu ditafsirkan berdasarkan kondisi serta pengalaman setiap orang, sehingga hasil pembacaan tarot terasa relate dengan persoalan yang tengah dihadapi.
Bagaimana algoritma bekerja dan memengaruhi penonton
Platform Tiktok — Sumber: pexels.com
Selain kebutuhan emosional, algoritma media sosial juga turut berperan dalam memperluas paparan konten tarot. Fitur FYP (For Your Page) di Tiktok memungkinkan pengguna makin sering untuk menemukan konten pembacaan tarot.
Video tarot yang membahas perihal nasib percintaan hingga peluang masa depan dapat seketika menarik perhatian penonton karena topiknya terasa dekat dengan pengalaman pribadi. Sebagian pengguna cenderung memakai kemunculan video tersebut sebagai sesuatu yang menggambarkan kondisi mereka.
Di sisi lain, pembacaan tarot juga telah berkembang menjadi layanan komersial. Sejumlah akun menawarkan sesi yang lebih personal dan menuntut bayaran. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tarot bukan sekadar praktik spritual atau hiburan semata, melainkan jadi bagian dari bisnis.
Memahami tarot secara kritis
Meskipun tarot dapat menjadi hiburan sekaligus sarana mengevaluasi perasaan dan mempertimbangkan beberapa pilihan, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan. Beberapa hal diantaranya, yakni melemahnya pemikiran kritis seseorang, meningkatnya kecemasan, serta munculnya ketergantungan terhadap ramalan.
Oleh karena itu, aktivitas menonton reading tarot di live streaming TikTok perlu diimbangi dengan kesadaran penuh. Pembacaan tarot yang bersifat umum berlaku sebagai hiburan, bukan rujukan mutlak untuk menilai realitas kehidupan.
Salsabilla, P. K., et al. (2026). ANTARA HIBURAN DAN KEYAKINAN: FENOMENA PEMBACAAN KARTU TAROT DI MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI. Seminar Nasional Pariwisata dan Kewirausahaan (SNPK), 5, 1028–1036. https://usahid.ac.id/conference/index.php/snpk/article/view/592/521