Runtut.com

Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,29 Persen di Triwulan II-2026, PDB Tembus Rp6.552,1 Triliun

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II-2026. BPS menyebut konsumsi pemerintah menjadi salah satu pendorong utama.

3 menit baca
12
Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,29 Persen di Triwulan II-2026, PDB Tembus Rp6.552,1 Triliun
Ekonomi RI terus bergerak positif. BPS mencatat pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II-2026 dengan PDB mencapai Rp6.552,1 triliun. — bps.go.id

JAKARTA — Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan aktivitas sejumlah sektor usaha dan penguatan komponen pengeluaran, terutama konsumsi pemerintah yang mengalami kenaikan signifikan.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia triwulan II-2026 secara year on year (y-on-y) tumbuh 5,29 persen. Sementara itu, secara triwulanan dibandingkan triwulan I-2026 atau quarter to quarter (q-to-q), ekonomi nasional tumbuh 3,73 persen. Adapun secara kumulatif semester I-2026 dibanding semester I-2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen.

Dari sisi nilai ekonomi, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2026 mencapai Rp6.552,1 triliun. Sementara berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDB tercatat sebesar Rp3.576,2 triliun.

Pertumbuhan ekonomi nasional pada periode tersebut terjadi di hampir seluruh lapangan usaha. Sektor pengadaan listrik dan gas menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi secara tahunan, yakni sebesar 10,81 persen.

Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,29 Persen di Triwulan II-2026, PDB Tembus Rp6.552,1 Triliun
Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,29 Persen di Triwulan II-2026, PDB Tembus Rp6.552,1 Triliun — bps.go.id

Setelah itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60 persen. Sementara industri pengolahan yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional tumbuh sebesar 4,52 persen.

Meski sebagian besar sektor mengalami pertumbuhan, sektor pertambangan dan penggalian masih mengalami tekanan dengan kontraksi sebesar 1,64 persen secara tahunan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada periode ini lebih banyak digerakkan oleh sektor manufaktur, energi, serta aktivitas jasa yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi. Komponen ini tumbuh 15,97 persen dibandingkan triwulan II-2025. Kenaikan tersebut diikuti oleh konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 6,93 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 6,87 persen, konsumsi rumah tangga sebesar 5,06 persen, serta ekspor barang dan jasa sebesar 4,13 persen.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2026 mencapai 5,29 persen. Aktivitas sektor usaha dan konsumsi pemerintah menjadi penggerak utama.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2026 mencapai 5,29 persen. Aktivitas sektor usaha dan konsumsi pemerintah menjadi penggerak utama. — bps.go.id

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyumbang terbesar dalam struktur ekonomi Indonesia. Pada triwulan II-2026, komponen tersebut menyumbang 53,32 persen terhadap PDB nasional. Selain itu, pembentukan modal tetap bruto berkontribusi 29,36 persen dan ekspor barang serta jasa sebesar 23,13 persen.

Bila dilihat dari wilayah, Pulau Jawa masih menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional dengan kontribusi terbesar mencapai 56,47 persen terhadap struktur perekonomian Indonesia.

Wilayah Jawa juga mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,65 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Posisi berikutnya ditempati Sumatera dengan kontribusi 22,50 persen, Kalimantan 8,15 persen, Sulawesi 7,28 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,84 persen, serta Maluku dan Papua 2,76 persen.

BPS mencatat seluruh kelompok provinsi mengalami pertumbuhan positif pada triwulan II-2026. Pertumbuhan tertinggi terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6,10 persen, disusul Jawa sebesar 5,65 persen dan Sulawesi sebesar 5,53 persen.

Capaian pertumbuhan ekonomi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia tetap bergerak di tengah dinamika global. Penguatan konsumsi pemerintah, kinerja sektor jasa, serta keberlanjutan aktivitas produksi menjadi faktor penting yang menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang semester pertama 2026.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Kerugian Karhutla 2026 Mencapai Rp167 Triliun, Dampaknya Meluas ke Kesehatan dan Ekonomi
Ekonomi

Kerugian Karhutla 2026 Mencapai Rp167 Triliun, Dampaknya Meluas ke Kesehatan dan Ekonomi

Kerugian karhutla Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai Rp167 triliun. Dampaknya mencakup gangguan ekonomi, biaya kesehatan, dan produktivitas masyarakat.

Lusianti Dwi Cahyani· 5 hari lalu
Dari BI-Rate ke Cicilan, Perjalanan Panjang Bunga Acuan
Ekonomi

Dari BI-Rate ke Cicilan, Perjalanan Panjang Bunga Acuan

Mengapa BI-Rate naik atau turun tak langsung mengubah cicilan dan bunga deposito? Ini perjalanan suku bunga acuan hingga ke dompet, lengkap dengan simulasi.

Tegar Herlambang· 2 minggu lalu
Kenapa Harga Cabai Gampang Meroket? Ini Ilmu Ekonominya
Ekonomi

Kenapa Harga Cabai Gampang Meroket? Ini Ilmu Ekonominya

Harga cabai bisa jatuh di bawah Rp10 ribu lalu meroket puluhan ribu. Ini penjelasan ekonominya, dari permintaan yang inelastis sampai rantai distribusi.

Tegar Herlambang· 2 minggu lalu
BI Tahan Bunga 5,75 Persen, Rupiah Belum Lepas dari Tekanan
Ekonomi

BI Tahan Bunga 5,75 Persen, Rupiah Belum Lepas dari Tekanan

Bank Indonesia menahan BI-Rate 5,75 persen untuk ketiga kalinya. Rupiah masih bergerak di sekitar Rp17.900 per dolar AS di tengah harga minyak tinggi.

Tegar Herlambang· 2 minggu lalu
Inflasi September 3,28 Persen, Cabai dan Emas Jadi Pemicu
Ekonomi

Inflasi September 3,28 Persen, Cabai dan Emas Jadi Pemicu

BPS mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan. Cabai rawit, daging ayam, dan emas perhiasan jadi pendorong utamanya.

Tegar Herlambang· 2 minggu lalu
APBN 2027 Disahkan, Pemerintah Tetapkan Defisit 2,4 Persen untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Ekonomi

APBN 2027 Disahkan, Pemerintah Tetapkan Defisit 2,4 Persen untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah menyiapkan delapan fokus pembangunan dalam APBN 2027, mulai dari pangan, energi, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Rachmaddani Rizki Saputra· 3 minggu lalu