Runtut.com

Jeritan Akar Rumput: Mengapa Kenaikan BBM Selalu Jadi Pemantik Utama Kemarahan Publik?

Kenaikan harga BBM nonsubsidi memicu efek domino bagi ekonomi rakyat. Benarkah APBN kita sudah di ambang batas aman? Simak analisisnya.

3 menit baca
8
Jeritan Akar Rumput: Mengapa Kenaikan BBM Selalu Jadi Pemantik Utama Kemarahan Publik?
Mahasiswa berorasi saat aksi unjuk rasa atau demo BBM naik di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Senin (5/9/2022). Sejumlah atribut unjuk rasa juga dibawa oleh para demonstran berupa bendera organisasi beserta spanduk-spanduk yang bertuliskan nada penolakan kenaikan harga BBM. — Liputan6.com/Angga Yuniar

Rantai Efek Domino yang Tak Terhindarkan

Para pengambil kebijakan sering berargumen bahwa yang dinaikkan adalah BBM nonsubsidi, sehingga rakyat kecil tidak akan terdampak langsung. Ini adalah simplifikasi yang berbahaya. Dalam ekosistem ekonomi kita, rantai pasok sangat bergantung pada transportasi darat.

Mari kita urai efek dominonya di lapangan:

  • Biaya Logistik Meroket: Kenaikan biaya bahan bakar langsung mengerek tarif angkutan barang. Sayur dari petani di daerah, bahan pokok dari pabrik, hingga distribusi logistik e-commerce seketika mengalami penyesuaian tarif.

  • Inflasi Sektor Pangan: Ongkos angkut yang mahal dibebankan ke harga jual barang di pasar. Pada titik ini, masyarakat yang gajinya stagnan harus membayar lebih mahal untuk sepiring nasi dan lauk yang sama.

  • Tergerusnya Omzet UMKM: Pedagang kecil tidak bisa serta merta menaikkan harga jual karena takut kehilangan pelanggan. Ujung-ujungnya, margin keuntungan mereka yang sudah setipis silet harus dipangkas habis-habisan demi bertahan hidup.

Hilangnya Kepercayaan pada "Efisiensi Negara"

Amarah mahasiswa dan publik yang tumpah pada aksi 12 Juni kemarin sebenarnya menemukan momentum puncaknya justru karena faktor eksternal di luar sektor energi. Masyarakat diminta mengencangkan ikat pinggang dan berhemat bensin, namun di saat yang sama mereka disuguhi tontonan pemborosan di pos-pos kementerian dan skandal program mega-proyek pemerintah.

Kritik tajam diarahkan pada inkonsistensi negara. Jika APBN memang sedang berdarah-darah, mengapa efisiensi tidak dimulai dari atas? Pemangkasan perjalanan dinas yang tidak esensial, penundaan proyek infrastruktur yang belum urgen, hingga penyusutan struktur birokrasi yang gemuk seharusnya menjadi langkah pertama. Meminta rakyat berkorban demi stabilitas fiskal sementara kebocoran anggaran masih terjadi di depan mata adalah sebuah penghinaan terhadap nalar publik.

Menakar Langkah ke Depan

Aksi blokade jalan dan eskalasi massa kemarin harus dibaca oleh pemerintah sebagai peringatan dini yang serius. Mengelola kebijakan harga energi tidak bisa murni menggunakan kacamata korporasi (untung-rugi). Ada aspek psikologi sosial yang harus dijaga.

Kedepannya, komunikasi publik pemerintah tidak bisa lagi sekadar berlindung di balik kata "terpaksa". Transparansi alokasi dana hasil penghematan subsidi harus bisa dilacak oleh publik hingga ke level akar rumput. Selama masyarakat merasa tidak ada keadilan dalam menanggung beban krisis, maka letupan-letupan di jalanan hanyalah bom waktu yang sedang mengatur ulang detiknya untuk meledak lebih besar.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Situasi Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah Tingkatkan KewaspadaanBreaking
Nasional

Situasi Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah Tingkatkan Kewaspadaan

Kemenhaj mencatat 37 jemaah umrah Indonesia melintasi Riyadh hingga 11 Oktober 2026 dan mengimbau jemaah meningkatkan kewaspadaan di tengah situasi Timur Tengah

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 jam lalu
Bertabur Bintang, Laga Legenda MU vs Arsenal di GBK Justru Sepi Penonton
Nasional

Bertabur Bintang, Laga Legenda MU vs Arsenal di GBK Justru Sepi Penonton

Pertandingan legenda Manchester United vs Arsenal di GBK berlangsung dengan tribun yang terlihat lengang. Padatnya event Jakarta menjadi sorotan.

Ferdian Trikusuma· 2 jam lalu
Hari Museum Indonesia: Momentum Merawat Sejarah
Nasional

Hari Museum Indonesia: Momentum Merawat Sejarah

Bukan sekadar tempat benda bersejarah, museum menyimpan cerita perjalanan bangsa. Simak makna Hari Museum Indonesia 12 Oktober bagi generasi muda!

Nurul Hidayah· 9 jam lalu
Sebanyak 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla, Kemenhub Catat Ratusan Pembatalan Breaking
Nasional

Sebanyak 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla, Kemenhub Catat Ratusan Pembatalan

Buntut kabut karhutla, Kemenhub catat 1.673 penerbangan domestik terdampak. Citilink Indonesia catat penerbangan terdampak paling banyak.

Nurul Hidayah· 20 jam lalu
Curva Boys dan LA Mania Bentangkan Koreografi untuk Choirul Huda, Kenang Sang Legenda Persela
Nasional

Curva Boys dan LA Mania Bentangkan Koreografi untuk Choirul Huda, Kenang Sang Legenda Persela

Curva Boys dan LA Mania bentangkan koreografi dan bendera untuk mengenang Choirul Huda, legenda Persela Lamongan, dalam laga melawan Deltras FC di Surajaya.

Ferdian Trikusuma· 23 jam lalu
Persela Gagal Geser Pemuncak Klasemen, Deltras FC Paksa Hasil Imbang 1-1
Nasional

Persela Gagal Geser Pemuncak Klasemen, Deltras FC Paksa Hasil Imbang 1-1

Persela Lamongan gagal merebut puncak klasemen usai ditahan imbang Deltras FC 1-1 di Stadion Surajaya dalam lanjutan Pegadaian Championship 2026/2027.

Ferdian Trikusuma· 1 hari lalu