Runtut.com

KBGO Makin Marak Terjadi di Perguruan Tinggi, Pentingnya Pemahaman Gender di Kampus

Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) mulai mencuat di beberapa Perguruan Tinggi. Hal ini menunjukkan urgensi pendidikan gender di lingkungan kampus.

3 menit baca
1
KBGO Makin Marak Terjadi di Perguruan Tinggi, Pentingnya Pemahaman Gender di Kampus
Ilustrasi kekerasan gender berbasis online yang terjadi pada perempuan. — Pinterest

YOGYAKARTA - Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) belakangan ini marak terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Terbaru, kasus yang terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM).  

Kasus tersebut mencuat setelah beredar tangkapan layar percakapan di grup WhatsApp mahasiswa UGM. Isi percakapan itu diduga mengandung ujaran pelecehan seksual, objektifikasi perempuan, dan komentar cabul terhadap mahasiswi. 

Setelah dilakukan penyelidikan, UGM menyatakan terdapat 10 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Teknik terlibat dalam kasus tersebut. Sebagai sanksi, kampus kemudian menonaktifkan sementara para pelaku dari kegiatan akademik selama sekitar satu setengah bulan. 

Kasus serupa lebih dulu mencuat di kampus Universitas Indonesia (UI) pada April 2026.  Sebanyak 16 mahasiswa Fakultas Hukum UI terbukti melakukan pelecehan seksual berbasis elektronik melalui grup percakapan digital. Korban dilaporkan berjumlah 27 orang yang terdiri dari 20 mahasiswa dan tujuh dosen perempuan.  

Konferensi pers kasus pelecehan seksual di FH UI di Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Indonesia, Selasa (14/04).
Konferensi pers kasus pelecehan seksual di FH UI di Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Indonesia, Selasa (14/04). — Detik.com

Kemunculan kasus di UGM dan UI menunjukkan bahwa kekerasan gender di ruang digital juga dapat terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Sejalan dengan itu, Komisi Nasional Perempuan, dalam Catatan Tahunan 2025, mencatat terdapat 1091 kasus KBGO yang dilaporkan.  

Melihat banyaknya kasus yang terjadi, menjadi penting bagi sivitas akademika untuk memahami KBGO. Pasalnya, perilaku tersebut seringkali disederhanakan sebagai bentuk “candaan” dan dinormalisasi. 

Padahal, bentuk kekerasan yang terjadi di ruang digital lebih jauh dapat berdampak pada psikologis korban secara riil. Komnas Perempuan menyatakan bahwa dampak kekerasan tersebut dapat bersifat nyata, terukur, dan berlangsung lama. 

Korban dapat mengalami rasa cemas, malu, takut, bahkan depresi. Selain itu, jika terjadi pada mahasiswa, korban dapat mengalami gangguan konsentrasi, penurunan prestasi, menarik diri, hingga meninggalkan kegiatan akademik. 

Memahami Kekerasan Gender Berbasis Online

Merujuk SAFEnet, KBGO didefinisikan sebagai kekerasan yang terjadi atas dasar relasi kuasa gender antara korban dan pelaku di ranah online atau yang menggunakan teknologi digital sebagai medium. Layaknya kekerasan berbasis gender di dunia nyata, tindak kekerasan tersebut memiliki niatan atau maksud melecehkan korban berdasarkan gender atau seksual.

Di lingkungan perguruan tinggi, KBGO dapat terjadi karena adanya relasi kuasa dan budaya senioritas yang besar. Apalagi, kampus seringkali disebut sebagai zona pengkaderan. Hal itu tak ayal melahirkan relasi timpang antara senior dan junior, dosen dan mahasiswa, maupun pengurus dan anggota sebuah organisasi.

Dalam organisasi mahasiswa, misalnya, budaya senioritas dan proses kaderisasi dapat menciptakan relasi yang timpang apabila tidak disertai batas dan mekanisme perlindungan yang jelas. Ketimpangan tersebut dapat semakin problematik ketika korban berada dalam posisi yang memiliki akses atau kuasa lebih kecil dibandingkan pelaku.

Karena itu, pencegahan kekerasan berbasis gender tidak cukup dilakukan setelah kasus terjadi. Sebagai lingkungan intelektual, penting bagi kampus untuk meningkatkan pemahaman bersama sebagai upaya pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan. 

Hal tersebut dapat dilakukan dengan mewajibkan adanya materi pemahaman gender saat masa pengenalan kampus. Sehingga dalam proses belajar kedepannya, mahasiswa dan aktor kampus lainnya sudah memiliki bekal pemahaman yang sama. 

