Parkir Kampus Semrawut, Siapa yang Harus Berbenah?

Deretan sepeda motor di trotoar dan bahu jalan masih menjadi pemandangan sehari-hari di banyak kampus, termasuk di Universitas Pamulang. Mahasiswa dan pengelola kampus kerap saling menunjuk. Padahal, persoalan ini sulit dibebankan pada satu pihak saja.

Bagi mahasiswa, parkir adalah soal waktu. Kelas pagi tidak menunggu mereka yang masih berputar mencari petak kosong. Ketika lahan resmi penuh, trotoar menjadi pilihan terdekat. Satu motor yang dibiarkan biasanya diikuti motor lain.

Dari sisi pengelola, pertambahan mahasiswa tidak diimbangi penambahan lahan parkir. [Isi dengan data dari kampus Anda: kapasitas parkir dibandingkan jumlah kendaraan harian.] Arus keluar-masuk kendaraan juga belum tertata, dan petugas keamanan jarang menindak pelanggar.

Namun, keterbatasan fasilitas tidak membenarkan pelanggaran. Motor di trotoar memaksa pejalan kaki turun ke badan jalan dan berisiko tertabrak.

Solusinya perlu datang dari kedua pihak. Kampus dapat menghitung ulang daya tampung parkir, menambah lahan atau membangun gedung parkir bertingkat, memasang rambu yang jelas, dan menegakkan aturan secara konsisten. Sistem parkir berbasis kartu mahasiswa juga layak dipertimbangkan agar ketersediaan slot dapat dipantau. Mahasiswa, di sisi lain, dapat berangkat lebih pagi, mematuhi rambu, dan menyampaikan keluhan lewat lembaga kemahasiswaan.

Parkir yang tertib tidak akan terwujud bila hanya satu pihak yang berbenah. Selama kampus belum menyediakan ruang yang memadai, aturan sulit ditegakkan. Selama mahasiswa masih memilih jalan pintas, ruang sebanyak apa pun tidak akan cukup.

Artikel ini ditulis oleh Wardah Hafizhah. Mahasiswa Manajemen S1, Universitas Pamulang, sebagai tugas mata kuliah Perencanaan SDM di bawah bimbingan bapak DODI PRASADA S.E., M.M.