Mengapa BI-Rate naik atau turun tak langsung mengubah cicilan dan bunga deposito? Ini perjalanan suku bunga acuan hingga ke dompet, lengkap dengan simulasi.
Setiap bulan, Bank Indonesia mengumumkan satu angka, dan sering kali kolom komentar langsung ramai. Pada 23 September 2026, angkanya adalah BI-Rate tetap 5,75 persen. Pertanyaan yang paling sering muncul sederhana saja. Apa hubungannya dengan cicilan motor, KPR, atau bunga deposito?
Jawabannya ada pada perjalanan panjang yang penuh jeda dan belokan, dari ruang rapat Bank Indonesia hingga ke rekening kita.
BI-Rate bukan bunga yang kamu bayar
BI-Rate adalah suku bunga kebijakan, yaitu sinyal sikap Bank Indonesia terhadap perekonomian. Penjelasan dosen Perbanas menguraikan bahwa BI-Rate diumumkan setiap rapat dewan gubernur dan dijalankan lewat operasi moneter di pasar uang. Dampak yang diharapkan merambat dari suku bunga pasar uang antarbank ke bunga deposito, lalu ke bunga kredit.
Menurut penjelasan Berempat, perubahan suku bunga kebijakan diteruskan melalui pasar uang, perbankan, nilai tukar, dan jalur ekonomi lain, tetapi tidak menentukan semua bunga secara langsung.
Estafet yang berlapis
Bayangkan estafet. Bank Indonesia mengubah BI-Rate, lalu bank saling meminjam di pasar uang antarbank dengan bunga baru. Itu memengaruhi biaya dana bank, yang kemudian tercermin dalam bunga deposito dan akhirnya bunga kredit. Alur ini dijelaskan dalam kajian di jurnal Universitas Brawijaya tentang transmisi kebijakan moneter, mulai dari instrumen BI sampai ke bunga deposito dan kredit.
Bank Indonesia sendiri, dalam Seri Kebanksentralan No. 11 tentang mekanisme transmisi kebijakan moneter, menjelaskan bahwa dampak kebijakan moneter menjalar lewat beberapa saluran, antara lain suku bunga, kredit, dan nilai tukar.
Deposito lebih cepat, kredit lebih lambat
Di sinilah kejutannya. Rangkuman data BI dan OJK yang dimuat laman Bank Artos menunjukkan bahwa sepanjang 2025, ketika BI memangkas BI-Rate, bunga deposito 1 bulan turun 67 basis poin, sedangkan bunga kredit turun hanya sekitar 24 basis poin.
Penurunan bunga kredit lebih lambat karena bank juga menimbang likuiditas, biaya dana, dan risiko kredit. Untuk KPR, jeda penyesuaian bisa berlangsung beberapa bulan. Bank Indonesia sendiri menjelaskan, sebagaimana dikutip Berempat, bahwa transmisi kebijakan moneter punya jeda waktu berbeda pada tiap jalur. Kecepatannya dipengaruhi kondisi eksternal, sektor keuangan, kondisi perbankan, risiko ekonomi, dan permintaan kredit.
Simulasi sederhana
Seberapa besar bedanya satu poin persen? Anggap seseorang punya kredit Rp500 juta dengan tenor 15 tahun dan cicilan tetap (anuitas). Pada bunga 8 persen per tahun, cicilannya sekitar Rp4,78 juta per bulan. Jika bunga naik menjadi 9 persen, cicilannya sekitar Rp5,07 juta. Selisihnya sekitar Rp293 ribu per bulan, atau sekitar 6 persen lebih tinggi, dan sekitar Rp52,8 juta sepanjang 15 tahun.
Ini hanya ilustrasi hitungan. Produk kredit sungguhan punya skema berbeda, misalnya bunga tetap pada tahun-tahun awal, lalu mengambang, ditambah biaya lain.
Mengapa 2026 menarik
Perjalanan estafet ini menjadi relevan karena BI baru saja mengubah arah. Dewan Ekonomi Nasional dalam Monetary Brief September 2026 mencatat BI menaikkan BI-Rate 100 basis poin sepanjang triwulan II 2026, dan pada September bunga ditahan di 5,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Artinya, dampak kenaikan itu akan merambat bertahap ke bunga bank. Secara umum, debitur dengan bunga mengambang lebih cepat merasakan pengaruhnya dibanding mereka yang masih berada dalam masa bunga tetap. Sementara itu, bunga deposito biasanya bereaksi lebih cepat ketimbang bunga kredit, mengikuti pola yang tampak pada data 2025.
BI-Rate itu kemudi, bukan tombol
BI-Rate lebih mirip kemudi kapal besar daripada tombol lampu. Memutarnya hari ini belum tentu terasa seketika, dan seberapa jauh kapal berbelok bergantung pada arus, bobot muatan, dan keputusan setiap bank. Memahami jeda dan lapisan ini membuat kita tak mudah terkejut ketika bunga bank tidak langsung berubah setelah pengumuman BI.
Artikel ini bersifat edukasi dan bukan nasihat keuangan atau rekomendasi produk.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab