MALANG—Di tengah masih terbatasnya akses pembelajaran yang inklusif bagi mahasiswa tunarungu dan tunawicara, tim mahasiswa Universitas Brawijaya menghadirkan inovasi VERO (Voice Recognition and Openness), sebuah Learning Management System (LMS) berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mendukung komunikasi dua arah melalui teknologi penerjemah bahasa isyarat secara langsung. Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 sebagai upaya menghadirkan solusi teknologi yang lebih inklusif di lingkungan pendidikan tinggi. 

Program ini dilaksanakan di bawah bimbingan Dr. Arif Widyatama, S.E., M.S.A. oleh tim mahasiswa yang diketuai oleh Daffa Ahmad Al Attas bersama Rafif Nabiha, Naurah Wasyilah, Maqrodza Najwa Putri Fadilah, serta Amanda Aulia Gusetya. Melalui kolaborasi lintas bidang tersebut, tim mengembangkan VERO sebagai solusi atas tantangan komunikasi yang masih menjadi hambatan dalam proses pembelajaran bagi mahasiswa tunarungu dan tunawicara. 

Di Indonesia, implementasi pendidikan inklusif masih terkendala hambatan komunikasi yang signifikan. Meskipun banyak perguruan tinggi telah mengadopsi LMS, sebagian besar platform tersebut belum dilengkapi fitur aksesibilitas yang mampu mendukung penerjemahan bahasa isyarat secara real-time. Kesenjangan ini memaksa mahasiswa penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara untuk terus bergantung pada penerjemah manual, sehingga kesetaraan akses belajar belum tercipta secara optimal.

Kondisi ini mendorong tim PKM Universitas Brawijaya untuk menghadirkan solusi inovatif melalui VERO. Sistem tersebut dirancang sebagai LMS inklusif yang mengintegrasikan teknologi AI, computer vision, dan voice processing untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih setara dan adaptif.

VERO memiliki berbagai fitur unggulan yang dirancang untuk meningkatkan aksesibilitas pembelajaran. Beberapa fitur utama yang dikembangkan meliputi penerjemahan bahasa isyarat ke Bahasa Indonesia secara real-time, speech-to-text, text-to-speech, digital whiteboard, diskusi daring interaktif, hingga presentasi kelas dengan captioning otomatis. Dengan fitur-fitur ini, komunikasi antara mahasiswa disabilitas dan non-disabilitas dapat berlangsung lebih efektif tanpa bergantung sepenuhnya pada penerjemah manual.

Keunggulan utama VERO terletak pada integrasi perangkat lunak dan perangkat keras yang saling mendukung. Selain platform berbasis web, sistem ini juga dilengkapi dengan modul kamera berbasis computer vision yang berfungsi sebagai unit pemrosesan visual tambahan. Teknologi ini memungkinkan sistem membaca gerakan bahasa isyarat secara lebih akurat dan stabil tanpa membebani perangkat utama pengguna.

Dalam tahap pengembangan awal, tim memfokuskan sistem pada pengenalan 26 gestur alfabet (A–Z) serta 12 kosakata dasar interaksi akademik berbasis Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Selanjutnya, sistem akan terus dikembangkan melalui penambahan dataset dan perluasan kosakata agar mampu mendukung komunikasi yang lebih kompleks.