KALIMANTAN - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah Kalimantan menjadi perhatian ilmuwan bidang lingkungan. Bagus Muljadi, peneliti dan pengajar (Assistant Professor) di University of Nottingham, Inggris, menilai penanganan kebakaran perlu diperkuat melalui pendekatan berbasis riset agar mitigasi dapat dilakukan secara lebih tepat dan berkelanjutan.
Melalui unggahan di akun X pribadinya, Bagus menyampaikan bahwa berulangnya kejadian karhutla menunjukkan pentingnya pemanfaatan hasil penelitian dalam penyusunan kebijakan.
Ia menyoroti bahwa riset mengenai kebakaran hutan dan pengelolaan lahan gambut perlu menjadi bagian dari agenda utama pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
“Penting sekali bagi kebijakan mitigasi kebakaran dikuatkan oleh riset. Semoga ke depan riset menjadi agenda utama daerah, bukan hanya pusat,” tulis Bagus dalam unggahannya saat merespons kembali terjadinya kebakaran di Kalimantan.

Bagus merupakan ilmuwan yang memiliki keahlian di bidang mekanika fluida, pemodelan numerik, serta teknik kimia dan lingkungan. Fokus penelitiannya berkaitan dengan pemodelan fenomena lingkungan, termasuk pengembangan pendekatan berbasis data untuk memahami risiko kebakaran pada ekosistem gambut tropis.
Pandangan tersebut selaras dengan penelitian ilmiah yang ia lakukan bersama sejumlah peneliti internasional mengenai pemodelan risiko kebakaran gambut tropis.
Dalam riset berjudul "Calibrated Spatio-Temporal Machine Learning Model for Tropical Peatland Fire Risk", tim peneliti mengembangkan pendekatan pemodelan berbasis pembelajaran mesin untuk memprediksi potensi kebakaran pada kawasan gambut.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa wilayah gambut memiliki karakteristik kompleks karena dipengaruhi faktor lingkungan yang saling berkaitan, seperti kondisi cuaca, kelembapan, karakteristik lahan, serta pola historis kebakaran. Karena itu, upaya pencegahan membutuhkan analisis yang mampu membaca pola risiko sebelum kebakaran terjadi.

Menurut pendekatan tersebut, teknologi pemodelan dapat membantu pemerintah menentukan wilayah prioritas untuk patroli, pencegahan, hingga pengalokasian sumber daya penanganan karhutla. Data ilmiah dapat menjadi dasar dalam mengambil keputusan, sehingga langkah penanggulangan tidak hanya dilakukan setelah api muncul.
Karhutla di Kalimantan selama beberapa waktu terakhir kembali menyebabkan dampak terhadap kualitas udara, aktivitas masyarakat, serta berbagai sektor pelayanan publik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian kebakaran membutuhkan strategi yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, peneliti, masyarakat, hingga pengelola kawasan.
Selain penguatan sistem deteksi dini, Bagus menilai pengelolaan ekosistem gambut menjadi bagian penting dalam pencegahan kebakaran. Gambut memiliki kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar, tetapi kondisi yang kering membuatnya lebih rentan terbakar dan sulit dipadamkan.
Pendekatan berbasis riset, menurutnya, dapat membantu membangun sistem mitigasi yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Dengan menggabungkan data lapangan, teknologi pemantauan, dan kebijakan yang berbasis kajian ilmiah, risiko karhutla di masa mendatang dapat ditekan secara lebih efektif.










