Runtut.com

Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba

Riset terbaru mengungkap kepiting tapal kuda memiliki hubungan evolusi dengan laba-laba dan kalajengking melalui analisis data genetika.

3 menit baca
3
Runtut.com
Ilustrasi kepiting tapal kuda (Tachypleus gigas), hewan laut purba yang memiliki ciri unik berupa ekor panjang, darah biru, dan sistem pernapasan yang mirip dengan kelompok Arachnida. — Pexels.com/@Tyler Mascola

RUNTUT.COM — Kepiting tapal kuda (Tachypleus gigas) memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan laba-laba dan kalajengking dibandingkan dengan kepiting lain. Temuan tersebut diketahui melalui penelitian genetika yang menempatkan hewan laut bercangkang keras itu ke dalam kelompok Arachnida, kelompok yang selama ini dikenal sebagai tempat hidup laba-laba, kalajengking, tungau, dan kutu.

Kepiting tapal kuda merupakan hewan laut berbentuk menyerupai perisai dengan ekor panjang dan runcing. Meski memiliki nama kepiting, hewan ini tidak termasuk dalam kelompok krustasea seperti kepiting pada umumnya.

Berdasarkan catatan fosil, spesies ini telah ada sejak sekitar 450 juta tahun lalu dan mengalami perubahan bentuk yang relatif sedikit sepanjang perjalanan evolusinya.

Hubungan kepiting tapal kuda dengan kelompok Arachnida sebelumnya telah menjadi pembahasan di kalangan ilmuwan. Ahli biologi evolusi E. Ray Lankester pernah mengusulkan bahwa kepiting tapal kuda memiliki kedekatan dengan laba-laba dan kalajengking. Namun, keterbatasan teknologi penelitian pada masa itu membuat kesimpulan tersebut belum dapat dipastikan melalui analisis molekuler.

Penelitian yang dilakukan oleh Jesús Ballesteros dan Prashant Sharma dari University of Wisconsin-Madison kemudian menganalisis data genetik kepiting tapal kuda untuk menentukan posisi hewan tersebut dalam pohon evolusi Arachnida.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Systematic Biology menunjukkan bahwa kepiting tapal kuda merupakan bagian dari kelompok tersebut.

“Dengan menunjukkan bahwa kepiting tapal kuda adalah bagian dari radiasi Arachnida, dan bukan garis keturunan yang terkait erat tetapi independen dari Arachnida, semua hipotesis sebelumnya tentang evolusi Arachnida perlu direvisi,” ujar Jesús Ballesteros, dikutip dari Science Daily.

Salah satu alasan kepiting tapal kuda memiliki kedekatan dengan laba-laba terlihat dari struktur tubuhnya. Keduanya sama-sama memiliki delapan kaki utama untuk bergerak.

Kepiting tapal kuda juga memiliki anggota tubuh tambahan yang berfungsi membantu aktivitasnya, meski bentuknya berbeda dengan capit pada kepiting biasa.

Selain jumlah kaki, kesamaan lain terlihat pada sistem pernapasan. Kepiting tapal kuda menjadi salah satu hewan laut yang menggunakan insang buku untuk mengambil oksigen dari air. Struktur tersebut memiliki kemiripan dengan paru-paru buku yang digunakan oleh beberapa hewan Arachnida seperti laba-laba dan kalajengking.

Keunikan lain dari kepiting tapal kuda adalah warna darahnya yang biru. Warna tersebut berasal dari kandungan hemocyanin, yaitu senyawa yang mengandung tembaga dan berfungsi membawa oksigen dalam tubuh. Hal ini berbeda dengan manusia dan banyak hewan lain yang menggunakan hemoglobin berbasis zat besi.

Meski hubungan evolusinya semakin jelas, para ilmuwan masih menghadapi pertanyaan mengenai bagaimana kepiting tapal kuda dapat bertahan hidup di laut, sementara sebagian besar kerabatnya dalam kelompok Arachnida hidup di daratan.

Peneliti menduga terdapat dua kemungkinan, yakni nenek moyang Arachnida berasal dari lingkungan air lalu sebagian kelompok beradaptasi ke daratan, atau kelompok darat tertentu kembali berevolusi menuju habitat laut.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan evolusi makhluk hidup berlangsung melalui proses panjang dan kompleks. Perbedaan bentuk fisik tidak selalu menunjukkan hubungan kekerabatan yang sebenarnya, karena informasi genetika dapat mengungkap hubungan antarspesies yang sebelumnya sulit diketahui.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius
Iklim & Lingkungan

BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius

Periode kering dan penguatan El Nino turut memengaruhi kondisi suhu udara di sejumlah daerah Indonesia pada awal September 2026.

Rachmaddani Rizki Saputra· 10 September 2026
Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset
Iklim & Lingkungan

Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset

Karhutla Kalimantan kembali terjadi. Ilmuwan Bagus Muljadi dorong pemerintah menjadikan riset sebagai dasar kebijakan mitigasi bencana.

Rachmaddani Rizki Saputra· 21 Agustus 2026
 Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah
Iklim & Lingkungan

Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah

Kemeriahan HUT RI ke-81 di Monas menyisakan sampah dan menjadi bahan refleksi bagi masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga kebersihan di ruang publik.

Betriani · 18 Agustus 2026
​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion
Iklim & Lingkungan

​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion

Menguak sisi gelap industri fast fashion. Telusuri bagaimana rantai pasok serat viskose dan rayon memicu deforestasi serta konflik lahan di Indonesia.

Mila Nabilah· 13 Juli 2026
Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim
Iklim & Lingkungan

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 dibuka untuk menghargai inisiatif yang menggabungkan aksi iklim, kesetaraan gender, dan kepemimpinan perempuan.

Mila Nabilah· 1 Juli 2026
UN Women: Krisis Iklim Tak Bisa Diatasi Tanpa Kepemimpinan Perempuan
Iklim & Lingkungan

UN Women: Krisis Iklim Tak Bisa Diatasi Tanpa Kepemimpinan Perempuan

UN Women menegaskan perempuan masih minim terwakili dalam kebijakan iklim global, padahal kepemimpinan mereka penting bagi aksi iklim yang adil.

Mila Nabilah· 1 Juli 2026