3. Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura (Kalimantan Timur)

Adalah sebuah kesultanan yang terletak di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang merupakan hasil penggabungan antara kerajaan bercorak Hindu tertua (Kutai Martadipura) dan kerajaan Kutai Kartanegara.
Aji Raja Mahkota Mulia Alam (Abad ke-17): Penguasa yang menjadikan Islam sebagai agama resmi kesultanan. Memerintah sekitar 1525 - 1600 M, sebagai penguasa Kutai Kartanegara ke- 6 yang menjadi raja pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 1575 M berkat dakwah Tuan Tunggang Parangan.
Di masa pemerintahannya, Islam mulai dijadikan agama resmi dan disebarkan ke berbagai wilayah.
Proses masuknya Islam di Kutai terjadi pada masa pemerintahannya, yang dibawa oleh dua ulama besar dari Minangkabau yang datang melalui Sulawesi, yaitu Tuan Tunggang Parangan dan Datuk ri Bandang.
Setelah melalui proses dakwah dan adu kesaktian (menurut tradisi lisan/hikayat setempat), Aji Raja Mahkota akhirnya memeluk agama Islam. Langkah ini kemudian diikuti oleh seluruh keluarga kerajaan dan rakyat Kutai.
Sejak diterimanya Islam, hukum-hukum Islam mulai diintegrasikan ke dalam adat istiadat kerajaan, dan Kesultanan Kutai Kartanegara bertransformasi menjadi kesultanan Islam yang bercorak maritim dan agraris.
Sultan Aji Muhammad Parikesit (Naik takhta 1920): Sultan yang memimpin pada era modern awal, melakukan modernisasi istana, serta mengalami masa pendudukan Jepang sebelum bergabung dengan Republik Indonesia.
Beliau memprakarsai pembangunan Keraton Baru pada tahun 1936 yang terbuat dari beton (saat ini menjadi Museum Mulawarman) untuk menggantikan istana kayu sebelumnya, serta mendukung modernisasi infrastruktur dan pendidikan di wilayahnya.
Pada masa Perang Dunia II, beliau harus menghadapi tekanan militer Jepang yang menduduki wilayah Kalimantan Timur dan menguasai sumber daya minyak di Kutai.
Setelah Indonesia merdeka, Sultan Aji Muhammad Parikesit dengan sukarela mendukung kedaulatan Republik Indonesia. Pada tahun 1959, wilayah kesultanan resmi dihapus statusnya.









