Bank Indonesia menahan BI-Rate 5,75 persen untuk ketiga kalinya. Rupiah masih bergerak di sekitar Rp17.900 per dolar AS di tengah harga minyak tinggi.
Rupiah ditutup menguat 84 poin ke Rp17.882 per dolar AS pada Jumat (2/10/2026), seperti dilaporkan Bisnis.com, setelah sehari sebelumnya berakhir di Rp17.966. Penguatan tipis itu belum cukup untuk disebut lega. Level di atas Rp17.800 kini menjadi pemandangan sehari-hari, dan para analis masih memperkirakan pergerakannya berada di sekitar Rp17.900 hingga Rp18.000.
Di tengah situasi itu, Bank Indonesia memilih tidak menaikkan suku bunga.
Bunga ditahan untuk ketiga kalinya
Dalam Rapat Dewan Gubernur 22 sampai 23 September 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Suku bunga deposit facility tetap 4,75 persen dan lending facility 6,50 persen. Ini merupakan keputusan menahan suku bunga tiga pertemuan berturut-turut, sekaligus rapat pertama yang dipimpin Gubernur BI Destry Damayanti.
Menurut Destry, inflasi harus tetap terkendali dalam sasaran 2,5 ± 1 persen pada 2026 dan 2027, sementara nilai tukar tetap dijaga. Dewan Ekonomi Nasional dalam Monetary Brief September 2026 mencatat bahwa keputusan ini diambil setelah BI-Rate dinaikkan 100 basis poin sepanjang triwulan II 2026.
Mengapa rupiah menjadi pusat perhatian
Pada 22 September, rupiah tercatat Rp17.855 per dolar AS, melemah 0,78 persen dibanding akhir Agustus. Dewan Ekonomi Nasional mengaitkan pelemahan itu dengan aliran modal keluar nonresiden.
Tekanan datang dari luar. Seperti dilaporkan Fortune Indonesia, suku bunga acuan Amerika Serikat naik menjadi 3,75 sampai 4,00 persen pada September 2026 dan masih membuka peluang kenaikan lanjutan. Sementara itu, harga minyak Brent naik 9,7 persen sepanjang September hingga US$99,3 per barel pada 22 September, menurut catatan Dewan Ekonomi Nasional.
Alih-alih menaikkan bunga, BI memilih memperkuat insentif untuk menarik aliran modal asing dan mempercepat pendalaman pasar uang dan valuta asing. Seorang ekonom yang dikutip Suara.com menyebut keputusan ini sebagai jeda taktis, bukan akhir dari pengetatan. Dalam analisis sebelum rapat, ekonom lain yang dikutip Liputan6 bahkan melihat peluang kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00 persen pada akhir tahun jika The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Pekan pertama Oktober, minyak dan geopolitik
Tekanan belum reda. Pada Kamis (1/10), rupiah ditutup melemah 0,40 persen ke Rp17.966 di tengah aksi jual obligasi global dan kekhawatiran inflasi akibat harga minyak, dengan indeks dolar AS menyentuh level tertinggi sejak April 2025, menurut Investor.id yang mengutip Reuters.
Esoknya rupiah berbalik menguat ketika imbal hasil obligasi AS turun. Namun analis Doo Financial Futures Lukman Leong, seperti dikutip Suara.com, memperkirakan rupiah masih tertekan karena harga minyak kembali naik setelah Amerika Serikat mengerahkan kapal induk ketiga dan muncul sinyal berlanjutnya serangan udara terhadap Iran. Harga Brent pada Jumat pagi tercatat naik 4,37 persen ke US$102,31 per barel, menurut Infobanknews.
Ekonomi masih tumbuh, tetapi melambat
Di sisi pertumbuhan, BPS mencatat ekonomi kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen, melambat dari 5,61 persen pada kuartal I, dengan tekanan global yang menguat sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan 2026 berada di kisaran 4,9 sampai 5,7 persen. Kredit perbankan masih tumbuh 13,65 persen secara tahunan pada Agustus, menurut Dewan Ekonomi Nasional.
Apa artinya bagi masyarakat dan pelaku usaha
Menahan BI-Rate tidak otomatis mengubah bunga kredit atau tabungan di bank, karena itu juga bergantung pada kebijakan masing-masing bank. Bagi pelaku usaha, terutama yang bahan bakunya impor, kurs di atas Rp17.800 berarti biaya yang lebih mahal. Tekanan ini berpotensi menjalar ke harga barang, di samping risiko harga energi dan pangan yang dibahas pada artikel inflasi September.
Ke depan, arah suku bunga Amerika Serikat, harga minyak, dan situasi di Timur Tengah akan menentukan apakah jeda ini bertahan atau berakhir dengan kenaikan.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan nasihat investasi.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab