KALIMANTAN - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan. Dampak kebakaran terlihat di berbagai daerah, mulai dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur.

Asap yang ditimbulkan mengganggu aktivitas masyarakat, menurunkan kualitas udara, menghambat jarak pandang, serta memengaruhi kegiatan pendidikan dan transportasi.

Di Kalimantan Tengah, beberapa wilayah yang terdampak karhutla berada di Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Kabupaten Kotawaringin Timur.

Daerah-daerah tersebut menghadapi kebakaran dengan tingkat dampak yang berbeda, mulai dari gangguan kabut asap hingga upaya pemadaman di lokasi kebakaran.

Kota Palangka Raya menjadi salah satu wilayah dengan dampak asap paling terasa. Kondisi udara di ibu kota Kalimantan Tengah tersebut memburuk pada Rabu (19/8/2026), dengan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) mencapai 487 atau masuk kategori berbahaya.

Asap pekat membuat pemerintah daerah melakukan penyesuaian kegiatan pendidikan. Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya mengubah jam masuk sekolah jenjang SD dan SMP menjadi pukul 08.00 WIB, sedangkan pembelajaran PAUD dialihkan melalui sistem pembelajaran jarak jauh.

Berdasarkan data pemantauan, sebanyak 1.795 titik panas terdeteksi di wilayah Kalimantan Tengah. Dari jumlah tersebut, 281 titik berada di Kota Palangka Raya yang tersebar di Kecamatan Jekan Raya, Sabangau, Bukit Batu, dan Rakumpit.

Selain Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau juga menjadi wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla. Kawasan Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, menjadi salah satu daerah rawan kebakaran. Pemerintah daerah mendorong pembangunan sumur bor permanen agar penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih cepat ketika api muncul.

Di Kabupaten Kotawaringin Barat, kabut asap menyelimuti sejumlah kawasan di Pangkalan Bun pada Rabu (19/8/2026). Asap yang mengurangi jarak pandang membuat pengguna jalan harus meningkatkan kewaspadaan, terutama di sejumlah ruas yang terdampak kepulan asap.

Karhutla juga terjadi di kawasan Paring Kuning, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat. Kebakaran yang muncul pada Rabu siang tersebut diduga dipicu oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan. Namun, penyebab kebakaran masih dalam penanganan dan penyelidikan pihak terkait.

Di Kabupaten Kotawaringin Timur, kebakaran masih berlangsung di sejumlah lokasi. Beberapa titik bahkan belum seluruhnya terjangkau petugas sehingga warga setempat ikut membantu proses pemadaman sebagai relawan.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, wilayah terdampak asap mencakup Banjarbaru dan Banjarmasin. Pemerintah Kota Banjarbaru menyesuaikan jam masuk sekolah menjadi pukul 09.00 Wita bagi satuan pendidikan yang terdampak kabut asap.

Di Banjarmasin, dampak asap juga memengaruhi aktivitas penerbangan. Sebanyak 12 penerbangan di Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor mengalami penundaan akibat jarak pandang yang terbatas. Pemerintah bersama aparat juga melakukan berbagai upaya, termasuk edukasi masyarakat dan distribusi air bersih ke wilayah terdampak.

Di Kalimantan Timur, Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi salah satu wilayah yang mengalami kebakaran. Tim gabungan berhasil memadamkan karhutla seluas 10,65 hektare di Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam. Kebakaran tersebut melibatkan area semak belukar, pepohonan, dan tumpukan kayu.

Sejumlah wilayah tersebut menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi persoalan lintas daerah di Kalimantan. Penanganan kebakaran saat ini berjalan bersamaan dengan upaya pencegahan agar risiko kebakaran dan dampak asap tidak meluas ke kawasan permukiman maupun fasilitas publik.