Belanja ke pasar bulan lalu terasa lebih berat, dan angka resmi membenarkannya. Pada Kamis (1/10/2026), BPS mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,30 persen secara bulanan dan 3,28 persen secara tahunan. Indeks harga konsumen naik dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026, sedangkan inflasi sepanjang tahun kalender tercatat 2,17 persen.
Angka tahunan itu lebih tinggi dibanding Agustus 2026 yang menurut analisis yang dikutip Liputan6 berada di 3,19 persen, dan juga di atas September 2025 yang menurut laporan VOI sebesar 2,65 persen. Inflasi masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 ± 1 persen, tetapi kini mendekati batas atasnya di 3,5 persen.
Dapur yang paling terasa
Menurut BPS, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan, dengan inflasi 0,88 persen dan andil 0,26 poin persentase. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, sebagaimana dikutip VOI, merinci komoditas yang paling dominan. Cabai rawit menyumbang 0,08 poin, cabai merah 0,06, daging ayam ras 0,05, beras 0,03, telur ayam ras 0,02, dan kangkung 0,01.
BPS juga mencatat komponen harga bergejolak mengalami inflasi 1,46 persen, sedangkan komponen inti hanya 0,10 persen. Dari 38 provinsi, 36 provinsi mengalami inflasi bulanan, dan Nusa Tenggara Timur mencatat deflasi terdalam sebesar 0,35 persen menurut laporan IDN Times. Secara tahunan, kenaikan harga pangan dan emas perhiasan menjadi pendorong utama.
Cabai, cuaca, dan rantai pasok
Cabai rawit menjadi bintang yang tak diinginkan bulan ini. Menurut laporan Bisnis.com, harga rata-rata nasional cabai rawit naik 29,85 persen menjadi Rp77.596 per kilogram pada pekan ketiga September, jauh di atas Harga Acuan Penjualan sebesar Rp57.000. Indeks Perkembangan Harga komoditas ini naik di 73,61 persen wilayah Indonesia.
Pengamat pertanian CORE Indonesia Eliza Mardian menilai kenaikan itu merupakan dampak kombinasi kemarau dan El Nino yang diperparah masalah struktural rantai pasok. Menteri Perdagangan Budi Santoso juga menyebut cuaca panas dan El Nino sebagai salah satu faktor, dengan rata-rata nasional sekitar Rp70 ribu per kilogram pada 22 September.
Angka harga memang bisa berbeda antarsumber. Dalam laporan yang sama, Indikator Bisnis menyandingkan data Kemendag, yang mencatat cabai rawit merah Rp74.435 per kilogram, dengan PIHPS Nasional milik Bank Indonesia yang mencatat Rp95.000. Karena itu, harga yang dirasakan konsumen bisa sangat berbeda antardaerah.








