JAKARTA — Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan aktivitas sejumlah sektor usaha dan penguatan komponen pengeluaran, terutama konsumsi pemerintah yang mengalami kenaikan signifikan.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia triwulan II-2026 secara year on year (y-on-y) tumbuh 5,29 persen. Sementara itu, secara triwulanan dibandingkan triwulan I-2026 atau quarter to quarter (q-to-q), ekonomi nasional tumbuh 3,73 persen. Adapun secara kumulatif semester I-2026 dibanding semester I-2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen.
Dari sisi nilai ekonomi, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2026 mencapai Rp6.552,1 triliun. Sementara berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDB tercatat sebesar Rp3.576,2 triliun.
Pertumbuhan ekonomi nasional pada periode tersebut terjadi di hampir seluruh lapangan usaha. Sektor pengadaan listrik dan gas menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi secara tahunan, yakni sebesar 10,81 persen.

Setelah itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60 persen. Sementara industri pengolahan yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional tumbuh sebesar 4,52 persen.
Meski sebagian besar sektor mengalami pertumbuhan, sektor pertambangan dan penggalian masih mengalami tekanan dengan kontraksi sebesar 1,64 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada periode ini lebih banyak digerakkan oleh sektor manufaktur, energi, serta aktivitas jasa yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi. Komponen ini tumbuh 15,97 persen dibandingkan triwulan II-2025. Kenaikan tersebut diikuti oleh konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 6,93 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 6,87 persen, konsumsi rumah tangga sebesar 5,06 persen, serta ekspor barang dan jasa sebesar 4,13 persen.

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyumbang terbesar dalam struktur ekonomi Indonesia. Pada triwulan II-2026, komponen tersebut menyumbang 53,32 persen terhadap PDB nasional. Selain itu, pembentukan modal tetap bruto berkontribusi 29,36 persen dan ekspor barang serta jasa sebesar 23,13 persen.
Bila dilihat dari wilayah, Pulau Jawa masih menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional dengan kontribusi terbesar mencapai 56,47 persen terhadap struktur perekonomian Indonesia.
Wilayah Jawa juga mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,65 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Posisi berikutnya ditempati Sumatera dengan kontribusi 22,50 persen, Kalimantan 8,15 persen, Sulawesi 7,28 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,84 persen, serta Maluku dan Papua 2,76 persen.
BPS mencatat seluruh kelompok provinsi mengalami pertumbuhan positif pada triwulan II-2026. Pertumbuhan tertinggi terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6,10 persen, disusul Jawa sebesar 5,65 persen dan Sulawesi sebesar 5,53 persen.
Capaian pertumbuhan ekonomi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia tetap bergerak di tengah dinamika global. Penguatan konsumsi pemerintah, kinerja sektor jasa, serta keberlanjutan aktivitas produksi menjadi faktor penting yang menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang semester pertama 2026.









