Runtut.com

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 dibuka untuk menghargai inisiatif yang menggabungkan aksi iklim, kesetaraan gender, dan kepemimpinan perempuan.

3 menit baca
7
Solusi iklim
Gender Just Solution Awards 2026 resmi dibuka — WECF

Pendaftaran Gender Just Climate Solutions Awards 2026 resmi dibuka untuk mencari berbagai inisiatif dari seluruh dunia yang berhasil menghubungkan aksi iklim dengan pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, dan kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas. Penghargaan internasional tersebut diselenggarakan oleh Women and Gender Constituency (WGC), salah satu konstituen resmi dalam proses negosiasi iklim UNFCCC, sebagai bagian dari upaya mendorong solusi iklim yang tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga memperkuat keadilan sosial dan kesetaraan gender.

Penyelenggara mengumumkan pembukaan nominasi pada Juni 2026 menjelang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP31). Organisasi masyarakat sipil, kelompok perempuan, koperasi, komunitas adat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, hingga pelaku usaha sosial dari berbagai negara diundang untuk mengajukan program yang telah menunjukkan dampak nyata dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus memperkuat posisi perempuan sebagai pengambil keputusan.

Penghargaan ini lahir dari keyakinan bahwa perempuan bukan hanya kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, tetapi juga merupakan pelopor berbagai solusi di tingkat lokal. Di banyak negara, perempuan memimpin restorasi hutan, konservasi air, pertanian berkelanjutan, pengembangan energi terbarukan skala komunitas, pengelolaan sampah, hingga upaya adaptasi terhadap cuaca ekstrem. Namun, kontribusi tersebut masih sering luput dari perhatian dan belum memperoleh dukungan pendanaan yang memadai.

Dalam pengumuman resminya, penyelenggara menyatakan:

"Gender-just climate solutions are transforming lives by addressing the climate crisis while advancing gender equality."

Menurut Women and Gender Constituency, berbagai inisiatif yang dipimpin perempuan telah membuktikan bahwa aksi iklim akan lebih efektif apabila dirancang secara inklusif dan melibatkan masyarakat yang paling terdampak.

Tahun ini, penghargaan dibagi ke dalam beberapa kategori, antara lain solusi teknis, solusi nonteknis, serta proyek yang dikembangkan oleh organisasi akar rumput dan kelompok masyarakat adat. Para pemenang akan memperoleh hibah pendanaan, pendampingan, kesempatan memperluas jejaring internasional, serta diundang untuk mempresentasikan praktik baik mereka pada rangkaian kegiatan COP31.

Penyelenggara menjelaskan bahwa penilaian tidak hanya didasarkan pada inovasi teknologi, tetapi juga pada dampak sosial, keberlanjutan program, partisipasi masyarakat, dan sejauh mana perempuan terlibat dalam kepemimpinan maupun proses pengambilan keputusan.

Dalam panduan penghargaan disebutkan:

"Solutions must demonstrate measurable climate benefits while promoting women’s leadership, gender equality and community participation."

Artinya, setiap program harus mampu menunjukkan manfaat nyata bagi mitigasi atau adaptasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kepemimpinan perempuan dan partisipasi masyarakat.

Menurut Women and Gender Constituency, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pelibatan perempuan dalam tata kelola sumber daya alam menghasilkan kebijakan yang lebih inklusif dan lebih berkelanjutan. Karena itu, penghargaan ini juga bertujuan memperlihatkan bahwa kesetaraan gender bukan sekadar isu sosial, melainkan bagian penting dari strategi menghadapi krisis iklim.

Sejalan dengan itu, UN Women dalam berbagai publikasinya menegaskan bahwa perempuan dan anak perempuan merupakan kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim akibat ketimpangan akses terhadap sumber daya, pembiayaan, dan pengambilan keputusan. Namun, perempuan juga menjadi aktor utama dalam membangun ketahanan masyarakat melalui pengelolaan pangan, air, energi, dan perlindungan lingkungan.

UN Women menyatakan:

"Women and girls are disproportionately affected by the climate crisis and are also driving solutions, building resilience, and leading change."

Pernyataan tersebut menjadi dasar semakin kuatnya dorongan agar kepemimpinan perempuan memperoleh ruang yang lebih besar dalam kebijakan iklim global maupun di tingkat komunitas.

Selain memberikan penghargaan kepada para pemenang, Gender Just Climate Solutions Awards juga bertujuan membangun basis pengetahuan internasional mengenai praktik-praktik terbaik yang dapat direplikasi di berbagai negara. Seluruh inisiatif terpilih akan didokumentasikan sebagai contoh kebijakan dan program yang berhasil menghubungkan pengurangan emisi, adaptasi perubahan iklim, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta perlindungan hak-hak kelompok rentan.

Menjelang COP31, penyelenggara berharap semakin banyak organisasi perempuan, komunitas lokal, dan pemerintah daerah yang berpartisipasi. Mereka menilai bahwa penyelesaian krisis iklim tidak hanya membutuhkan inovasi teknologi dan investasi besar, tetapi juga kepemimpinan masyarakat yang inklusif, terutama perempuan yang selama ini berada di garis depan menghadapi dampak perubahan iklim.

Melalui Gender Just Climate Solutions Awards 2026, dunia diingatkan bahwa keberhasilan aksi iklim tidak hanya diukur dari penurunan emisi gas rumah kaca, tetapi juga dari kemampuan menciptakan keadilan, memperkuat hak-hak perempuan, dan memastikan komunitas lokal menjadi bagian utama dalam merancang masa depan yang lebih berkelanjutan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba
Iklim & Lingkungan

Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba

Riset terbaru mengungkap kepiting tapal kuda memiliki hubungan evolusi dengan laba-laba dan kalajengking melalui analisis data genetika.

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 minggu lalu
BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius
Iklim & Lingkungan

BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius

Periode kering dan penguatan El Nino turut memengaruhi kondisi suhu udara di sejumlah daerah Indonesia pada awal September 2026.

Rachmaddani Rizki Saputra· 10 September 2026
Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset
Iklim & Lingkungan

Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset

Karhutla Kalimantan kembali terjadi. Ilmuwan Bagus Muljadi dorong pemerintah menjadikan riset sebagai dasar kebijakan mitigasi bencana.

Rachmaddani Rizki Saputra· 21 Agustus 2026
 Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah
Iklim & Lingkungan

Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah

Kemeriahan HUT RI ke-81 di Monas menyisakan sampah dan menjadi bahan refleksi bagi masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga kebersihan di ruang publik.

Betriani · 18 Agustus 2026
​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion
Iklim & Lingkungan

​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion

Menguak sisi gelap industri fast fashion. Telusuri bagaimana rantai pasok serat viskose dan rayon memicu deforestasi serta konflik lahan di Indonesia.

Mila Nabilah· 13 Juli 2026
UN Women: Krisis Iklim Tak Bisa Diatasi Tanpa Kepemimpinan Perempuan
Iklim & Lingkungan

UN Women: Krisis Iklim Tak Bisa Diatasi Tanpa Kepemimpinan Perempuan

UN Women menegaskan perempuan masih minim terwakili dalam kebijakan iklim global, padahal kepemimpinan mereka penting bagi aksi iklim yang adil.

Mila Nabilah· 1 Juli 2026