AMERIKA SERIKAT - Amerika Serikat (AS) dan China membahas pembentukan mekanisme komunikasi khusus untuk memperingatkan kedua negara apabila terjadi insiden kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi berkembang menjadi ancaman keamanan nasional.
Pembahasan tersebut dilakukan menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada 24 September 2026.
Usulan mekanisme tersebut disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent setelah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York pada 20 September 2026. Pertemuan itu menjadi bagian dari rangkaian dialog persiapan menjelang pertemuan tingkat tinggi kedua pemimpin negara.
Bessent menjelaskan, kedua pihak membahas kemungkinan membangun forum dialog baru mengenai AI, termasuk sistem notifikasi bersama apabila muncul kejadian terkait AI yang dinilai memiliki dampak terhadap keamanan nasional.
Mekanisme tersebut diharapkan menjadi jalur komunikasi agar kedua negara dapat bertukar informasi mengenai risiko teknologi yang berkembang cepat.
“Kami berpikir bahwa, seperti aktivitas lintas batas lainnya, perpindahan dari kondisi yang tidak transparan menuju transparansi yang lebih besar antara kekuatan AI nomor satu dan nomor dua di dunia sangat penting,” ujar Bessent, dikutip dari The Straits Times, Senin (21/9/2026).
Laporan Intelijen Buatan AI Nyaris Seret AS-China ke Konflik Bersenjata21 September 2026 pukul 14.38Pembahasan mengenai kerja sama AI antara Washington dan Beijing sebelumnya telah muncul saat Trump dan Xi bertemu di Beijing pada Mei 2026. Namun, hingga kini forum khusus terkait AI tersebut belum resmi dibentuk.
George Chen, partner sekaligus ketua praktik digital di konsultan The Asia Group, menyebut dialog antara kedua negara masih membutuhkan proses panjang.
Menurutnya, keberlanjutan pembahasan menjadi langkah awal untuk membicarakan isu yang lebih kompleks, seperti penggunaan AI dalam bidang militer, prinsip keselamatan teknologi, perlindungan infrastruktur penting, serta pencegahan serangan siber.
Di sisi lain, upaya membangun kerja sama AI menghadapi tantangan akibat ketegangan hubungan AS-China. Beijing sebelumnya menilai sejumlah kebijakan Washington terkait pembatasan teknologi sebagai langkah yang dapat menghambat perkembangan industri AI China.
Anggota DPR AS Ro Khanna juga mendorong agar pembahasan keselamatan AI menghasilkan prinsip internasional yang lebih luas. Ia mengusulkan pembatasan terhadap teknologi AI yang mampu meningkatkan kemampuannya sendiri secara berulang serta pencegahan penyalahgunaan AI untuk mendukung pengembangan senjata biologis dan nuklir.
Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan isu pembatasan ekspor cip AI canggih dan peralatan manufaktur semikonduktor tidak termasuk dalam agenda mekanisme dialog AI tersebut.
Selain membahas teknologi, pertemuan Bessent dan He turut membicarakan hubungan perdagangan kedua negara. Kedua pihak membahas rencana pengoperasian proses yang disepakati sebelumnya untuk mengidentifikasi kemungkinan pengurangan tarif terhadap sejumlah barang yang tidak termasuk kategori strategis.
AS menyebut beberapa produk konsumen dan barang berteknologi rendah dari China berpotensi masuk dalam pembahasan perdagangan, sementara Washington dapat memasok energi, produk pertanian, serta perangkat medis.
Namun, sejumlah persoalan perdagangan yang sebelumnya dibahas antara Trump dan Xi, seperti komitmen pembelian produk pertanian AS serta pasokan mineral kritis, belum mendapatkan perkembangan terbaru.
Pembahasan AI menjadi salah satu isu strategis dalam hubungan AS-China di tengah persaingan teknologi global. Kedua negara kini menghadapi tantangan untuk menjaga perkembangan AI tetap berjalan, sekaligus memastikan teknologi tersebut tidak meningkatkan risiko keamanan internasional.








