Dibandingkan inovasi serupa yang umumnya hanya berfokus pada pengenalan huruf, angka, atau kosakata sederhana, VERO menawarkan kebaruan melalui pengembangan LMS inklusif yang mampu memfasilitasi komunikasi dua arah tanpa jeda dalam konteks pembelajaran formal. Hal ini menjadikan VERO sebagai solusi yang tidak hanya inovatif dari sisi teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan nyata pendidikan inklusif di Indonesia.

Proses pengembangan VERO dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari studi literatur, pengumpulan dataset gestur SIBI dan BISINDO, perancangan arsitektur sistem, pengembangan model AI berbasis deep learning, hingga pengujian awal untuk memastikan sistem mampu bekerja secara simultan dengan tingkat akurasi yang tinggi. 

Daffa Ahmad Al Attas selaku ketua tim menyampaikan harapannya agar VERO dapat menjadi langkah nyata dalam mendukung pemerataan akses pendidikan bagi seluruh mahasiswa.

“Melalui VERO, kami ingin menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, sehingga mahasiswa tunarungu dan tunawicara dapat berpartisipasi secara aktif tanpa hambatan komunikasi. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi jembatan dalam mewujudkan pendidikan yang lebih setara dan inklusif di Indonesia,” ujar Daffa.

Melalui pendanaan PKM 2026, tim berharap pengembangan VERO dapat berjalan secara optimal hingga menghasilkan prototipe yang siap diimplementasikan di lingkungan perguruan tinggi. Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat diadopsi oleh berbagai institusi pendidikan sebagai bagian dari transformasi digital menuju kampus yang lebih inklusif. 

Keberhasilan memperoleh pendanaan PKM-KC 2026 menjadi langkah awal bagi tim untuk mewujudkan VERO sebagai inovasi yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi terwujudnya pendidikan tinggi yang lebih inklusif. Melalui inovasi ini, diharapkan setiap mahasiswa termasuk penyandang tunarungu dan tunawicara, dapat memperoleh kesempatan belajar yang setara tanpa terhalang oleh keterbatasan komunikasi.