Runtut.com

Iran Minta Perang Timur Tengah Diakhiri Sebelum Selat Hormuz Dibuka Kembali

Iran menetapkan syarat penghentian perang kawasan sebelum membuka kembali Selat Hormuz, jalur energi global yang strategis bagi perdagangan dunia.

3 menit baca
5
Runtut.com
Kapal melintas di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi energi dunia dan titik perhatian dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. — Getty Images

IRAN – Iran menetapkan sejumlah syarat sebelum membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia. Teheran menyebut penghentian perang di kawasan Timur Tengah menjadi syarat utama dalam pembahasan kesepahaman dengan Amerika Serikat.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei menyampaikan bahwa setiap nota kesepahaman dengan Washington harus memuat sejumlah ketentuan, termasuk penghentian konflik di kawasan, penarikan pasukan Israel dari wilayah yang disebut telah direbut, serta penghentian operasi militer di beberapa wilayah konflik.

Pernyataan tersebut disampaikan Rezaei dalam siaran televisi pada Kamis (28/8/2026), di tengah upaya diplomasi yang berlangsung terkait akses pelayaran di Selat Hormuz. Ia mengatakan Iran juga meminta penghentian perang di Gaza dan penghentian serangan Israel terhadap Damaskus, Suriah.

“Dahieh dan Beirut adalah garis merah bagi kami,” ujar Rezaei, merujuk pada kawasan di Lebanon yang memiliki keterkaitan dengan kelompok sekutu Iran. Ia menegaskan bahwa perkembangan situasi di wilayah tersebut terus dipantau secara serius oleh Teheran.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur maritim paling penting dalam perdagangan energi global. Sebelum konflik meningkat pada 28 Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia dilaporkan melewati kawasan tersebut. Ketegangan di jalur pelayaran itu berpotensi memengaruhi aktivitas perdagangan dan stabilitas harga energi internasional.

Selain persoalan konflik, Rezaei memperingatkan bahwa tekanan ekonomi Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dapat memicu respons lebih keras dari Teheran. Ia menyebut Iran memiliki kemampuan untuk menanggapi tekanan tersebut dengan menargetkan kepentingan ekonomi Amerika Serikat.

Dalam sektor energi, Iran menyatakan tengah mengembangkan jalur ekspor baru untuk menjaga aktivitas perdagangan minyak secara bertahap. Langkah tersebut dilakukan di tengah tekanan ekonomi dan pembatasan akses perdagangan akibat sanksi internasional.

Pernyataan Rezaei muncul setelah kunjungan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani ke Iran pada Kamis (27/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, Qatar membahas sejumlah isu dengan pejabat Iran, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, terkait Perjanjian Hormuz antara Iran dan Oman.

Pembicaraan itu juga membahas kemungkinan pembentukan koridor pelayaran sementara antara Teheran dan Muscat melalui Selat Hormuz. Upaya tersebut diarahkan untuk mengurangi ketegangan dan membuka ruang bagi dimulainya kembali dialog antara pihak-pihak yang terlibat.

Namun, proses diplomasi menghadapi tantangan setelah Amerika Serikat disebut tidak tertarik menghidupkan kembali nota kesepahaman yang pernah disepakati dengan Iran pada Juni lalu. Kesepakatan awal tersebut sebelumnya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz, melanjutkan pembicaraan terkait program nuklir Iran, serta mengakhiri konflik dengan imbalan pelonggaran sanksi dan akses terhadap aset Iran yang dibekukan.

Nota kesepahaman itu kemudian mengalami hambatan akibat perbedaan pandangan mengenai pengelolaan Selat Hormuz dan sejumlah isu keamanan lainnya. Setelah kesepakatan tidak berjalan, Washington kembali meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui kebijakan sanksi tambahan.

Situasi terbaru menunjukkan bahwa jalur diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat masih menghadapi persoalan kompleks. Pembukaan kembali Selat Hormuz kini menjadi bagian dari negosiasi yang melibatkan kepentingan keamanan kawasan, perdagangan energi, serta hubungan politik antarnegara.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Mengenal Houthi, Gerakan Zaidi yang Berubah Menjadi Kekuatan Militer Yaman
Internasional

Mengenal Houthi, Gerakan Zaidi yang Berubah Menjadi Kekuatan Militer Yaman

Houthi berkembang dari gerakan politik Zaidi menjadi kekuatan militer Yaman yang kini berpengaruh di pesisir Laut Merah dan Bab el-Mandeb.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 hari lalu
Dua Bandara Saudi Diserang Houthi, Serangan Balasan Sasar 82 Target di Yaman
Internasional

Dua Bandara Saudi Diserang Houthi, Serangan Balasan Sasar 82 Target di Yaman

Serangan Houthi ke dua bandara Saudi menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya. Koalisi Saudi kemudian mengklaim menghancurkan 82 target di Yaman.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 hari lalu
Pesawat Flydubai Alihkan Pendaratan ke Arab Saudi Usai Sinyal Darurat Muncul, Pilot Diduga Terlibat Insiden
Internasional

Pesawat Flydubai Alihkan Pendaratan ke Arab Saudi Usai Sinyal Darurat Muncul, Pilot Diduga Terlibat Insiden

Pesawat Flydubai rute Dubai-Tel Aviv dialihkan ke Arab Saudi setelah mengirim sinyal darurat. Insiden diduga terkait konflik antar pilot.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu
Sekolah di Riyadh Beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh Sepekan di Tengah Ketegangan Saudi-Houthi
Internasional

Sekolah di Riyadh Beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh Sepekan di Tengah Ketegangan Saudi-Houthi

Sekolah di Riyadh menerapkan pembelajaran jarak jauh selama sepekan setelah ketegangan Saudi dan Houthi meningkat di kawasan Teluk.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu
Hujan Hampir 48 Jam Picu Banjir di Bangkok, 50 Distrik Masuk Zona Bencana
Internasional

Hujan Hampir 48 Jam Picu Banjir di Bangkok, 50 Distrik Masuk Zona Bencana

Hujan deras selama hampir dua hari membuat Bangkok dilanda banjir. Pemerintah menetapkan seluruh distrik sebagai zona bencana.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu
Jelang Pertemuan Trump-Xi, Washington dan Beijing Bahas Masa Depan Keamanan AI
Internasional

Jelang Pertemuan Trump-Xi, Washington dan Beijing Bahas Masa Depan Keamanan AI

AS dan China membahas sistem peringatan dini AI untuk mencegah risiko keamanan teknologi di tengah persaingan inovasi dan hubungan geopolitik.

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 minggu lalu