Dalam usaha tersebut, mengenal jenis-jenis KBGO menjadi langkah awal yang dapat dilakukan. Dalam buku panduan digital “Sebuah Panduan: Memahami dan Menyikapi Kekerasan Berbasis Gender Online” yang diluncurkan oleh SAFEnet, setidaknya terdapat delapan jenis KBGO, yaitu:

  1. Pendekatan untuk memperdaya (cyber grooming)

  2. Pelecehan online (cyber harassment) 

  3. Peretasan (hacking) 

  4. Konten ilegal (illegal content) 

  5. Pelanggaran privasi (infringement of privacy)

  6. Ancaman distribusi foto/video pribadi (malicious distribution) 

  7. Pencemaran nama baik (online defamation)

  8. Rekrutmen online (online recruitment)

Berbekal pemahaman tersebut, kiranya dapat meningkatkan kesadaran individu di lingkungan kampus terkait kekerasan gender berbasis online. Sehingga, bentuk-bentuk kekerasan dapat lebih cepat dikenali dan mencegah kasus yang sama terjadi untuk kesekian kalinya. 

Perguruan tinggi tidak semestinya hanya menjadi ruang transfer pengetahuan yang terpatok pada kurikulum mata kuliah saja. Lebih dari itu, kampus perlu menjadi ruang untuk mengkritisi norma dan praktik yang melanggengkan kekerasan berbasis gender.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Parkir Kampus Semrawut: Salah Mahasiswa atau Manajemen?
Ruang Kampus

Parkir Kampus Semrawut: Salah Mahasiswa atau Manajemen?

Puluhan sepeda motor memenuhi area parkir kampus Universitas Pamulang. Keterbatasan lahan membuat sebagian mahasiswa memarkir kendaraan di trotoar dan

Wardah Hafizhah· 1 hari lalu
HIMA PBIN Universitas Cipasung Resmi Dikukuhkan Warek III di Tengah Semangat Mahasiswa Baru
Ruang Kampus

HIMA PBIN Universitas Cipasung Resmi Dikukuhkan Warek III di Tengah Semangat Mahasiswa Baru

HIMA Pendidikan Bahasa Indonesia (PBIN) Universitas Cipasung resmi dikukuhkan oleh Warek III pada orientasi mahasiswa baru (Momaru), Rabu (23/9/2026).

Maya Sintasari· 1 minggu lalu
KKN-T Unesa Olah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi di Desa Patokpicis
Ruang Kampus

KKN-T Unesa Olah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi di Desa Patokpicis

Program pelatihan pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah merupakan keterampilan mengolah limbah menjadi produk bernilai jual

Naura Nancy Adellia · 1 minggu lalu
Langkah Mantap Menuju PIMNAS: Tim PKM-PM SERASI Paparkan Hasil Intervensi di PKP2
Ruang Kampus

Langkah Mantap Menuju PIMNAS: Tim PKM-PM SERASI Paparkan Hasil Intervensi di PKP2

Mahasiswa PKM STIKes Widya Dharma Husada terapkan terapi Tree of Life bagi WBS PSBL Harapan Sentosa 2 guna pulihkan konsep diri dan interaksi sosial.

Ferdian Trikusuma· 1 minggu lalu
Kembangkan Aplikasi BMI Berbasis IoT, Mahasiswa KKN UNY Dukung SDG 3 di Posyandu Dusun Terwilen 
Ruang Kampus

Kembangkan Aplikasi BMI Berbasis IoT, Mahasiswa KKN UNY Dukung SDG 3 di Posyandu Dusun Terwilen 

Mahasiswa KKN UNY kembangkan aplikasi BMI berbasis IoT untuk Posyandu Dusun Terwilen, Sleman guna permudah kader catat hasil ukur kesehatan lansia.

Ferdian Trikusuma· 1 minggu lalu
KKN-T Unesa Kenalkan Ecoprint untuk Asah Kreativitas dan Kepedulian Lingkungan Siswa SD di Malang
Ruang Kampus

KKN-T Unesa Kenalkan Ecoprint untuk Asah Kreativitas dan Kepedulian Lingkungan Siswa SD di Malang

Pelatihan kerajianan kreatif berbasis bahan alam dan pemanfaatan teknik ecoprint melatih motorik serta kesabaran siswa saat proses pembuatan

Naura Nancy Adellia · 1 minggu lalu