Kerugian karhutla Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai Rp167 triliun. Dampaknya mencakup gangguan ekonomi, biaya kesehatan, dan produktivitas masyarakat.
RUNTUT.COM – Kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia diperkirakan mencapai Rp167 triliun hingga pertengahan Oktober 2026. Angka tersebut merupakan estimasi kajian ekonomi, bukan nilai kerugian resmi pemerintah.
Besarnya perkiraan itu menunjukkan bahwa dampak karhutla melampaui kerusakan hutan dan lahan, karena turut mengganggu kegiatan usaha, meningkatkan beban kesehatan, serta menekan produktivitas masyarakat.
Pakar ekonomi makro sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Teguh Yudo Wicaksono, menyampaikan estimasi tersebut pada Jumat (16/10/2026).
Perhitungannya mengacu pada metode yang digunakan dalam studi Bank Dunia. Nilai kerugian berpotensi meningkat menjadi Rp204 triliun apabila pola kebakaran pada sisa tahun ini menyerupai kejadian besar pada 2015 dan 2019.
Gambaran lain mengenai dampak karhutla muncul dalam kajian Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Lembaga tersebut memperkirakan biaya ekonomi dan kesehatan akibat karhutla sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun.
Perbedaan angka dengan estimasi Rp167 triliun berkaitan dengan cakupan periode dan komponen yang diperhitungkan sehingga kedua hasil kajian tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung.
Dalam kajian CELIOS, kerusakan aset fisik dan hilangnya aktivitas ekonomi diperkirakan menimbulkan kerugian Rp29,54 triliun. Dampaknya dapat dirasakan oleh pelaku usaha yang kegiatan operasionalnya terganggu akibat kebakaran dan kabut asap.
Pedagang kecil, misalnya, berisiko kehilangan pelanggan ketika masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Gangguan penerbangan dan transportasi juga dapat menghambat mobilitas penumpang serta distribusi barang.
Dampak kesehatan menjadi komponen penting dalam perhitungan tersebut. CELIOS memperkirakan biaya kesehatan mencapai Rp9,75 triliun untuk masyarakat yang terdiagnosis mengalami gangguan kesehatan terkait karhutla.
Jika masyarakat yang mengalami gejala, tetapi tidak menjalani pemeriksaan medis, turut diperhitungkan, nilainya dapat mencapai Rp93,56 triliun.
Dalam skenario kedua, jumlah masyarakat terdampak diperkirakan mencapai 17,4 juta orang. Angka tersebut merupakan hasil estimasi, bukan jumlah kasus terkonfirmasi seluruhnya.
Paparan kabut asap juga berpotensi mengganggu kegiatan belajar, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi rumah tangga. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dapat menghadapi biaya pengobatan tambahan sekaligus kehilangan pendapatan karena tidak dapat bekerja secara normal.
Beban tersebut lebih sulit ditanggung kelompok berpenghasilan rendah yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.
Di luar dampak domestik, kabut asap lintas batas dapat memengaruhi hubungan Indonesia dengan negara tetangga. Sementara itu, kerusakan hutan dan tingginya emisi berpotensi menambah tekanan terhadap komitmen lingkungan Indonesia dalam perdagangan internasional.
Besarnya estimasi kerugian tersebut memperlihatkan pentingnya pencegahan karhutla sebelum kebakaran meluas. Penguatan pengawasan wilayah rawan, kesiapan pemadaman, dan perlindungan kesehatan masyarakat perlu menjadi bagian dari upaya menekan dampak ekonomi.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab