Runtut.com

Jeritan Akar Rumput: Mengapa Kenaikan BBM Selalu Jadi Pemantik Utama Kemarahan Publik?

Kenaikan harga BBM nonsubsidi memicu efek domino bagi ekonomi rakyat. Benarkah APBN kita sudah di ambang batas aman? Simak analisisnya.

3 menit baca
8
Jeritan Akar Rumput: Mengapa Kenaikan BBM Selalu Jadi Pemantik Utama Kemarahan Publik?
Mahasiswa berorasi saat aksi unjuk rasa atau demo BBM naik di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Senin (5/9/2022). Sejumlah atribut unjuk rasa juga dibawa oleh para demonstran berupa bendera organisasi beserta spanduk-spanduk yang bertuliskan nada penolakan kenaikan harga BBM. — Liputan6.com/Angga Yuniar

Keputusan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di negeri ini tidak pernah sekadar urusan mengganti deretan angka di papan totem SPBU. Ini adalah tombol panik. Dan ketika tombol itu ditekan di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja, ledakannya bisa terlihat jelas di jalanan.

Aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh ribuan mahasiswa dari berbagai wilayah pada Jumat, 12 Juni 2026 kemarin, menempatkan isu energi di baris paling depan. Bukan tanpa alasan, bagi masyarakat di lapis bawah, kenaikan harga BBM adalah bentuk penurunan daya beli yang dipaksakan oleh negara. Pertanyaannya, mengapa isu ini begitu sensitif dan selalu memicu resistensi massal?

Narasi Makro vs Realita Isi Dompet Rakyat

Pemerintah, melalui para teknokratnya, nyaris selalu menggunakan narasi yang sama setiap kali menyesuaikan harga bahan bakar: menyelamatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Penjelasan yang sering kita dengar berkisar pada fluktuasi harga minyak mentah dunia, ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok global, hingga tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memukul postur anggaran.

Secara matematis makroekonomi, menahan subsidi di tengah melemahnya mata uang memang ibarat membiarkan bendungan retak. Beban fiskalnya terlalu berat. Namun, masalah utamanya terletak pada waktu (timing) dan rasa keadilan.

Realita di lapangan tidak berjalan di atas kertas kurva penawaran dan permintaan. Kelas menengah ke bawah belum sepenuhnya pulih dari tekanan inflasi pangan dalam beberapa kuartal terakhir. Ketika narasi "penyesuaian harga" dipaksakan turun, yang terjadi di pasar tradisional bukanlah penyesuaian, melainkan kepanikan. Publik menangkap sinyal bahwa ketika kas negara mulai tiris, jalan pintas yang paling gampang diambil oleh pemangku kebijakan adalah dengan menggeser bebannya langsung ke pundak konsumen akhir.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Situasi Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah Tingkatkan KewaspadaanBreaking
Nasional

Situasi Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah Tingkatkan Kewaspadaan

Kemenhaj mencatat 37 jemaah umrah Indonesia melintasi Riyadh hingga 11 Oktober 2026 dan mengimbau jemaah meningkatkan kewaspadaan di tengah situasi Timur Tengah

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 jam lalu
Bertabur Bintang, Laga Legenda MU vs Arsenal di GBK Justru Sepi Penonton
Nasional

Bertabur Bintang, Laga Legenda MU vs Arsenal di GBK Justru Sepi Penonton

Pertandingan legenda Manchester United vs Arsenal di GBK berlangsung dengan tribun yang terlihat lengang. Padatnya event Jakarta menjadi sorotan.

Ferdian Trikusuma· 2 jam lalu
Hari Museum Indonesia: Momentum Merawat Sejarah
Nasional

Hari Museum Indonesia: Momentum Merawat Sejarah

Bukan sekadar tempat benda bersejarah, museum menyimpan cerita perjalanan bangsa. Simak makna Hari Museum Indonesia 12 Oktober bagi generasi muda!

Nurul Hidayah· 10 jam lalu
Sebanyak 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla, Kemenhub Catat Ratusan Pembatalan Breaking
Nasional

Sebanyak 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla, Kemenhub Catat Ratusan Pembatalan

Buntut kabut karhutla, Kemenhub catat 1.673 penerbangan domestik terdampak. Citilink Indonesia catat penerbangan terdampak paling banyak.

Nurul Hidayah· 21 jam lalu
Curva Boys dan LA Mania Bentangkan Koreografi untuk Choirul Huda, Kenang Sang Legenda Persela
Nasional

Curva Boys dan LA Mania Bentangkan Koreografi untuk Choirul Huda, Kenang Sang Legenda Persela

Curva Boys dan LA Mania bentangkan koreografi dan bendera untuk mengenang Choirul Huda, legenda Persela Lamongan, dalam laga melawan Deltras FC di Surajaya.

Ferdian Trikusuma· 1 hari lalu
Persela Gagal Geser Pemuncak Klasemen, Deltras FC Paksa Hasil Imbang 1-1
Nasional

Persela Gagal Geser Pemuncak Klasemen, Deltras FC Paksa Hasil Imbang 1-1

Persela Lamongan gagal merebut puncak klasemen usai ditahan imbang Deltras FC 1-1 di Stadion Surajaya dalam lanjutan Pegadaian Championship 2026/2027.

Ferdian Trikusuma· 1 hari lalu