JAWA TIMUR - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, meluas hingga sekitar 70 hektare. Kondisi medan yang terjal dan angin kencang membuat penanganan dari darat menghadapi kendala sehingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan dukungan dua helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan pengerahan armada udara dilakukan berdasarkan permintaan bantuan dari wilayah terdampak. Helikopter tersebut diproyeksikan membantu menjangkau titik api yang sulit dicapai oleh personel gabungan di lereng Kaldera Bromo.
“Langkah kami berdasarkan informasi dari wilayah, mereka meminta bantuan dari udara, helikopter water bombing. Untuk sementara, kita akan dukung dua unit,” ujarnya.
BNPB menyiapkan beberapa pilihan armada, seperti helikopter tipe Mi maupun Sikorsky, menyesuaikan ketersediaan unit. Namun, pengerahan helikopter tetap melalui proses asesmen untuk menentukan kebutuhan tambahan di lapangan.
Kebakaran di kawasan Gunung Bromo pertama kali dilaporkan terjadi pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB di wilayah Ranu Pani, Kabupaten Probolinggo. Api sempat berhasil dikendalikan, tetapi kembali muncul pada Selasa (4/8/2026) siang dan masih berlangsung hingga saat ini.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menyampaikan berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops), luas area terdampak kebakaran mencapai sekitar 70 hektare. Vegetasi yang terbakar meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, hingga semak belukar.
“Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa,” kata Gatot.
Tim gabungan yang terdiri atas BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Malang, Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, polisi hutan, serta relawan peduli api melakukan pemadaman dengan sejumlah metode.

Pada area bawah tebing, petugas mengoperasikan satu unit drone water spray berkapasitas 150 liter dan satu unit truk tangki. Sementara itu, di bagian atas tebing, pemadaman dilakukan secara manual menggunakan metode gepyok dengan alat pemukul api.
Kendala utama dalam proses pemadaman berasal dari kondisi geografis lokasi. Titik api berada di lereng Kaldera Bromo dengan kontur terjal dan hembusan angin yang membuat kobaran api cepat berpindah menuju area lebih tinggi.
Selain pengerahan helikopter, BNPB juga berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kemungkinan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, pelaksanaan OMC masih menunggu perkembangan kondisi atmosfer karena belum terdapat pertumbuhan awan hujan yang mendukung.
“Untuk beberapa hari ke depan operasi modifikasi cuaca belum bisa diselenggarakan,” ujar Suharyanto.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebelumnya telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026. Status tersebut berlaku selama 180 hari sejak 26 Mei hingga 6 Oktober 2026.
Sementara itu, Balai Besar TNBTS menutup sementara sebagian kawasan wisata Gunung Bromo sejak Senin (3/8/2026) pukul 22.00 WIB. Penutupan dilakukan dari sejumlah pintu masuk, termasuk wilayah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, hingga kondisi dinyatakan aman.
BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama puncak musim kemarau serta mematuhi arahan penutupan kawasan wisata agar proses pemadaman berjalan optimal dan risiko meluasnya kebakaran dapat ditekan.










