Runtut.com

Kabut Asap Lintas Negara Memburuk, Singapura Minta Warga Waspadai Kualitas Udara

Kabut asap karhutla Indonesia menyelimuti Singapura hingga kualitas udara masuk kategori tidak sehat. Warga diminta waspadai dampak kesehatan.

3 menit baca
16
Runtut.com
Kabut asap lintas negara membuat kualitas udara Singapura memburuk. Pemerintah setempat mengimbau warga membatasi aktivitas luar ruangan. — REUTERS/SUHAIMI ABDULLAH

SINGAPURA — Kualitas udara Singapura memburuk akibat kabut asap lintas negara dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) mencatat indeks kualitas udara di sejumlah wilayah memasuki kategori tidak sehat, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kesehatan akibat paparan polusi udara.

Peringatan tersebut disampaikan NEA setelah Indeks Standar Polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam mencapai kategori tidak sehat pada Sabtu (5/9/2026). Pada pukul 19.00 waktu setempat, wilayah tengah Singapura mencatat angka PSI 103. Sebelumnya, wilayah barat dan timur juga berada pada level tidak sehat dengan masing-masing angka PSI 103 dan 102.

Kategori tidak sehat berada pada rentang PSI 101–200. Kondisi ini menjadi perhatian karena merupakan pertama kalinya angka PSI Singapura melewati batas tersebut sejak kabut asap pada 8 Oktober 2023.

NEA kemudian mulai menerbitkan laporan kabut asap harian sejak Jumat (4/9/2026). Laporan tersebut mencakup prakiraan PSI 24 jam yang dapat digunakan masyarakat sebagai acuan dalam menentukan aktivitas di luar ruangan.

Kabut asap yang menyelimuti Singapura berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia. Gumpalan asap dengan intensitas sedang hingga pekat terpantau berada di bagian selatan dan tengah Sumatra serta beberapa wilayah Kalimantan. Kondisi angin yang bergerak dari arah tenggara atau selatan kemudian membawa partikel asap menuju wilayah Singapura.

Runtut.com
Indeks kualitas udara Singapura mencapai level tidak sehat akibat kabut asap lintas batas. Masyarakat diminta mengurangi aktivitas luar ruang. — REUTERS/SUHAIMI ABDULLAH

NEA memperkirakan kualitas udara masih berpotensi mengalami gangguan dalam beberapa hari ke depan apabila kebakaran di wilayah sumber asap belum sepenuhnya terkendali. Kondisi cuaca kering di Singapura dan kawasan sekitarnya juga diperkirakan masih berlangsung.

Selain PSI 24 jam, NEA juga menggunakan indikator PM2,5 untuk memantau kualitas udara. PM2,5 merupakan partikel halus berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan menjadi salah satu polutan utama dalam peristiwa kabut asap.

Berbeda dengan PSI 24 jam yang menggambarkan rata-rata kualitas udara selama 24 jam terakhir, pembacaan PM2,5 per jam menunjukkan kondisi polusi pada waktu tertentu. Paparan partikel tersebut dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, NEA mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Warga juga disarankan memantau pembaruan kualitas udara sebelum melakukan kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik di ruang terbuka.

Sementara itu, kondisi kabut asap juga berdampak terhadap sejumlah negara tetangga Indonesia. Malaysia turut mengalami penurunan kualitas udara di beberapa wilayah akibat fenomena kabut asap lintas batas yang sama.

Kabut asap lintas negara kembali menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan memiliki dampak yang melampaui batas wilayah administratif. Penanganan persoalan tersebut membutuhkan pengendalian sumber kebakaran sekaligus kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi risiko kesehatan akibat polusi udara.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Ribuan Mahasiswa Albania Turun ke Jalan, Desak Perdana Menteri Mundur
Internasional

Ribuan Mahasiswa Albania Turun ke Jalan, Desak Perdana Menteri Mundur

Gelombang protes mahasiswa di Albania makin memanas menuntut PM Edi Rama mundur. Unjuk rasa meluas ke berbagai kota diiringi isu korupsi dan sengketa lahan.

Mila Nabilah· 9 jam lalu
Pilot Laporkan Penumpukan Es Sebelum Pesawat Piper PA-46 Jatuh di Wisconsin
Internasional

Pilot Laporkan Penumpukan Es Sebelum Pesawat Piper PA-46 Jatuh di Wisconsin

Pesawat Piper PA-46 Malibu jatuh di Wisconsin dan menewaskan enam orang. Pilot sempat melaporkan penumpukan es sebelum kehilangan kontak.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 hari lalu
Mirwan Suwarso Ingin Ubah Como 1907 Layaknya Disney, Sepak Bola Bukan Satu-satunya Bisnis
Internasional

Mirwan Suwarso Ingin Ubah Como 1907 Layaknya Disney, Sepak Bola Bukan Satu-satunya Bisnis

Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso ingin mengembangkan klub dengan model bisnis ala Disney, memadukan sepak bola, fashion, merchandise, media, dan pariwisata.

Ferdian Trikusuma· 2 hari lalu
Eksplorasi Minyak, Gas, dan Mineral Berskala Besar Akan Dimulai di Greenland
Internasional

Eksplorasi Minyak, Gas, dan Mineral Berskala Besar Akan Dimulai di Greenland

Presiden AS, Donald Trump mengumumkan pada Rabu (14/10/206), akan melakukan eksplorasi berskala besar atas minyak, gas, dan mineral di Greenland.

Andini Putri Lestari· 3 hari lalu
Calvin Verdonk Ukir Sejarah, Jadi WNI Pertama yang Tampil di Liga Champions Eropa
Internasional

Calvin Verdonk Ukir Sejarah, Jadi WNI Pertama yang Tampil di Liga Champions Eropa

Calvin Verdonk mencatat sejarah sebagai pemain berstatus WNI pertama yang tampil di Liga Champions saat Lille menghadapi Arsenal di Emirates Stadium.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu
Atletico Madrid Hantam MU 2-0, Tren Negatif Setan Merah Kian Berlanjut
Internasional

Atletico Madrid Hantam MU 2-0, Tren Negatif Setan Merah Kian Berlanjut

Manchester United kalah 0-2 dari Atletico Madrid di Liga Champions 2026/2027. Tim "Setan Merah" perpanjang tren negatif dalam 5 laga terakhir di semua kompetisi

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu