Harga cabai bisa jatuh di bawah Rp10 ribu lalu meroket puluhan ribu. Ini penjelasan ekonominya, dari permintaan yang inelastis sampai rantai distribusi.
Pada pekan ketiga September 2026, harga rata-rata nasional cabai rawit mencapai Rp77.596 per kilogram. Menurut laporan Bisnis.com, angka itu naik hampir 30 persen dan jauh di atas Harga Acuan Penjualan sebesar Rp57.000. Padahal pada waktu lain, kajian tentang volatilitas harga cabai mencatat harga di tingkat petani bisa jatuh di bawah Rp10.000 per kilogram.
Dari murah sekali ke mahal sekali, dan terus berulang hampir tiap tahun. Mengapa cabai, bukan beras atau gula? Jawabannya jarang sesederhana "pedagang nakal". Ada logika ekonomi yang membuat cabai begitu mudah bergejolak.
Sambal yang sulit ditinggalkan
Ekonom punya istilah elastisitas permintaan, yaitu seberapa besar konsumen mengurangi pembelian ketika harga naik. Untuk barang yang sulit digantikan, permintaannya inelastis. Harga naik dua kali lipat pun, orang tak serta-merta memakan sambal setengahnya.
Inilah yang ditemukan dalam analisis di repositori IPB University tentang volatilitas harga bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit pada 2019 hingga 2021. Para peneliti menyebut permintaan komoditas tersebut tidak elastis, sehingga harganya cenderung volatil. Akibatnya, pasokan yang berkurang sedikit saja bisa mendorong harga naik jauh lebih besar.
Pasokan yang tak bisa disimpan dan tak bisa dikebut
Di sisi penawaran, cabai punya dua kelemahan sekaligus. Sebuah kajian tentang fluktuasi dan disparitas harga cabai di Indonesia menjelaskan bahwa cabai komoditas musiman. Harga naik ketika pasokan berkurang sementara permintaan berlebih, dan harga turun drastis ketika pasokan melimpah karena cabai mudah rusak sehingga tak bisa ditahan lama.
Faktor penyebabnya pun beragam. Sebuah penelitian di Jurnal Sains Pertanian menyimpulkan bahwa cuaca ekstrem, serangan hama dan penyakit, serta keterbatasan infrastruktur distribusi menjadi penyebab utama fluktuasi harga cabai merah keriting. Pada 2026, cuacalah yang berbicara. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut cuaca panas musim kemarau dan El Nino sebagai salah satu pemicu kenaikan harga cabai rawit.
Ada satu pola klasik dalam ekonomi pertanian yang membuat siklus ini sulit diputus. Petani menanam lebih banyak ketika harga sedang tinggi, lalu panen datang serentak berbulan-bulan kemudian, pasokan membanjir, dan harga jatuh. Petani yang rugi menanam lebih sedikit musim berikutnya, dan harga naik lagi.
Dari kebun ke dapur, harga terbelah dua
Harga yang dibayar konsumen jauh berbeda dari yang diterima petani. Kajian di atas mencatat selisih besar antara harga cabai di tingkat produsen dan konsumen, dan menyimpulkan bahwa volatilitas harga cabai merah dipengaruhi perbedaan biaya distribusi. Studi di Jurnal Agribisnis Indonesia (IPB University) tentang disparitas harga cabai rawit antarwilayah menyoroti sifat musiman produksi dan kendala logistik. Daerah konsumsi bergantung pada pasokan dari sentra, sehingga harganya mudah terguncang.
Contoh nyata muncul pada September 2026. Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro Atmojo, sebagaimana dikutip Bisnis.com, menyebut harga cabai rawit merah di tingkat petani per 21 September baru Rp55.000 per kilogram. Angka ini berbeda tanggal dan sumber dengan harga nasional tadi, tetapi cukup menunjukkan bahwa ada jarak antara kebun dan dapur. Penelitian di Mimbar Agribisnis menambahkan bahwa panjangnya saluran distribusi ikut memengaruhi fluktuasi harga cabai rawit merah. Tak heran pemerintah memilih jalur mengirim pasokan dari daerah surplus ke daerah defisit untuk meredamnya.
Satu komoditas, dampak nasional
Ada alasan cabai selalu muncul dalam laporan inflasi. Kajian volatilitas yang dikutip tadi menyebut cabai termasuk tiga besar komoditas penyebab inflasi menurut Bank Indonesia. Pada September 2026, menurut rincian BPS yang dikutip VOI, cabai rawit menyumbang 0,08 poin dan cabai merah 0,06 poin dari inflasi bulanan 0,30 persen. Artinya, dua jenis cabai saja menyumbang hampir separuh inflasi bulan itu.
Waktu juga berperan. Penelitian di Indonesian Journal of Agricultural, Resource and Environmental Economics mencatat kenaikan harga cabai pada Oktober hingga Desember karena permintaan melonjak menjelang akhir tahun sementara pasokan terbatas. Studi di Banyumas dalam Mimbar Agribisnis juga mengaitkan lonjakan harga dengan hari besar seperti Natal dan tahun baru, serta Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Para peneliti umumnya mengarah pada pengelolaan pasokan, bukan sekadar memantau harga. Kajian dinamika produksi dan volatilitas harga cabai yang dimuat di Neliti, misalnya, mengusulkan insentif bagi petani dan pengaturan pola tanam agar pasokan lebih merata sepanjang tahun sehingga lonjakan harga bisa diredam.
Jadi lain kali harga cabai viral di media sosial, ada tiga hal yang bisa dibayangkan. Permintaannya sulit dikurangi, pasokannya tak bisa disimpan dan dikebut, dan jalan dari kebun ke dapur ternyata panjang. Di balik semangkuk sambal ada ilmu ekonomi yang cukup rumit.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab