Runtut.com

Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset

Karhutla Kalimantan kembali terjadi. Ilmuwan Bagus Muljadi dorong pemerintah menjadikan riset sebagai dasar kebijakan mitigasi bencana.

2 menit baca
21
Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset
Karhutla Kalimantan kembali terjadi. Ilmuwan Bagus Muljadi dorong pemerintah menjadikan riset sebagai dasar kebijakan mitigasi bencana. — Instagram/@bagusmuljadi

KALIMANTAN - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah Kalimantan menjadi perhatian ilmuwan bidang lingkungan. Bagus Muljadi, peneliti dan pengajar (Assistant Professor) di University of Nottingham, Inggris, menilai penanganan kebakaran perlu diperkuat melalui pendekatan berbasis riset agar mitigasi dapat dilakukan secara lebih tepat dan berkelanjutan.

Melalui unggahan di akun X pribadinya, Bagus menyampaikan bahwa berulangnya kejadian karhutla menunjukkan pentingnya pemanfaatan hasil penelitian dalam penyusunan kebijakan.

Ia menyoroti bahwa riset mengenai kebakaran hutan dan pengelolaan lahan gambut perlu menjadi bagian dari agenda utama pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

“Penting sekali bagi kebijakan mitigasi kebakaran dikuatkan oleh riset. Semoga ke depan riset menjadi agenda utama daerah, bukan hanya pusat,” tulis Bagus dalam unggahannya saat merespons kembali terjadinya kebakaran di Kalimantan.

Bagus Muljadi membagikan riset kolaborasi ITB dan University of Nottingham terkait pemodelan risiko kebakaran gambut tropis. Kajian tersebut mendorong penguatan mitigasi karhutla berbasis data dan riset ilmiah.
Bagus Muljadi membagikan riset kolaborasi ITB dan University of Nottingham terkait pemodelan risiko kebakaran gambut tropis. Kajian tersebut mendorong penguatan mitigasi karhutla berbasis data dan riset ilmiah. — X/@bagus_muljadi

Bagus merupakan ilmuwan yang memiliki keahlian di bidang mekanika fluida, pemodelan numerik, serta teknik kimia dan lingkungan. Fokus penelitiannya berkaitan dengan pemodelan fenomena lingkungan, termasuk pengembangan pendekatan berbasis data untuk memahami risiko kebakaran pada ekosistem gambut tropis.

Pandangan tersebut selaras dengan penelitian ilmiah yang ia lakukan bersama sejumlah peneliti internasional mengenai pemodelan risiko kebakaran gambut tropis.

Dalam riset berjudul "Calibrated Spatio-Temporal Machine Learning Model for Tropical Peatland Fire Risk", tim peneliti mengembangkan pendekatan pemodelan berbasis pembelajaran mesin untuk memprediksi potensi kebakaran pada kawasan gambut.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa wilayah gambut memiliki karakteristik kompleks karena dipengaruhi faktor lingkungan yang saling berkaitan, seperti kondisi cuaca, kelembapan, karakteristik lahan, serta pola historis kebakaran. Karena itu, upaya pencegahan membutuhkan analisis yang mampu membaca pola risiko sebelum kebakaran terjadi.

Peta pemodelan risiko kebakaran gambut tropis yang menunjukkan persebaran area gambut dan titik panas (hotspot) di Kalimantan. Data spasial ini menjadi dasar analisis untuk memperkuat deteksi dini dan strategi mitigasi karhutla berbasis riset.
Peta pemodelan risiko kebakaran gambut tropis yang menunjukkan persebaran area gambut dan titik panas (hotspot) di Kalimantan. Data spasial ini menjadi dasar analisis untuk memperkuat deteksi dini dan strategi mitigasi karhutla berbasis riset. — X/@bagus_muljadi

Menurut pendekatan tersebut, teknologi pemodelan dapat membantu pemerintah menentukan wilayah prioritas untuk patroli, pencegahan, hingga pengalokasian sumber daya penanganan karhutla. Data ilmiah dapat menjadi dasar dalam mengambil keputusan, sehingga langkah penanggulangan tidak hanya dilakukan setelah api muncul.

Karhutla di Kalimantan selama beberapa waktu terakhir kembali menyebabkan dampak terhadap kualitas udara, aktivitas masyarakat, serta berbagai sektor pelayanan publik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian kebakaran membutuhkan strategi yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, peneliti, masyarakat, hingga pengelola kawasan.

Selain penguatan sistem deteksi dini, Bagus menilai pengelolaan ekosistem gambut menjadi bagian penting dalam pencegahan kebakaran. Gambut memiliki kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar, tetapi kondisi yang kering membuatnya lebih rentan terbakar dan sulit dipadamkan.

Pendekatan berbasis riset, menurutnya, dapat membantu membangun sistem mitigasi yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Dengan menggabungkan data lapangan, teknologi pemantauan, dan kebijakan yang berbasis kajian ilmiah, risiko karhutla di masa mendatang dapat ditekan secara lebih efektif.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba
Iklim & Lingkungan

Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba

Riset terbaru mengungkap kepiting tapal kuda memiliki hubungan evolusi dengan laba-laba dan kalajengking melalui analisis data genetika.

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 minggu lalu
BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius
Iklim & Lingkungan

BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius

Periode kering dan penguatan El Nino turut memengaruhi kondisi suhu udara di sejumlah daerah Indonesia pada awal September 2026.

Rachmaddani Rizki Saputra· 10 September 2026
 Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah
Iklim & Lingkungan

Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah

Kemeriahan HUT RI ke-81 di Monas menyisakan sampah dan menjadi bahan refleksi bagi masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga kebersihan di ruang publik.

Betriani · 18 Agustus 2026
​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion
Iklim & Lingkungan

​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion

Menguak sisi gelap industri fast fashion. Telusuri bagaimana rantai pasok serat viskose dan rayon memicu deforestasi serta konflik lahan di Indonesia.

Mila Nabilah· 13 Juli 2026
Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim
Iklim & Lingkungan

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 dibuka untuk menghargai inisiatif yang menggabungkan aksi iklim, kesetaraan gender, dan kepemimpinan perempuan.

Mila Nabilah· 1 Juli 2026
UN Women: Krisis Iklim Tak Bisa Diatasi Tanpa Kepemimpinan Perempuan
Iklim & Lingkungan

UN Women: Krisis Iklim Tak Bisa Diatasi Tanpa Kepemimpinan Perempuan

UN Women menegaskan perempuan masih minim terwakili dalam kebijakan iklim global, padahal kepemimpinan mereka penting bagi aksi iklim yang adil.

Mila Nabilah· 1 Juli 2026