Runtut.com

Hujan Hampir 48 Jam Picu Banjir di Bangkok, 50 Distrik Masuk Zona Bencana

Hujan deras selama hampir dua hari membuat Bangkok dilanda banjir. Pemerintah menetapkan seluruh distrik sebagai zona bencana.

3 menit baca
8
Runtut.com
Sejumlah kendaraan melintasi jalan yang tergenang air setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Bangkok. — Getty Images/@Lillian Suwanrumpha

THAILAND - Hujan deras yang berlangsung hampir 48 jam menyebabkan seluruh 50 distrik di Bangkok, Thailand, ditetapkan sebagai zona bencana banjir. Genangan air mengganggu aktivitas warga, perjalanan transportasi, hingga membuat pemerintah setempat mengambil sejumlah langkah darurat untuk mengendalikan dampak cuaca ekstrem tersebut.

Banjir terjadi setelah wilayah Bangkok dan sekitarnya diguyur hujan dengan intensitas tinggi sejak akhir pekan. Pemerintah Metropolitan Bangkok (BMA) menetapkan status bencana pada Sabtu (26/9/2026) untuk mempercepat koordinasi penanganan bersama berbagai instansi terkait. Sekolah diliburkan dan pegawai pemerintah diimbau bekerja dari rumah sebagai upaya mengurangi kepadatan lalu lintas di wilayah terdampak.

Departemen Meteorologi Thailand menjelaskan, kondisi cuaca buruk dipengaruhi sistem tekanan rendah yang kuat di wilayah Dataran Tengah bagian bawah, Bangkok, serta provinsi sekitarnya. Selain itu, penguatan angin muson barat daya di atas Laut Andaman, wilayah selatan Thailand, dan Teluk Thailand turut meningkatkan potensi hujan lebat.

Curah hujan yang terjadi tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode sebelumnya. Departemen Drainase dan Saluran Pembuangan BMA mencatat Bangkok menerima curah hujan sebesar 487 milimeter sepanjang 1–25 September 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata 269 milimeter pada periode yang sama selama rentang 1991–2020.

Wilayah timur Bangkok menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling besar. Selain ibu kota Thailand, wilayah Rangsit di Provinsi Pathum Thani juga menetapkan status darurat akibat hujan yang masih berlangsung hingga Sabtu malam. Pemerintah setempat mengirimkan peringatan melalui layanan cell broadcast setelah ketinggian air di sejumlah kanal mencapai tingkat kritis.

Upaya pengendalian banjir dilakukan dengan mengoperasikan stasiun pompa kota secara maksimal. Menjelang Sabtu siang, ketinggian air mulai stabil setelah pompa mengalirkan air dengan kapasitas gabungan sekitar 1.200 meter kubik per detik. Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt menyebut, apabila hujan berhenti, proses surutnya banjir diperkirakan membutuhkan waktu dua hingga tiga hari.

Pemerintah Thailand juga meningkatkan pemantauan di wilayah hulu Sungai Chao Phraya. Pelepasan air dari Bendungan Chao Phraya di Provinsi Chai Nat dinaikkan secara bertahap dari 1.850 meter kubik per detik menjadi 1.950 meter kubik per detik. Warga yang tinggal di kawasan dataran rendah sekitar sungai diminta mengikuti informasi resmi terkait perubahan kondisi air.

Banjir dengan tingkat keparahan berbeda juga dilaporkan terjadi di sejumlah provinsi lain, seperti Nakhon Ratchasima, Chon Buri, Ayutthaya, Chai Nat, dan Phitsanulok.

Sementara itu, kondisi warga negara Indonesia (WNI) di Bangkok terpantau aman. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok menerima satu laporan WNI yang sempat terjebak di hotel karena akses jalan di sekitar lokasi tergenang banjir. KBRI memastikan warga tersebut dalam kondisi aman.

KBRI Bangkok mengimbau WNI untuk menghindari wilayah terdampak, memeriksa kondisi jalan sebelum bepergian, tidak memaksakan kendaraan melewati genangan, serta menyiapkan kebutuhan darurat. Hingga Minggu (27/9/2026), belum terdapat laporan tambahan terkait WNI lain yang terdampak banjir.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Jembatan China–Korea Utara Resmi Dibuka Setelah Mangkrak 12 TahunBreaking
Internasional

Jembatan China–Korea Utara Resmi Dibuka Setelah Mangkrak 12 Tahun

Jembatan China–Korea Utara resmi beroperasi setelah tertunda 12 tahun. Infrastruktur ini membuka peluang peningkatan perdagangan dan konektivitas kedua negara.

Rachmaddani Rizki Saputra· 8 jam lalu
Ribuan Mahasiswa Albania Turun ke Jalan, Desak Perdana Menteri Mundur
Internasional

Ribuan Mahasiswa Albania Turun ke Jalan, Desak Perdana Menteri Mundur

Gelombang protes mahasiswa di Albania makin memanas menuntut PM Edi Rama mundur. Unjuk rasa meluas ke berbagai kota diiringi isu korupsi dan sengketa lahan.

Mila Nabilah· 19 jam lalu
Pilot Laporkan Penumpukan Es Sebelum Pesawat Piper PA-46 Jatuh di Wisconsin
Internasional

Pilot Laporkan Penumpukan Es Sebelum Pesawat Piper PA-46 Jatuh di Wisconsin

Pesawat Piper PA-46 Malibu jatuh di Wisconsin dan menewaskan enam orang. Pilot sempat melaporkan penumpukan es sebelum kehilangan kontak.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 hari lalu
Mirwan Suwarso Ingin Ubah Como 1907 Layaknya Disney, Sepak Bola Bukan Satu-satunya Bisnis
Internasional

Mirwan Suwarso Ingin Ubah Como 1907 Layaknya Disney, Sepak Bola Bukan Satu-satunya Bisnis

Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso ingin mengembangkan klub dengan model bisnis ala Disney, memadukan sepak bola, fashion, merchandise, media, dan pariwisata.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu
Eksplorasi Minyak, Gas, dan Mineral Berskala Besar Akan Dimulai di Greenland
Internasional

Eksplorasi Minyak, Gas, dan Mineral Berskala Besar Akan Dimulai di Greenland

Presiden AS, Donald Trump mengumumkan pada Rabu (14/10/206), akan melakukan eksplorasi berskala besar atas minyak, gas, dan mineral di Greenland.

Andini Putri Lestari· 3 hari lalu
Calvin Verdonk Ukir Sejarah, Jadi WNI Pertama yang Tampil di Liga Champions Eropa
Internasional

Calvin Verdonk Ukir Sejarah, Jadi WNI Pertama yang Tampil di Liga Champions Eropa

Calvin Verdonk mencatat sejarah sebagai pemain berstatus WNI pertama yang tampil di Liga Champions saat Lille menghadapi Arsenal di Emirates Stadium.

Ferdian Trikusuma· 4 hari lalu