Runtut.com

Menolak Bangkrut: Membaca Kembalinya Mahasiswa ke Jalan di Tengah Impitan Krisis Fiskal

Blokade aparat gagal redam kegelisahan. Demo mahasiswa 12 Juni 2026 soroti karut-marut fiskal, subsidi BBM, hingga bayang-bayang militerisme sipil.

2 menit baca
4
Menolak Bangkrut: Membaca Kembalinya Mahasiswa ke Jalan di Tengah Impitan Krisis Fiskal
Massa dari aliansi mahasiswa BEM UI dihadang anggota TNI dan kepolisian di depan Gedung Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, 12 Juni 2026. — Tempo/Ilham Balindra

Barikade beton dan barisan rapat aparat keamanan yang menghadang pergerakan ribuan mahasiswa di jantung ibu kota kemarin adalah simbol yang benderang: ada sumbatan komunikasi yang sangat serius antara pengambil kebijakan dan rakyatnya. Gerakan turun ke jalan yang dimotori oleh aliansi mahasiswa dari berbagai wilayah, mulai dari Jabodetabek, Bandung, hingga Soloraya pada Jumat, 12 Juni 2026 kemarin bukan lagi sekadar riak kecil. Ini adalah pernyataan sikap terbuka terhadap arah tata kelola negara yang dinilai makin mengkhawatirkan.

Meskipun aksi kemarin tidak diwarnai dengan kepulan gas air mata, ketegangan di lapangan tetap terasa pekat. Upaya pemblokiran rute massa yang hendak menuju Bundaran HI, pengalihan paksa arus demonstran, hingga isu pemadaman akses publik terhadap kamera pengawas (CCTV) di kawasan strategis justru mempertegas kesan bahwa suara-suara kritis ini sedang coba diredam agar tidak meluas.

Namun, substansi dari aksi bertajuk "Menuju Indonesia Bangkrut" ini tidak bisa ditutupi hanya dengan barikade fisik. Ada lima pokok persoalan mendasar yang dibawa mahasiswa ke permukaan.

Pertama, urusan isi dompet rakyat yang makin tercekik akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi seiring melemahnya nilai tukar rupiah. Kebijakan ini memicu efek domino langsung pada lonjakan harga kebutuhan pokok di tingkat akar rumput. Di saat yang sama, masyarakat dipaksa menyaksikan kontradiksi yang menyakitkan: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) justru mengalami kebocoran dan pemborosan di pos-pos yang tidak berdampak langsung pada kesejahteraan publik.

Sorotan paling tajam tertuju pada karut-marut pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah pencopotan dan evaluasi pejabat struktural di lingkungan Badan Gizi Nasional akibat indikasi penyimpangan anggaran menjadi penanda kuat bahwa program bernilai ratusan triliun ini rentan menjadi ladang inefisiensi baru. Bagi mahasiswa, meminta publik memaklumi pengetatan fiskal sementara anggaran negara habis untuk program yang belum matang secara tata kelola adalah sebuah kesalahan fatal.

Persoalan ini kian pelik ketika kritik dan kegelisahan publik direspons dengan penguatan militerisme di ranah sipil. Penempatan figur-figur dengan pendekatan keamanan struktural dalam sektor administrasi publik dinilai bukan sekadar kemunduran demokrasi, melainkan bentuk kecemasan sistemik dari otoritas dalam mengelola stabilitas nasional.

Aksi serentak kemarin adalah sebuah early warning system. Sejarah ekonomi-politik selalu mengingatkan bahwa stabilitas tidak bisa dipaksakan melalui pendekatan keamanan atau pemblokiran ruang siber. Stabilitas sejati hanya lahir dari transparansi, akuntabilitas anggaran, dan kebijakan yang memprioritaskan daya beli masyarakat bawah. Menolak mendengar tuntutan ini sama saja dengan membiarkan akumulasi ketidakpuasan meluas ke titik yang jauh lebih sulit untuk dikendalikan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Situasi Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah Tingkatkan KewaspadaanBreaking
Nasional

Situasi Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah Tingkatkan Kewaspadaan

Kemenhaj mencatat 37 jemaah umrah Indonesia melintasi Riyadh hingga 11 Oktober 2026 dan mengimbau jemaah meningkatkan kewaspadaan di tengah situasi Timur Tengah

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 jam lalu
Bertabur Bintang, Laga Legenda MU vs Arsenal di GBK Justru Sepi Penonton
Nasional

Bertabur Bintang, Laga Legenda MU vs Arsenal di GBK Justru Sepi Penonton

Pertandingan legenda Manchester United vs Arsenal di GBK berlangsung dengan tribun yang terlihat lengang. Padatnya event Jakarta menjadi sorotan.

Ferdian Trikusuma· 1 jam lalu
Hari Museum Indonesia: Momentum Merawat Sejarah
Nasional

Hari Museum Indonesia: Momentum Merawat Sejarah

Bukan sekadar tempat benda bersejarah, museum menyimpan cerita perjalanan bangsa. Simak makna Hari Museum Indonesia 12 Oktober bagi generasi muda!

Nurul Hidayah· 8 jam lalu
Sebanyak 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla, Kemenhub Catat Ratusan Pembatalan Breaking
Nasional

Sebanyak 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla, Kemenhub Catat Ratusan Pembatalan

Buntut kabut karhutla, Kemenhub catat 1.673 penerbangan domestik terdampak. Citilink Indonesia catat penerbangan terdampak paling banyak.

Nurul Hidayah· 19 jam lalu
Curva Boys dan LA Mania Bentangkan Koreografi untuk Choirul Huda, Kenang Sang Legenda Persela
Nasional

Curva Boys dan LA Mania Bentangkan Koreografi untuk Choirul Huda, Kenang Sang Legenda Persela

Curva Boys dan LA Mania bentangkan koreografi dan bendera untuk mengenang Choirul Huda, legenda Persela Lamongan, dalam laga melawan Deltras FC di Surajaya.

Ferdian Trikusuma· 23 jam lalu
Persela Gagal Geser Pemuncak Klasemen, Deltras FC Paksa Hasil Imbang 1-1
Nasional

Persela Gagal Geser Pemuncak Klasemen, Deltras FC Paksa Hasil Imbang 1-1

Persela Lamongan gagal merebut puncak klasemen usai ditahan imbang Deltras FC 1-1 di Stadion Surajaya dalam lanjutan Pegadaian Championship 2026/2027.

Ferdian Trikusuma· 23 jam lalu