Runtut.com

6 Tokoh Indonesia yang Berperan dalam Sejarah Kemerdekaan

Kenali enam tokoh berpengaruh dalam sejarah Indonesia, mulai dari Radin Inten II hingga Frans Kaisiepo, yang berjasa dalam perjuangan dan pembangunan bangsa.

4 menit baca
Tokoh pahlawan Indonesia, Nuku Muhammad Amiruddin
Tokoh pahlawan Indonesia, Nuku Muhammad Amiruddin — foto: ceknricek.com

RUNTUT.COM– Profil singkat beberapa tokoh termasyhur di Indonesia pasca-kemerdekaan yang berperan besar dalam membangun bangsa meliputi bidang politik, militer, ekonomi, diplomasi, hingga pemikiran sosial. 

Berikut 6 pahlawan termasyur yang berperan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

1. Pahlawan Nasional Lampung 

Tokoh pahlawan Indonesia, Radin Inten II
Tokoh pahlawan Indonesia, Radin Inten II — Foto: Waca Berita

Radin Inten II adalah pahlawan yang membela rakyat. Radin Inten II pejuang nasional (Lampung, 1834 - Lampung, 05 Oktober 1858) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia.

Namanya diabadikan sebagai sebuah Bandara Radin Inten II dan perguruan tinggi IAIN Radin Inten di Lampung. 

Berdasarkan penelitian, Radin Inten II gelar Kesuma Ratu masih keturunan Fatahillah yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati dari perkawinannya dengan Putri Sinar Alam, seorang putri dari Minak Raja Jalan Ratu dari Keratuan Pugung, cikal-bakal pemegang kekuasaan di keratuan tersebut. 

2. Pahlawan Nasional Maluku 

Tokoh pahlawan Indonesia, Kapitan Pattimura
Tokoh pahlawan Indonesia, Kapitan Pattimura — foto: iNews

Pattimura adalah pahlawan yang membela bangsa. Pattimura (atau Thomas Matulessy) pejuang yang membela rakyat.

Pada masa pasca-kemerdekaan, pemerintahan Indonesia mulai mendokumentasikan pahlawan-pahlawan daerah untuk memperkuat narasi identitas nasional. 

Melalui keputusan presiden No. 087/TK/1973 tanggal 06 November 1973, pemerintah RI secara resmi menetapkan Kapitan Pattimura sebagai pahlawan Nasional Indonesia. 

Pengangkatan ini menegaskan bahwa perjuangan lokal rakyat Maluku 1817 diakui sebagai bagian integral dari mata rantai sejarah menuju kemerdekaan Indonesia.

3. Nuku Muhammad Amiruddin 

Tokoh pahlawan Indonesia, Nuku Muhammad Amiruddin
Tokoh pahlawan Indonesia, Nuku Muhammad Amiruddin — foto: ceknricek.com

Merupakan pahlawan abad ke- 18 (lahir 1738 - wafat 1805), sehingga beliau tidak hidup pada masa pasca-kemerdekaan Indonesia. 

Pada masa pasca-kemerdekaan, pemerintah Indonesia secara resmi mengakui kepahlawanan Sultan Nuku.

Melalui Keputusan Presiden RI No. 071/TK/1995 yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 7 Agustus 1995, beliau secara sah dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia atas jasanya membebaskan Maluku dari penjajahan Belanda.

Profil Sultan Nuku memainkan peran penting dalam diplomasi politik Indonesia pasca-kemerdekaan, khususnya saat perebutan Irian Barat (Papua) dari Belanda.

Secara historis, wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore di bawah Sultan Nuku mencakup wilayah Seram hingga pesisir barat dan utara Papua. 

4. Herman Johannes

Tokoh pahlawan Indonesia Herman Johannes
Tokoh pahlawan Indonesia Herman Johannes — foto: Indonesiana

Herman Johannes merupakan pria kelahiran Rote, Nusa Tenggara Timur, pada 28 Mei 1912. Ia dikenal sebagai ilmuwan. Herman pernah juga pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) dari 1961 hingga 1966. Kemudian, dia diangkat menjadi Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti) pada tahun 1966 hingga 1979. 

Selain Bidang Akademis, Herman juga memiliki karier di bidang politik. Pada periode 1968-1978, dia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI. Kemudian dia juga pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum pada 1950-1951.

Tak hanya itu, Herman Johannes juga ternyata pernah menjadi peracik bom. Hal itu terjadi ketika pada masa agresi militer Belanda pertama dan kedua. Atas jasa-jasa itulah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar pahlawan nasional kepada  Herman Johannes pada 2009 lalu.

5. Frans Kaisiepo 

Tokoh pahlawan Indonesia, Frans Kaisiepo
Tokoh pahlawan Indonesia, Frans Kaisiepo — foto: detikcom

Frans Kaisiepo adalah Pahlawan Nasional Indonesia asal Papua yang berjuang menyatukan Irian Barat (Papua) ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pasca kemerdekaan. Ia menjadi orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di Papua.

Frans banyak berjuang di bidang politik. Pada tahun 1946, Frans adalah satu-satunya orang asli Papua yang diutus Nederlands Nieuw Guinea pada Konferensi Malino di Sulawesi Selatan.

Di sana dia menentang keras rencana penggabungan Maluku dan Papua menjadi Negara Indonesia Timur. Frans mengusulkan nama "Irian" untuk menggantikan "Papua", yang diambil dari bahasa Biak yang berarti "beruap" atau "panas". Nama ini kemudian digunakan secara resmi untuk menyebut wilayah tersebut.

Dalam mempertahankan kemerdekaan, Frans kemudian mendirikan Partai Indonesia Merdeka di Biak. Aksinya kemudian tidak berhenti di sana, ia melakukan segelintir perlawanan mempertahankan kemerdekaan hingga dipenjarakan oleh Belanda pada 1954 sampai 1961. 

6. K.H. Zainul Arifin 

Tokoh pahlawan Indonesia KH. Zainul Arifin
Tokoh pahlawan Indonesia KH. Zainul Arifin — foto: Republika.id

Merupakan seorang ulama, tokoh militer (Panglima Hizbullah), serta politikus penting dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Masyumi yang aktif membangun Indonesia pasca-kemerdekaan. K. H. Zainul Arifin Pohan adalah salah satu Pahlawan Nasional yang lahir di Tapanuli Tengah pada 2 September 1909.

Ia adalah keturunan bangsawan Barus, sebuah daerah di Sumatera Utara yang sudah dikenal sejak peradaban Mesir Kuno sebagai penghasil kapur barus. Beliau merantau ke Batavia di usia 16 tahun. Pasca Indonesia merdeka, ia tetap memimpin perjuangan gerilya Laskar Hizbullah, sembari bergabung di KNIP (cikal bakal DPR) sebagai perwakilan Partai Masyumi.

Setelah NU keluar dari Masyumi, ia menjadi perwakilan NU di DPRS. Kemudian pada 1953 di masa Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, ia bertindak sebagai Wakil Perdana Menteri dalam kabinet di era tersebut yang sukses menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika. Selain itu, K.H. Zainul Arifin Pohan terpilih sebagai Anggota Konstituante pada Pemilu 1955.

Setelah Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan Konstituante dan membentuk DPR-GR (DPR Gotong Royong), ia terpilih menjadi Ketua DPR-GR pertama, menggantikan Mr. R. M. Sartono yang sudah menjabat ketua sejak era DPR RIS, DPRS hingga DPR hasil Pemilu 1955. 

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua